Ajaran Konfusius Bangkit

Kompas - 7 menit lalu
 Ajaran Konfusius Bangkit
BEIJING, KOMPAS.com - Setelah fokus pada kebijakan ekonomi dengan pertumbuhan 
tinggi tanpa memperhitungkan dampak negatif, China kini kembali memperhitungkan 
nilai-nilai tradisional sesuai budaya sendiri.

Stasiun televisi CNN, Rabu (9/3), menayangkan sekolah-sekolah di mana anak-anak 
sekolah mulai diajari sekaligus diingatkan soal ajaran filsuf China, Konfusius. 
CNN juga menyebutkan latar belakang kebangkitan kembali ajaran Konfusius, yang 
hidup sekitar 2.500 tahun lalu.

Dalam situs The Diplomat, Ulara Nakagawa, seorang editor yang berbasis di 
Tokyo, juga menuliskan kebangkitan ajaran Konfusius berjudul ”The Confucian 
Comeback” pada 2 Maret lalu.

Menurut Nakagawa, hampir sulit ditemukan kaitan antara ajaran Konfusius dan 
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari di China. Saat Kompas berkunjung ke 
China, banyak pihak yang menertawakan ketika ditanyakan apakah Konfusius 
menjadi penyebab kebangkitan ekonomi.

Salah satu ajaran Konfusius yang paling menonjol adalah rakyat harus tunduk 
kepada pemerintah, tetapi pemerintah juga harus sadar dengan predikat sebagai 
pemimpin, yang berbakti sepenuhnya demi kepentingan rakyat.

Konfusius mengajarkan kepada semua kelas masyarakat, termasuk rohaniwan, 
pedagang, dan militer, untuk tahu fungsi masing-masing dan hidup saling 
mengisi, bukan saling mengacaukan.

Kesabaran, ketekunan, dan sikap mementingkan keharmonisan juga merupakan salah 
satu ajaran Konfusius, yang hidup ketika China pernah menjalani kehidupan 
barbar.

Identitas diri

Daniel Bell, penulis buku China’s New Confucianism: Politics and Everyday Life 
in a Changing Society, menuturkan latar belakang kebangkitan ajaran Konfusius.

Pada era Revolusi Kebudayaan di bawah pemimpin China, Mao Zedong, ajaran 
Konfusius diharamkan. Namun, para pemimpin China sekarang mulai menunjukkan 
pentingnya ajaran Konfusius.

Bell mengatakan, ajaran Karl Marx tidak lagi berlaku walau China tergolong 
sebagai komunis. Karena itu, China mengalami krisis ideologi sehingga memilih 
untuk membangkitkan ideologi lain. Namun, China enggan menerima ajaran ideologi 
Barat, seperti demokrasi. Karena itu, kata Bell, China kini memilih ideologi 
yang sesuai dengan budaya sendiri dan tumbuh di negara sendiri. Ideologi 
seperti itu kini semakin dibutuhkan sehubungan dengan tampilnya China sebagai 
kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia.

Dalam kehidupan sosial, menurut Bell, ajaran Konfusius juga menjadi pilihan 
pas. Di tengah kebangkitan ekonomi China, muncul juga gejala kemerosotan soal 
tanggung jawab sosial akibat sistem kapitalisme yang secara de facto diterapkan 
di China.

Ajaran Konfusius, yang menekankan tanggung jawab individu sebagai bagian dari 
masyarakat, juga dianggap tepat bagi masyarakat China untuk tidak lupa akan 
tanggung jawabnya.

Perumahan dan kesehatan Di samping kebangkitan ajaran Konfusius, Pemerintah 
China kini juga semakin sadar akan dampak negatif kebijakan yang mendorong 
pertumbuhan dengan biaya apa pun. Kebijakan seperti itu telah menyebabkan warga 
kaya semakin kaya, tetapi kelompok miskin semakin miskin.

Sun Zhigang, Wakil Direktur Pembangunan Nasional dan Komisi Reformasi, Rabu di 
Beijing, menekankan bahwa pemerintah mencanangkan perluasan pelayanan sistem 
kesehatan. Hal itu bertujuan memeratakan pelayanan kesehatan sehingga bisa 
didapatkan warga kurang mampu.

Kementerian Perumahan dan Pengembangan Perkotaan serta Pedesaan di Beijing juga 
mencanangkan pembangunan 10 juta unit rumah tahap pertama. Hal ini bertujuan 
agar warga kurang mampu bisa memiliki rumah, yang saat ini mengalami 
peningkatan harga. Dengan harga rumah yang mahal, banyak warga kelas rendah 
tidak akan mampu membeli rumah jika tidak ditolong pemerintah. (AP/REUTERS/MON)


http://groups.yahoo.com/group/inti-net
http://indonesiaupdates.blogspot.com/
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://chinese-clubs.blogspot.com/
http://export-import-indonesia.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com

Kirim email ke