Refleksi : Kerbau juga ngorok? http://regional.kompas.com/read/2010/03/18/08053679/12.Sapi.Mendadak.Ngorok.lalu.Mati
12 Sapi Mendadak Ngorok lalu Mati Kamis, 18 Maret 2010 | 08:05 WIB SERAMBI INDONESIA/ABDULLAH GANI ilustrasi BENGKULU, KOMPAS.com - Sekitar 12 ekor sapi warga di Kabupaten Bengkulu Selatan dan kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu, mati mendadak akibat terserang penyakit ngorok (Septicemia Efizotica). Awalnya penyakit itu menyerang ternak warga di Kabupaten Bengkulu Selatan, kemudian menyebar sampai ke wilayah Kabupaten Kaur, kata warga Padang Guci, Saftiur, Kamis (18/3/2010). "Sebelumnya kami mendapat informasi, penyakit ngorok itu menyerang ternak sapi/kerbau warga di Kecamatan Pino Raya Bengkulu Selatan, selang beberapa hari sapi milik kami mati mendadak dengan mengeluarkan busa dan ngorok," katanya. Warga di Kabupaten Kaur saat ini merasa cemas setelah serangan penyakit ngorok itu sudah masuk kebupaten pemekaran Bengkulu Selatan tersebut, karena daerah ini merupakan salah satu peternak sapi terbesar. Beternak sapi dan kerbau bagi warga Kaur sudah menjadi warisan nenek moyang, bedanya dengan sekarang ada bantuan pemerintah jenis sapi Bali dan ternyata perkembangannya cukup pesat, ujar Saftiur yang mengaku memiliki sekitar 30 sapi. Wakil Bupati Kaur Suarni Mahidin ketika dikonfirmasi mengakui, penyakit ngorok itu sudah masuk ke wilayah Kaur dan bahkan ada beberapa sapi warga sudah mati. Pemkab Kaur melalui dinas terkait akan mengantisipasi penyebaran penyakit ngorok tersebut, dengan membagikan vaksin dan obat-obatan secara gratis kepada masyarakat peternak. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu Ir Irianto Abdullah ketika dihubungi mengatakan, instansinya hanya memberikan vaksinasi massal dan pengobatan kepada masyarakat. Pemberian vaksin itu sudah dilakukan melalui Dinas Peternakan di masing-masing kabupaten yakni Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. [Non-text portions of this message have been removed]
