http://www.suarapembaruan.com/home/keluarga-megawati-diobok-obok/4339 Keluarga Megawati Diobok-obok
[JAKARTA] Upaya membujuk Taufiq Kiemas dan Puan Maharani untuk bergabung dalam koalisi pemerintahan SBY-Boediono dinilai untuk mengadu domba atau mengobok-obok keluarga Megawati Soekarnoputri. “Ada skenario untuk mengadu domba, bapak, ibu dan anak, juga untuk menghancurkan PDI-P,” ujar Ketua DPP PDIP Bidang Hankam dan Luar Negeri Andreas Pareira kepada SP, Selasa (8/3). Dia juga membantah isu yang menyebutkan Puan siap keluar dari PDI-P, jika ditunjuk menjadi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. “Saya tidak yakin Puan akan melakukan hal itu. Semua kader sampai saat ini masih menghormati keputusan Kongres Bali lalu,” ujarnya. Mantan anggota Komisi I DPR RI mengatakan, jika serius untuk melakukan koalisi, maka harus dimulai dengan pembicaraan soal-soal prinsip di tingkat pucuk pimpinan partai. "Harus ada pembicaraan awal menyangkut soal-soal prinsip antara dua petinggi partai. Antara Pak SBY dan Ibu Mega. Bukan seperti yang dilakukan saat ini, " katanya. Dia mengibaratkan proses dan tahapan koalisi itu seperti perjanjian penting dua negara, di mana soal-soal yang sangat mendasar dan prinsip harus dibicarakan dua kepala pemerintahan. Untuk soal teknis, barulah diserahkan kepada pejabat di tingkat teknis seperti Menteri Luar Negeri. Lalu, pada tahap akhir menjelang kesepakatan, dua kepala negara juga kembali bertemu untuk finalisasi. Dalam soal koalisi partai, hal yang disebut prinsip, katanya, adalah tentang ideologi, platform serta persepsi tentang kepentingan nasional. Jika soal-soal prinsip itu bisa ditemukan kesamaannya, barulah berbicara soal yang lain. Termasuk soal pembagian tugas atau kursi menteri di kabinet. Jika tahapan semacam ini tak dilewati, kata Andreas, maka yang terjadi adalah koalisi tak sehat, dan sifatnya tambal sulam saja. "Jadi, partai yang masuk hanya untuk mengganti yang keluar," kata Andreas. Pembicaraan soal platform sangat penting di awal koalisi untuk merumuskan isu bersama yang menjadi kepedulian partai yang akan berkoalisi. Dengan cara ini, maka partai-partai yang mengirimkan kader untuk duduk di kabinet, juga memiliki loyalitas yang tegas kepada target yang disepakati, bukan kepada orang atau partai. Ia menyebut politik saat ini sebagai politik dagang sapi, di mana politisi yang jadi menteri memiliki loyalitas ganda. Satu sisi kepada presiden, sisi lainnya kepada partai asalnya. “Pembicaraaan tentang platform partai yang akan berkoalisi jadi penting untuk menjajaki kesamaan kepentingan dari keduanya. Meski memiliki ideologi yang berbeda, kata dia, dua partai politik yang memiliki ideologi berbeda sekali pun, masih sangat mungkin untuk bisa berkoalisi. Jika kedua partai punya kesepahaman tentang tantangan nasional yang dihadapi,” katanya. [M-16] http://groups.yahoo.com/group/inti-net http://indonesiaupdates.blogspot.com/ http://tionghoanet.blogspot.com/ http://chinese-clubs.blogspot.com/ http://export-import-indonesia.blogspot.com/ http://lowongannet.blogspot.com
