Subject: OOT - Pasien kanker diperas di Singapore.
Dokter dan RS asing melebarkan sayap ke Indonesia
Renungan Akhir Pekan
Pemerasan Heboh oleh Dokter-RS
Hebatkah Pengobatan di Negara Tetangga?
Ya, silahkan kalau uang tidak menjadi soal dan mengunggulkan dokter dan rumah
sakit Singapura.
Nama hebat, ternyata tidak memberikan jaminan bahwa hasilnya akan lebih baik.
Ditambah lagi keserakahan sebagian dokter yang tidak tahu diri, dengan
melipatgandakan tagihan ratusan kali dari yang wajar, ya ratusan kali.
Lebih jauh, karena dokter2 ini sudah merasa mapan, lalu buka praktek di negara2
tetangga, jadi hati-hatilah dengan dokter2 dan RS terkait, dan tidak langsung
terbius oleh nama mereka.
Tolong diingat bahwa soal medis RS, seperti untuk Jantung dan Kanker, beserta
tim dokter2 Indonesia tidak kalah dengan negara tetangga atau negara maju.
Selain itu tengoklah kembali bahwa pengobatan dan nasehat tradisional kadang
(sering) lebih ampuh dari segala macam obat modern dari perusahaan farmasi
multinasional yang belum tentu ampun.
Malahan banyak penyakit akut atau tak tersembuhkan obat dan dokter modern,
malah sembuh karena hanya ketat makan makanan mentah yang alamiah (walaupun
memang enaknya beda kalau belum biasa).
Selamat menggunakan akhir pekan yang masih tersisa 12 jam.
Salam,
APhD
From: Tedja Prasada Judio <
Date: Wednesday, March 9, 2011, 10:21 PM
Pemerasan $26 Juta Pasien Kanker Payudara oleh Dokter Gleneagles, Singapura
Dr.Susan Lim dari Gleneagles Hospital Singapura lakukan pemerasan luar biasa
kepada pasien kanker payudara. Total tagihan $26 juta (179 milyar Rupiah) untuk
dokter fee 5 bulan. Itupun ditagih setelah pasien meninggal. Tagihan tsb akibat
markup oleh Dr. Susan Lim.
Misalnya dari $1000 menjadi $300.000 untuk sebuah doctor bill. Padahal dia
dokter ahli operasi paling bonafide. Diduga praktik markup gila gilaan sudah
biasa oleh dokter, korbannya pasien Indonesia, Malaysia, Brunei.
Untunglah Otoritas Singapura turun tangan karena skandal “medical fraud” ini
mengancam reputasi jasa medis Singapura.
Tagihan (medical bill) yang sangat keterlaluan tingginya itulah yang direken
sebagai bentuk “pemerasan” kepada pasien.
Adalah Pangiran Anak Hajat Damit, saudara perempuan Ratu Brunei, berobat di
Gleneagle dan ditangani oleh dr.Susan Lim sejak 2001 hingga 2007. Tagihan tiap
tahun jutaan dollar tanpa hasil. Mentri Kesehatan Brunei curiga lalu lakukan
investigasi dengan bantuan advisor Singapura Prof. Saktu. Kemudian diproses
hukum kode etik oleh Singapore Medical Council (SMC), badan pengawas dokter.
Terbongkarlah markup gila gilaan. Bayangkan biaya monitoring doang
$450.000(rp.3.1m)/ per hari. Padahal tarif umum di Eropa £5000 (rp.70jt)/hari.
Si dokter menyangkal di pengadilan dengan dalih bahwa
semua pasien setuju tarif. Mungkin almarhum tidak menyangka akan dibenani
tagihan terakhir $26 juta, sementara operasi gagal uang melayang tidak kepalang.
Heboh kasus pemerasan dokter rame di media utama Singapura, Brunei, Malaysia,
New Zaeland. Semua menyalahkan dr. Susan Lim yang dinilaia sangat rakus,
kriminal, tak bermoral , manfaatkan pasien tak berdaya nagih seenaknya.
Karena di dunia manapun tidak ada biaya setinggi itu.
Tapi bagi dokter dokter Singapura kebanyakan tidak menganggap dia bersalah
berapapun tagihan dituntut kepada pasien. Entah apa alasannya padahal jelas
bukti markup terungkap. Dan biaya tsb hanya untuk doctor fee, di luar pekerjaan
dokter, obat, rumah sakit. Tak heran publik melihat dokter Singapura bagai
monster yang siap menghisap harta pasien sampai ludes. Jika tidak mengubah
perilaku yang utamakan cari uang sebanyak mungkin dari pasien.
Lihat rekord-nya. Pangiran Anak Hajat Damit dibebani tagihan Dr. Susan Lim sbb:
2004 total $2.8j, 2005 total 3.8j, 2006 total 7.5jt. Seetelah meningal 2007
ditagih 24.8jt. Brunei protes. Lalu si dokter beri diskon. Protes lagi, dokter
rela hapus tagihan untuk dirinya. Tapi dia tagih $3,2 jt untuk tim dokter yang
membantunya. Dia juga bujuk Brunei agar mengeluarkan surat yang isinya tidak
akan menempuh jalur hukum. Namun ditolak.
Belakangan SMC kian gencar perkarakan si dokter di pengadilan tinggi.
Daftar markup oleh si dokter kian terungkap. Misalnya dari $400 menjadi $211rb,
$50 menjadi $93.500, $3.000 menjadi $285.100. Angka angka korupsi yang sangat
fantastis lebih tepat disebut merampok
pasien. Si dokter tidak terima lalu mengadukan ke Pengadilan Tinggi untuk
judicial review atas ulah SMC.
<><>Di Indonesia biasanya markup (korupsi, nyatut) maksimum 2 kali lipat.Di
Singapura ratusan kali lipat. Benarkah ini negeri bersih korupsi?
Namun perkara menagih setinggi langit bukan monopoli dunia medis. Di ranah
politik sudah banyak oposan yang dibikin bangkrut hartanya oleh keputusan
pengadilan dalam perkara pencemaran nama baik kepada
Perdana Mentri. Ratusan ribu dollar hingga jutaan dollar melayang jika pejabat
tidak suka dengan ucapan oposan di publik. Atau gara gara pidato tanpa ijin
polisi. Tuntutan Singapore Medical Council (SMC) kepada dr. Susan Lima berujung
pada denda max $10rb dan penangguhan praktek 3thn.
Malah bisa cabut ijin praktek. Ini ancaman serius buat karir Susan Lim Surgery
yang buka klinik di Gleneagles Hospital dan Mount Elizabeth MC. Prof. Saktu
advisor Mentri Kesehatan Brunei, dan penggantinya di pucuk SMC, menuding Susan
lakukan pelanggaran kode etik hingga malpraktek.
Sehingga perkara melebar dari protes tagihan menjadi delik pidana melalui
sidang hearing SMC.
Pada saat yang sama Brunei High Commision yang menangani kontrak jasa medis dg
Gleneagles sedang evaluasi untuk bangun rumah sakit sendiri di Brunei atas
desakan publik Brunei. Diperkirakan Susan
akan sulit menghindar dari hukuman. Kecuali jika punya perjanjian tertulis
besaran biaya pengobatan dengan pasien. Dan atau SMC mendrop sidang kode etik.
Sangat disayangkan sesungguhnya dia (dr.Susan Lim) adalah ahli bedah yang
pertama kali sukses lakukan liver transplant (pencangkokan hati) di Asia dua
puluh tahun lalu. Salah satu dokter bedah top yang sangat
dibanggakan di Asia. Namun skandal memalukan ini tak kuasa mencoreng
reputasinya dan pula mengancam kredibilitas dokter-dokter Singapura padaumumnya
karena dia dianggap panutan. Masih adakah peluang Dr.Susan Lim memperbaiki
keadaan?
Gleneagles Hospital and Medical Care beralamat di Napier Road Singapore.
Didirikan 1957. Belakangan pesat berkembang, tak kurang berpraktek 150 dokter
spesialis. Terdapat 8 kantor: singapore, indonesia, china, thailand,
filipina,australia, india, korea selatan.
Belum termasuk cabang cabang. Merupakan usaha joint venture antara Park Way
Health dengan Mitsui Co Ltd. Reputasinya diakui sebagai raksasa jasa medis di
Asia dan Australia.
�
Terkait skandal medis ini adalah sangat menarik ketika menyimak seorang
komentator Brunei yang meminjam ucapan Anton Chekhov. Tentang beda kejahatan
advokat dengan dokter, katanya, Advokat hanya merampok uang anda, sedangkan
dokter merampok uang anda, dan membunuh Anda juga.
*sumber: straits times, straits brunei, asiaonline
�
Skandal Dr Susan Lim Gleneagles: Brunei Stop Berobat ke Singapura Waspada Kanker
Payudara (doc Townhousecompany.com)
Fantastis!!! Berobat kanker payudara kena Rp.276 milyar (Sing$40).
$14juta sudah bayar, pasien meninggal, kemudian ditagih lagi $26 juta.
Dunia medis Singapura geger sejak pihak pasien Keluarga Sultan Brunei protes
tagihan medis yang sangat keterlaluan. Mentri Kesehatan dua negara turun tangan.
Singapore Medical Council (SMC) mengadili Dr.Susan Lim. Si dokter tidak terima
lalu memperkarakan SMC ke pengadilan.
Pemerintah bingung, lalu coba undang undang baru untuk mengatasi skandal
medical fraud yang mencoreng jasa medis Singapura.
Sebagaimana post yang dipublish kemarin tentang Breast Cancer (kanker payudara)
di negeri Lee Kuan Yew, pada dasarnya antara Dr.Susan Lim, yang buka klinik di
Gleneagles Hospital, dengan Brunei High Commision terjalin hubungan baik. Sejak
2001 hingga 2007 si dokter menangani pasien kanker payudara yaitu Pangiran Anak
Hajah Damit.
Masalah timbul kemudian setelah pasien tidak sembuh, 2007 berobat ke Inggris
lalu meninggal Agustus 2007. Pihak pasien sudah bayar sekitar $14juta(Rp.96
milyar). Setelah meninggal dunia ditagih lagi $26 juta (179 milyar) untuk
perawatan 5 bulan terakhir. Merasa diperas, Brunei protes.
Kasus bergulir sejak Juli 2007 hingga Februari 2011.
Dr.Susan Lim terpojok.
Sebetulnya kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan kasus ini dalam
perkara uang saja. Tagihan dihapus dan tidak berlanjut ke ranah hukum. Namum
SMC membawa perkara ini ke tindak indisipliner, kode etik, hingga malpraktek ke
pundak Dr.Susan Lim. Karena merasa terancam eksistensinya maka sang dokter
mengadukan SMC ke pengadilan tinggi.
Petinggi SMC yaitu Dr.Lim Cheok Peng, pengganti Professor Saktu, bersikukuh
bahwa ini adalah pelanggaran serius kode etik. Terhukum bisa dicabut ijin
prakteknya.
Pada saat yang sama terbongkar kejahatan sang dokter yang menggelembungkan
(markup, korupsi, nyatut) tagihan tagihan (medical bill) ke pasien hingga
RATUSAN KALI LIPAT. Misalnya bill dari dokter
spesialis senilai $1000 ditagih ke pasien $300.000. Maka tak heran jika tagihan
mencapai jutaan dollar. Padahal taksiran umum sekitar $100ribu. Sehingga muncul
spekulasi telah terjadi malpraktek berakibat
pasien menderita penyakit tambahan yang berakibat biaya terbang tinggi.
(Sampai hari ini Susan Lim sudah menghapus semua tagihan terakhir baik untuk
dirinya maupun untuk tim dokter yang bekerja untuknya di klinik dalam
Gleneagles Hospital and Medical Care Singapore. Namun
iktikad baik tersebut nampaknya belum cukup. Mungkin karena sudah menikmati
pembayaran dari Brunei $14 juta (Rp.96 milyar), pasien meninggal dunia,
terbongkar markup (penggelembungan biaya) yang
sangat tidak masuk akal.
Pembelaan sang dokter pun dirasa sangat lemah yaitu berdalih bahwa pasien minta
perawatan khusus, rewel, bersedia bayar tagihan, dan orang kaya. Pembelaan
seperti ini jelas tidak membenarkan untuk
mengajukan tagihan di luar batas. Apalagi tidak ada hasil sama sekali.
Entahlah jika Susan Lim punya kartu lain untuk membenarkan tindakannya yang
mendapat pembelaan dari 5 dokter spesialis Singapura.
Dengan meledaknya skandal ini publik Brunei sangat marah.
Itu tercermin dari ulasan dan komen di Brudirect, Straits Brunei, dll.
Intinya kapok berobat ke Singapura karena gila gilaan minta bayaran, bahkan
lebih dari 10x standar Eropa/dunia. Mending bikin rumah sakit sendiri dan pakai
dokter lokal sendiri.
Sidang kasus ini akan dibuka kembali 28 maret 2011 untuk lanjutan hearing.
Kabarnya pemerintah Singapura, milik keluarga Lee Kuan Yew, sangat cemas dan
berusaha utak atik hukum agar bisa mengamankan Dr.Susan Lim.
*
:::kasus ini sedang heboh di Asia, Australia, New Zaeland karena ketiban apes
menimpa raksasa medis “Gleneagles Hospital and Medical Care” tempat dr. Susan
Lim buka klinik.
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
http://indonesiaupdates.blogspot.com/
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://chinese-clubs.blogspot.com/
http://export-import-indonesia.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com