http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=132636

[ Sabtu, 08 Mei 2010 ] 

SBY Rangkul Ical Pimpin Setgab Partai Anggota Koalisi 
Konsolidasi Parpol Pendukung Pemerintah 


JAKARTA - Aburizal Bakrie alias Ical, ketua umum Partai Golkar, kembali 
mendapat kepercayaan dari Presiden SBY. Mantan Menkokesra itu dipercaya sebagai 
ketua harian setgab (sekretariat gabungan) partai anggota koalisi. SBY menjabat 
sebagai ketua, sedangkan sekretaris setgab dijabat Wasekjen Demokrat Syarif 
Hasan.

Setgab tersebut dibentuk untuk mengendalikan para anggota koalisi agar kasus 
pecahnya suara seperti dalam kasus Century tidak terulang. Saat itu Demokrat 
hanya didukung PAN dan PKB. Golkar, PKS, dan PPP memilih berseberangan dengan 
pemerintah. 

Selama ini, urusan koalisi sering ditangani Hatta Rajasa. Seperti saat Pansus 
Century, pertemuan dilangsungkan di kediaman Hatta. Namun, dalam Setgab Hatta 
''tersingkir''. 

''Sudah (pembentukan Setgab) diputuskan dalam pertemuan Kamis malam lalu,'' 
kata Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum di Jakarta kemarin (7/5). Anas 
menjelaskan, dalam setgab akan dibahas dan disepakati isu-isu berikut agenda 
strategis yang akan dilaksanakan bersama seluruh partai koalisi.

''Ini preseden pertama dan inisiatif politik yang cerdas dari SBY. Ini adalah 
sejarah awal berkoalisi yang terlembaga di Indonesia,'' ungkap Anas. Dia 
menyampaikan, partai-partai bersepakat untuk membina koalisi komprehensif, baik 
di pemerintah maupun parlemen. ''Tentu tanpa kehilangan identitas dan 
eksistensi politik masing-masing,'' kata Anas.

Benarkah Hatta Rajasa dianggap gagal sehingga tanggung jawab koordinasi yang 
tecermin dari posisi ketua harian setgab diberikan kepada Ical? ''Bukan. 
Tetapi, karena Aburizal Bakrie adalah ketua umum partai kedua terbesar,'' ujar 
Anas.

Sekjen DPP Partai Demokrat Amir Syamsudin menambahkan, pembentukan setgab itu 
adalah hasil evaluasi terhadap kondisi koalisi sebelumnya. Terutama, kesan 
ketidakkompakan antaranggota koalisi saat menghadapi kasus Bank Century 
beberapa waktu lalu. "Perbaikan model komunikasi kuncinya, dulu koalisi rapuh 
karena komunikasi tidak jalan," katanya. 

Dia mengungkapkan, nanti setiap ada isu yang berpotensi mengancam koalisi, 
setgab akan menggodoknya sebelum disampaikan ke publik. "Dengan begitu, koalisi 
akan solid dan kuat," tuturnya. 

Menyangkut posisi Golkar yang masuk menjadi salah satu inti koalisi, Amir 
menyatakan bahwa hal itu wajar karena Demokrat dan Golkar termasuk partai 
tengah. "Tidak akan ada masalah, semua sudah dibahas bersama secara intens," 
ungkapnya. 

Terpilihnya Ical tetap bisa dibilang mengejutkan. Sebab, muncul kesan hubungan 
konglomerat tersebut dengan SBY merenggang. Beberapa waktu lalu, pemerintah 
menyorot beberapa perusahaan raksasa yang bermasalah dengan pajak. Sejumlah 
media pun mengait-ngaitkan dengan bisnis taipan pemilik Bakrie Group itu. 

Kerenggangan hubungan pemerintah dan Ical juga tergambar dari sikap Golkar yang 
berseberangan dengan pemerintah dalam kasus Century. Selain itu, Ical sering 
terkesan berseberangan dengan Sri Mulyani, Menkeu yang akan menjadi bos Bank 
Dunia. Kini Sri Mulyani akan meninggalkan kabinet, sedangkan Ical akan memimpin 
secara harian setgab koalisi. (pri/dy

++++
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=132848


[ Minggu, 09 Mei 2010 ] 


Politisi Golkar Cerdas, Menteri PKS Terancam Reshuffle 


Pengamat politik Burhanudin Muhtadi mengatakan, penetapan Ical sebagai 
"komandan" koalisi yang menggantikan Hatta Rajasa menunjukkan semakin naiknya 
posisi tawar Golkar di mata koalisi. "Ini lagi-lagi kemenangan Golkar. 
Menunjukkan betapa cerdasnya politisi Golkar dan betapa lugunya politisi dari 
partai lain," kata Burhan -sapaan Burhanudin Muhtadi- lantas tertawa.

Menurut dia, perkembangan tersebut akan segera diikuti dengan banyaknya 
insentif politik yang dinikmati Golkar. Salah satunya ialah penambahan jumlah 
kursi menteri. Saat ini Golkar hanya memperoleh jatah tiga menteri. "Mitra 
koalisi yang nakal berpotensi terancam reshuffle, misalnya, PKS," kata Burhan.

Burhan berpandangan, kemungkinan pemangkasan Golkar dari koalisi memang cukup 
kecil. Secara matematika politik, Golkar menguasai 19 persen kursi DPR atau 
nomor dua terbesar di parlemen. Pada enam bulan pertama pemerintahan SBY tanpa 
dukungan Golkar, lanjut Burhan, terbukti banyak huru-hara politik. "Dengan 
dukungan Golkar, ini akan mengintimidasi partai-partai politik kecil menengah 
lain. Golkar 19 persen dan Demokrat 26 persen, sudah 45 persen. Tinggal satu 
fraksi lain untuk menjadi single majority (mayoritas tunggal)," terang Burhan.

Demokrat pun, imbuh Burhan, merasakan banyak keuntungan karena merangkul 
Golkar. Elite Golkar, misalnya, sudah menyatakan secara politis tidak akan 
melanjutkan hak menyatakan pendapat. "Namun, rujuk politik ada ongkosnya. Pasti 
ada mitra koalisi yang sedang waswas. Mungkin tidurnya kurang nyenyak, soalnya 
kalau ada reshuffle, dia akan ikut," katanya.

Dalam hal ini, PKS yang kini memperoleh empat kursi menteri paling potensial 
untuk direshuffle. "Mereka paling banyak mendapat jatah, tapi dinilai tidak 
menunjukkan loyalitas," ujar Burhan. Bila PKS jadi di-reshuffle, jatah kursi 
mungkin bakal didistribusikan ke PKB dan PAN yang mati-matian mendukung 
Demokrat dengan opsi A. Termasuk, Golkar yang mendapat bagian terbesar. "SBY 
sendiri tentu tidak memberikan gratisan insentif tadi. Tapi, akan mengajukan 
kontrak ulang yang lebih mengikat," tandas Burhan. (

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke