http://www.gatra.com/artikel.php?id=145389

Negara Kebohongan


Negara ini tak bisa dipimpin oleh kebohongan. Sekali kita menggunakan 
kebohongan sebagai cara meraih dan mempertahankan kekuasaan, manipulasi dan 
destruksi menjadi tak terelakkan sebagai praktek memimpin. Hasil akhir tindak 
kebohongan ini adalah pengabaian rakyat dan ketidakpercayaan secara 
berkelanjutan.

Kasus Gayus Tambunan memperlihatkan secara terang benderang bahwa darah dan 
tulang negara ini tidak lagi merah dan putih, melainkan hitam di sekujur 
tubuhnya. Kita tidak tahu lagi pihak mana yang bisa dipercaya, karena seluruh 
rangkaian kasus ini dan usaha penanganannya penuh dengan rekayasa kebohongan.

Dengan kebohongan dan korupsi sebagai pilar utama negara, setiap usaha 
memperjuangkan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel seperti 
menegakkan benang basah. Kehidupan publik tidak memiliki landasan untuk bisa 
saling percaya. Tiap warga berlomba mengkhianati negara dan sesamanya; rasa 
saling percaya lenyap karena sumpah dan keimanan disalahgunakan; hukum dan 
institusi lumpuh tidak mampu meredam penyalahgunaan kekuasaan.

Krisis multidimensi membayangi kehidupan negeri. Sejak 1952, Soekarno telah 
mengingatkan tentang lima macam krisis yang bisa mematikan perkembangan 
demokrasi. Pertama, krisis politik, yang membuat banyak orang tidak percaya 
lagi kepada demokrasi. Kedua, krisis alat-alat kekuasaan negara. Ketiga, krisis 
cara berpikir dan cara meninjau. Keempat, krisis moral. Kelima, krisis gejag 
(kewibawaan otoritas).

Kelima macam krisis itu seakan berdaur ulang memaguti kehidupan negeri. 
Bertahun-tahun pemerintahan demokratis diperjuangkan dengan keringat dan darah. 
Namun, ketika kesempatan itu diraih, politik tak berkhidmat bagi kepentingan 
orang banyak; aparatur negara gagal menegakkan hukum dan ketertiban; politisi 
dan pejabat negara miskin visi dan wawasan; perilaku politik dan birokrasi 
tercerabut dari moralitas seperti terpisahnya air dengan minyak; adapun 
orang-orang yang menggenggam otoritas justru berlomba menghancurkan gejag.

Mengenai musabab krisis, Soekarno mengingatkan untuk tidak begitu mudah 
mengalamatkan semua itu pada kehidupan perekonomian yang belum beres. "Lihatlah 
pada waktu pendudukan Jepang. Adakah satu waktu di dalam sejarah kita 
belakangan ini yang perekonomian kita lebih kocar-kacir, lebih morat-marit, 
lebih berantakan daripada di zaman pendudukan Jepang itu?"

Lagi pula, perekonomian para pejabat negara sekarang ini tidak bisa dikatakan 
serba-kekurangan. Tidak ada alasan untuk terus mengeluh. Bukankah gaji dan 
aneka tunjangan terus dilambungkan tanpa rasa malu di sela-sela memburuknya 
perekonomian rakyat?

Alhasil, pokok masalahnya bukanlah kekurangan, melainkan tidak dikuasainya 
bahasa terpenting pejabat publik, yakni "amanah". Tanpa sifat amanah, pejabat 
negara didominasi oleh para pemimpin yang munafik: apabila berkata, mereka 
berdusta; apabila berjanji, mereka ingkar; dan apabila dipercaya, mereka 
berkhianat.

Usaha pemulihan krisis negara ini harus menyentuh simpul terlemah, yang menjadi 
pangkal kemerosotan sekaligus kunci pertobatan. Mengikuti resep pemulihan Nabi 
Muhammad, dalam jalan pertobatan hal-hal negatif masih bisa dimaafkan sejauh 
tidak melakukan "kebohongan". Celakanya, pada titik inilah jantung krisis 
kenegaraan kita bermula.

Di negara ini, kebohongan koruptif bukan saja telah menjelma menjadi kategori 
moral tersendiri, melainkan juga menjadi pilar utama negara. Kebohongan itu 
kini memperoleh mantelnya dalam mistik proseduralisme yang mengabaikan esensi. 
Dalam meloloskan berbagai undang-undang yang mengabaikan nalar publik, dalam 
absurditas pengucuran dana kepada Bank Century, dan dalam pembiaran terhadap 
para penjarah keuangan negara, otoritas terkait kerap menutupi kebohongannya 
dengan dalih yang sama, "sudah sesuai dengan prosedur".

Kini, para pejabat negara sedang beradu siasat untuk menyempurnakan negeri ini 
menjadi negeri kebohongan. "Korupsi setiap pemerintahan," kata Montesquieu, 
"selalu dimulai dengan korupsi terhadap prinsip dan aturan permainan." 
Kebohongan memperoleh akarnya pertama kali justru ketika aturan bisa dikorup 
setiap saat demi pragmatika politik.

Keterbukaan pemerintahan tidak cukup dengan keterbukaan proseduralisme. Kita 
memerlukan proses penyingkapan yang lebih dalam, dalam kemampuan untuk 
menjangkarkan kepentingan pada nilai. Bahwa kekuasaan manusia adalah amanah 
Tuhan yang harus diemban secara bertanggung jawab, bukan saja melalui 
akuntabilitas prosedural, melainkan juga akuntabilitas di hadapan Tuhan. 
Kalaupun pejabat bisa membohongi rakyat lewat selubung prosedur, mereka tidak 
akan bisa lolos dari pengawasan Yang Maha Menyaksikan.

Saatnya semua kalangan berdiri melawan kebohongan. Kebenaran segera datang dan 
kebohongan akan sirna, dan sesungguhnya kebohongan itu pasti akan binasa!

Yudi Latif
Cendekiawan muslim
[Perspektif, Gatra Nomor 12 Beredar Kamis, 27 Januari 2011]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke