Istana Dekati Megawati
Kamis, 03 Maret 2011 | 07:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta 
Rajasa kembali mengunjungi kediaman Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar 27, Jakarta Pusat, Selasa 
1 Maret 2011 kemarin.

"Ya..., kira-kira satu setengah jam, dari jam lima (17.00 WIB) sampai setengah 
tujuh (18.30)," ujar Hatta di kantornya kemarin.

Hatta mengatakan pertemuan dengan dua petinggi PDIP itu hanya silaturahmi 
biasa. "Bicara dengan Pak Taufiq Kiemas dan Mbak Puan (Maharani). Bicara 
macam-macamlah, pokoknya dari A sampai Z," katanya. Dia membantah disebut telah 
diutus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menemui Megawati, berkaitan 
dengan rencana menarik PDIP ke koalisi.

Bukan sekali ini saja Hatta berkunjung ke rumah Megawati. Pada 6 dan 11 Mei 
2009, ketika menjabat Menteri-Sekretaris Negara, dia juga pernah menyambangi 
rumah Megawati. Dalam dua kunjungan itu, Hatta mengakui melakukan komunikasi 
politik dengan Megawati.

Namun, kemarin, Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini tak berhasil bertemu 
dengan Megawati. Dia hanya ditemui Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq 
Kiemas dan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Bidang Politik PDIP Puan Maharani. Saat 
Hatta berkunjung, Megawati sedang makan malam di sebuah rumah makan di kawasan 
Mega Kuningan, Jakarta Selatan, ditemani Puan dan Sekretaris Jenderal PDIP 
Tjahjo Kumolo.

"Semalam saya sama Ibu Mega mulai pukul 19.00 sampai 22.00 WIB makan malam di 
luar kediaman Teuku Umar," kata Tjahjo. Namun Tjahjo tak menjelaskan kapan Puan 
meninggalkan rumah makan untuk menemui Hatta.

Tjahjo membantah anggapan bahwa Megawati sengaja menghindari Hatta. Menurut 
dia, semalam dia memang sudah ada janji bertemu dengan Megawati untuk makan 
malam. "Saya sejak pukul 18.30 WIB sudah di rumah makan, menunggu Ibu Mega," 
kata dia. Namun sumber Tempo menyebutkan, Megawati sebelum pergi sudah tahu 
bakal ada kunjungan Hatta.

Menurut Sekretaris Sekretariat Gabungan Partai Koalisi Syarif Hasan, kedatangan 
Hatta ke rumah Megawati adalah bagian dari upaya koalisi menjalin komunikasi 
dengan semua pimpinan partai. "Kami berkomunikasi dengan Gerindra dan PDIP," 
kata Syarif di depan gedung Nusantara III DPR, Senayan, Jakarta.

Adapun Ketua Departemen Ekonomi, Keuangan, dan Industri Partai Demokrat, Sutan 
Bhatoegana, mengakui Demokrat memang sering mengadakan pertemuan dengan PDIP. 
"SBY kan dekat dengan Mega," ujar Sutan melalui sambungan telepon kemarin.

Pertemuan itu, kata dia, merupakan ajang bertukar pikiran dan upaya memperkuat 
agenda Pemilu 2014. Menurut dia, Demokrat sangat terbuka terhadap partai mana 
pun.


http://indonesiaupdates.blogspot.com/
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://chinese-clubs.blogspot.com/
http://export-import-indonesia.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com


l MUNAWWAROH | IRA GUSLINA | AMIRULLAH | ADITYA BUDIMAN | SAPTO



Demokrat: Kita Bukan Provokator
Penulis: Caroline Damanik | Editor: Tri Wahono
Rabu, 2 Maret 2011 | 21:25 WIB
 KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Simpatisan Partai Demokrat memegang bendera 
partai.
1

TERKAIT:
  a.. PKS Beberkan "Behind the Scene" Koalisi
  b.. Inilah Masalah Koalisi versi PKS
  c.. PKS: Cerai Cuma Isu Saja

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekjen PKS Anis Matta menuding elite Partai Demokrat 
memprovokasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sehingga isu evaluasi koalisi 
makin memanas. Ketua DPP Demokrat Saan Mustofa menolak mentah-mentah pernyataan 
itu. Menurut Saan, SBY bukanlah pribadi yang mudah diprovokasi.

"Kita bukan provokator. Lagi pula, tidak ada istilah provokasi. Karena Pak SBY 
itu bukan orang yang mudah diprovokasi. Beliau rasional, obyektif, dan penuh 
pertimbangan dalam mengambil sikap," ungkapnya di Gedung DPR RI, Rabu 
(2/3/2011).

Saan juga membantah kekecewaan PKS terhadap pola komunikasi yang dijalankan di 
Sekretariat Gabungan, termasuk pernyataan bahwa elite Demokrat-lah yang gagal 
menciptakan komunikasi antarpartai koalisi selama ini. Pernyataan SBY terhadap 
pimpinan partai koalisi dan pernyataan elite Demokrat terhadap utusan anggota 
koalisi di rapat-rapat Setgab dinilai sering bertentangan.

"Dalam situasi seperti hari ini, kita tak perlu mencari siapa yang salah dan 
benar, tapi bagaimana kita ke depan mengevaluasi koalisi agar tertata menjadi 
lebih baik. Kita coba ambil hikmah dinamika ke depannya," tandasnya.

Menurutnya pula, partai-partai koalisi tak perlu menanggapi pidato Presiden SBY 
tentang evaluasi koalisi secara emosional karena yang disampaikan SBY adalah 
penegasan dari hakikat dasar koalisi. Saan menegaskan, SBY tidak menyalahkan, 
tetapi hanya memiliki penilaian terhadap partai-partai mitra koalisi. SBY, 
lanjut Saan, tentu akan mencari solusi-solusi yang terbaik demi menata hubungan 
koalisi yang memadai ke depannya.


http://indonesiaupdates.blogspot.com/
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://chinese-clubs.blogspot.com/
http://export-import-indonesia.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke