Mega: Pemerintah, Stop Impor Beras!

KLATEN, KOMPAS.com - Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mendesak 
pemerintah untuk segera menghentikan impor beras dan gula. Menurut Megawati, 
langkah ini bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila karena hanya akan 
berdampak pada kehidupan petani dan sentra unitkecil dan menengah yang ada di 
dalam negeri. Pemerintah hanya berpikir jangka pendek dengan melakukan 
kebijakan impor. 

"Boleh kita lihat seperti apa petani, pabrik tekstil kita juga berjatuhan, 
bangkrut, rotan-rotan kita di sentra Cirebon tadinya banyak jadi berkurang. 
Kalau punya keberanian, sebenarnya apa yang bisa diadakan di Tanah Air kita 
sendiri, itu yang didorong dulu. Distop impornya dulu sehingga rakyat kita 
pasti akan mempunyai pekerjaan dan bisa memenuhi kehidupannya.Tapi ini tidak 
begitu. Jadi kalau ditanya apa yang harus dilakukan sekarang, stop impor beras, 
gula, dan sebagainya!" tegas Megawati di depan puluhan ribu kader PDI-P di Desa 
Jambakan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (17/3/2011). 

Presiden ke-5 RI ini menduga apa yang akan menjadi pembelaan pemerintah. 
Pemerintah, lanjutnya, tentu akan beralasan bahwa jumlah lahan dan pabrik yang 
memadai untuk swasembada tak mencukupi. 

Namun, menurut Mega, pemerintah harus segera berani bertindak. "Kalau kurang? 
Ya diadakan. Itu tugas pemerintah. Pabrik diperbaiki, lahan harus segera 
diadakan," katanya. 

Mega mengingatkan agar pemerintah tidak keasyikan melakukan impor hingga 
melupakan peringatan dari PBB bahwa dunia juga tengah mengalami krisis pangan. 
Jika sampai suatu saat, negara asal ekspor beras atau gula menyatakan 
ketidaksanggupannya untuk mengekspor lagi, Indonesia bisa kelabakan karena tak 
ada persiapan dan persediaan yang memadai di dalam negeri. 

"Apa enggak kelenger kita. Pemerintah jangan seneng-seneng impor, bea masuk 
ditiadakan. Kalau negara-negara sana kekurangan pangan, gimana? PBB pun bilang 
hati-hati warga dunia, pangan kita semakin berkurang karena keadaan cuaca yang 
tak menentu," ujar Mega. 

Mega pun mendorong para kadernya untuk beralih pada bahan makanan pokok lainnya 
berbahan baku ubi, talas dan singkong. Mega meminta agar masyarakat tidak 
berpikir bahwa hanya beras yang menjadi makanan mewah, sedangkan makanan 
berbahan baku ubi dan talas adalah makanan rakyat miskin. 

"Saya kadang sering patah kata kalau diminta berbicara apa yang harus dilakukan 
oleh pemerintah kita. Dalam penanganan-penanganan yang saya lihat, seperti 
dalam persiapan pangan, sampai dimana implementasinya? Jadi bukan hanya 
dirapatkan berulang kali saja," katanya. 

"Sehingga di tengah isu nasional yang sekarang berkembang cepat, apa yang harus 
kita (Indonesia) lakukan, saya tak bisa jawab. Bukan ranah saya, ada pimpinan 
nasional. Dialah yang harus dijawab dengan baik dan tegas, kemana Indonesia 
harus dibawa," tandas Mega. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke