Refleksi : Sebelumnya ada Madame Tien (10) Procent, sekarang ada Madame Any 
Procent. Apa bedanya dulu dan sekarang? 

Tentu saja PDIP harus membantah, karena kalau tidak membantah mungkin saja 
kursi menteri yang akan dibagikan diduduki oleh pihak lain.  Harus ada 
solidaritas sahabat bin sobat kaum elit dalam dunia kleptokrasi.

http://www.suarapembaruan.com/home/keluarga-ani-yudhoyono-keruk-uang-sebagai-broker/4439

Berita Sydney Morning Herald

Keluarga Ani Yudhoyono Keruk Uang Sebagai Broker
Jumat, 11 Maret 2011 | 11:53

 Ibu Negara Ani Yudhoyono 


[SYDNEY] Selain mengungkap intervensi hukum yang dilakukan Presiden Indonesia 
Susilo Bambang Yudhyono untuk melindungi Taufik Kiemas dari tuntutan korupsi, 
dokumen diplomatik Amerika Serikat (AS) yang dibocorkan WikiLeaks juga menguak 
kegiatan Ibu Negara Kristiani Herawati dan keluarga besarnya yang mencari 
keuntungan pribadi dengan bertindak sebagai broker atau fasilitator bagi 
pengusaha.

Pada berita berjudul "Tuduhan Korupsi Terhadap Yudhoyono" di halaman satu surat 
kabar Australia The Sydney Morning Herarld (SMH), disebut bahwa kedutaan besar 
(kedubes) AS di Jakarta, awal 2006, menyampaikan pada Washington bahwa 
Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono, semakin gencar mencari keuntungan 
pribadi dengan bertindak sebagai broker atau fasilitator bisnis.

Beberapa kontak yang menjadi sumber informasi Kedubes AS juga menyebutkan bahwa 
keluarga Ani Yudhoyono telah mulai mendirikan berbagai perusahaan dalam rangka 
menggunakan pengaruh keluarga mereka. Dokumen yang dibocorkan WikiLeaks juga 
menyebut bahwa setelah terpilih menjadi presiden pada 2004, Yudhoyono 
mengintervensi kasus korupsi Kiemas, suami mantan presiden Megawati 
Sukarnoputri.

Menurut dokumen rahasia itu, Kiemas menggunakan pengaruh yang masih dimiliki 
istrinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), 
partai kedua terbesar setelah Pemilu 2004, untuk memperoleh perlindungan dari 
penuntutan untuk apa yang digambarkan diplomat AS sebagai korupsi legendaris 
selama istrinya berkuasa sebagai presiden, antara 2001-2004.

Pada Desember 2004, Kedubes AS di Jakarta melaporkan salah satu informan 
politik mereka, yaitu T.B Silalahi yang saat ini merupakan salah satu penasehat 
senior presiden, mengatakan bahwa Hendarman Supandji yang saat itu menjabat 
jaksa agung muda tindak pidana khusus, telah mengumpulkan bukti-bukti kasus 
korupsi yang cukup untuk menahan Kiemas.

Menurut Kedubes AS, Silalahi mengatakan bahwa Yudhoyono menginstruksikan pada 
Hendarman untuk tidak meneruskan pengusutan kasus terhadap Kiemas. Hasilnya 
adalah tidak ada penuntutan apapun yang dilakukan dan Kiemas dengan mulus 
berhasil menjadi Ketua MPR. Dokumen rahasia yang dibocorkan WikiLeaks, juga 
menyebut Yudhoyono memanfaatkan Kepala BIN Syamsir Siregar untuk memata-matai 
sekutu dan musuh politiknya.

Yudhoyono disebut secara personal memerintahkan Siregar melakukan pengawasan 
terhadap Yusril Ihza Mahendra yang melakukan perjalanan rahasia ke Singapura 
untuk bertemu pengusaha Tiongkok. Yudhoyono juga memerintahkan BIN memata-matai 
lawan-lawan politiknya yang menjadi kandidat presiden. Menurut Silalahi, 
Yudhoyono hanya membagi laporan BIN paling sensitif dengan dirinya dan 
Sekrataris Kabinet Sudi Silalahi. [SMH/B-14]

Berita Terkait

  a.. Boediono: Bocoran Wikileks Harus Dipertanyakan Akurasinya
  b.. Istana: Berita The Age Bualan Belaka
  c.. Pemerintah Indonesia Bantah SBY Salahgunakan Kekuasaan
  d.. Menlu Bantah Laporan Surat Kabar Australia
++++

http://www.suarapembaruan.com/home/pdi-p-berita-the-age-hanya-cari-sensasi/4430



PDI-P: Berita The Age Hanya Cari Sensasi
Jumat, 11 Maret 2011 | 10:53



[JAKARTA] Ketua DPP Bidang Hukum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) 
Trimedya Panjaitan menyatakan, berita yang dilansir Harian The Age dan 
menyeret-nyeret nama Taufik Kiemas hanya mencari sensasi belaka. "Berita itu 
sama sekali tidak bisa dipertanggungjawaban. Kita tidak mau terjebak atau 
terpancing dengan berita tidak benar seperti itu," katanya saat dihubungi SP di 
Jakarta, Jumat (11/3). 

Menurut dia, sejak dirinya diberi kepercayaan mengurusi persoalan-persoalan 
terkait hukum di PDI-P sejak tahun 1996, tidak ada satupun kasus hukum yang 
menyangkut ketua Dewan Pertimbangan Pusat DPP PDIP tersebut. Jadi, kata dia, 
berita itu dibuat tidak berdasarkan data dan fakta yang benar dan tidak bisa 
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Atas adanya pemberitaan tersebut, Trimedya 
yang duduk di komisi hukum DPR mengatakan pihaknya tidak  perlu untuk melakukan 
upaya hukum ataupun klarifikasi apapun. 

Media Australia The Age di halaman depan menulis bahwa Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono menyalahgunakan kekuasaan pada 2004. Berita itu dibuat berdasarkan 
kawat diplomatik yang dikirim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ke 
Washington yang dibocorkan WikiLeaks. [M-17]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke