http://cetak.kompas.com/read/2011/03/17/0248344/tionghoa.padang.dari.triad.ke.sosial.
KOMUNITAS
Tionghoa Padang: dari Triad ke Sosial

Triad atau Tong adalah lembaga kriminal yang di dunia dikenal sebagai secret 
society dalam komunitas Tionghoa yang menjadi momok bagi Interpol. Namun, di 
Padang, Sumatera Barat, Triad justru menjadi motor komunitas Tionghoa lokal 
yang beranak pinak dan kini justru menjadi lembaga sosial.
Berawal dari kedatangan orang-orang Tionghoa berabad silam di Tiku, kota 
pelabuhan di utara Padang, dua buah komunitas Tong atau Triad yang bercampur 
dengan budaya Minangkabau pun terbentuk. Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan 
Himpunan Bersatu Teguh (HBT) merupakan dua buah Tong yang hidup lebih dari 
seabad di Padang. HTT berdiri sekitar tahun 1860-an.
Ferryanto Gani (Gan He Liang), mantan Ketua HTT Padang, mengakui, organisasi 
yang dipimpin berasal dari Tong.
”Organisasi kami semula adalah Tong yang disebut Ho Tek Tong dalam dialek 
Hokkian atau Fu De Dang dalam bahasa Mandarin. Seabad silam hingga awal abad 
ke-20, ada tukang pukul yang menjaga ketua organisasi. Mereka akan menindak 
tegas anggota yang melanggar aturan organisasi termasuk memukul orang yang 
tidak menghormati ketua,” kata Ferryanto.
Menurut Martin Booth dalam buku The Triads The Chinese Criminal Fraternity 
disebutkan, betapa Tong atau Triad berubah dari sebuah organisasi patriot jadi 
organisasi kejahatan. Semula Tong muncul sebagai reaksi atas munculnya Dinasti 
Qing yang dikuasai etnis Manchu yang mengakhiri Dinasti Ming (1368-1644). Tong 
atau Triad bertujuan menjatuhkan Qing dan memulihkan Ming dengan semboyan Fan 
Qing Fu Ming (Lawan Qing Bangkitkan Ming).
Hongkong jadi sentra utama kegiatan Triad yang membangun jaringan ke kota 
pelabuhan di Tenggara Tiongkok, Asia Tenggara, dan akhirnya jaringan global di 
Eropa, Amerika, Australia, bahkan Afrika!
Salah satu kegiatan utama Tong atau Triad adalah perdagangan obat bius, 
perjudian, pelacuran, dan menerima uang upeti dari pedagang. Pada zaman Hindia 
Belanda, pemerintah kolonial memang menjual hak berdagang opium (Opium Pacht) 
yang sebagian dikuasai perorangan atau organisasi Tionghoa.
Ketika ditanya tentang adanya Hun Keng, Kiao Keng, dan Ca Bo Keng (Rumah Candu, 
Rumah Judi, dan Rumah Pelesiran atau Pelacuran) yang dikelola Tong di masa 
lalu, Ferryanto mengatakan, organisasinya tidak melakukan hal itu. Namun, dia 
mengakui, orang Tionghoa Padang di masa lalu biasa berjudi.
”Sebagian besar anggota Tong di Padang adalah pedagang. Peredaran candu dan 
pelacuran tidak ada karena warga Tionghoa di sini hidup saling menghormati dan 
membaur dengan warga Minangkabau yang religius. Sebagian besar warga Tionghoa 
malah sudah tidak bisa berbahasa Mandarin atau dialek Hokkian,” kata Ferryanto.
Meski demikian, Lisa Suroso, anggota dewan Perkumpulan Indonesia Tionghoa 
(INTI), menyatakan, belum ada studi kearsipan yang mendalam tentang riwayat 
Tionghoa Padang dan kedua Tong secara khusus.
Upacara Triad
Meski hampir seluruh Tionghoa Padang sudah tidak mampu berbahasa Mandarin—logat 
Minang mereka sangat kental—sejumlah tradisi inisiasi Triad atau Tong masih 
dijalankan bagi intern organisasi. Upacara inisiasi anggota dengan tradisi 
Tionghoa kuno dilakukan tertutup dan eksklusif.
”Kalau bukan anggota Tong, biarpun sesama Tionghoa, tidak bisa masuk 
menyaksikan upacara,” kata Lisa. Pendapat itu dibenarkan Ferryanto yang 
menyatakan anggota Tong saja yang boleh ikut upacara. Istri dan anak mereka 
tidak boleh ikut kalau bukan anggota Tong.
Dewasa ini, transformasi ke kegiatan sosial terjadi secara alamiah bagi Tong di 
Padang. Mereka mengurus kematian para anggota secara cuma-cuma. Peti mati dari 
kayu utuh yang diberi rongga masih digunakan pada upacara pemakaman. Tong juga 
menyelesaikan perselisihan rumah tangga para anggota.
Organisasi sosial yang berawal dari Tong itu sangat unik karena senioritas 
sangat dihargai. Saat Kompas pergi bersama Ferryanto di Padang dan Bukit 
Tinggi, setiap kali berpapasan dengan warga Tionghoa Peranakan setempat yang 
menjadi anggota Tong, mereka langsung berdiri memberi hormat dengan menyatukan 
kedua tangan dalam kepalan tangan kiri menutup kepalan tangan kanan.
”Salam Toako. Apa kabar,” demikian mereka menyapa Ferryanto dengan hormat. Di 
beberapa lokasi, warga bangkit berdiri untuk memberi salam saat Ferryanto 
datang.
Itulah keunikan Tong atau Triad di Padang, tempat sekitar 6.000 keluarga 
Tionghoa Peranakan hidup. Mereka tidak berhubungan dengan komunitasi Tionghoa 
di Batavia, Palembang, atau Medan, tapi mempertahankan tradisi sekaligus 
berbaur dengan budaya Minangkabau yang indah. (Iwan Santosa)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke