TOP HIT - on  today´s HIT 

http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-12816226   



 

 
-------Original Message-------
 
From: GELORA45
Date: 22.3.2011 2:40:56
To: GELORA_In
Subject: [GELORA45] Libya Bukan Irak Kedua
 
  
 
Libya Bukan Irak Kedua
http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2011/03/22/krn.20110322.230596.id
html
Senin, 21 Maret 2011 | 23:32 WIB
Barat semestinya belajar banyak dari penyerbuan ke Irak. Dulu, setelah
pasukan sekutu berhasil menumbangkan Saddam Hussein, yang mereka dapatkan
bukanlah kemenangan. Kejatuhan Saddam hanya mengantar rakyat Irak ke
kekacauan baru. Demokrasi tak dengan sendirinya tumbuh di sana. 

Barat juga mesti belajar dari penyerbuan ke Afganistan. Kehancuran rezim
Taliban hanya menyeret negeri itu ke jurang perang nan tak kunjung usai.
Perlawanan terhadap pasukan sekutu bukannya reda, tapi malah berubah wujud
menjadi perang gerilya yang brutal.

Tentu saja dunia tak bisa menerima kepemimpinan ala Muammar Qadhafi. Ia
berkuasa dengan tangan besi di Libya selama 42 tahun. Semua penentangnya dia
basmi. Bahkan dia tega membantai rakyatnya dengan tank, jet pengebom, dan
tentara bayaran. Ribuan orang tewas dalam bentrokan tak seimbang itu. Dunia
pun ikut terimbas. Harga minyak melambung hingga US$ 103 per barel.

Di saat seperti inilah Amerika Serikat merasa perlu turun tangan. Dengan
alasan menyelamatkan kelompok oposisi yang dibombardir tiada henti,
Washington, setelah mendapat restu Perserikatan Bangsa-Bangsa, memimpin
penyerbuan Libya. Seperti juga saat menyerang Irak dan Afganistan, militer
Amerika berjanji tak akan mencederai warga sipil. Jika Qadhafi jatuh, Libya
akan hidup dalam udara demokrasi.

Soal apakah bom-bom itu tak membunuh warga sipil, wallahualam. Tapi
pengeboman seperti ini penuh catatan buruk. Di Irak, warga sipil ikut
menjadi korban. Di Afganistan, bukan cerita baru jika hulu ledak rudal
Amerika menghantam puluhan orang yang sedang merayakan pernikahan.
Secanggih-canggihnya rudal mereka, tak ada jaminan tidak akan meleset.

Tidak pula ada jaminan bahwa Qadhafi bakal segera terjungkal seperti janji
pasukan Amerika. Qadhafi bukan Husni Mubarak. Mantan Presiden Mesir itu
secara politis dan ekonomi amat bergantung pada Amerika. Washington tak
perlu mengirim rudal untuk memaksanya turun. Qadhafi justru sebaliknya. Ia
adalah pahlawan bagi rakyat Libya saat menentang Barat pada 1980-an dan
1990-an. Ketika mulai bersekutu dengan Amerika pada 2000-an, pesonanya
justru hilang. Maka serangan sekutu kali ini akan dijadikan momentum oleh
Qadhafi untuk kembali meraup dukungan. 

Jika posisi Qadhafi menguat, peperangan akan berlanjut lama. Dunia pasti
ingat, Qadhafi pernah bertahan begitu lama, meski puluhan tahun negerinya
diembargo. Dan jika itu terjadi, ini justru akan menyulitkan Amerika dan
sebagian besar penduduk bumi. Harga minyak semakin tinggi.

Kalaupun Qadhafi bisa jatuh dalam waktu singkat seperti janji Amerika, bukan
berarti Libya tak berada dalam masalah. Kejatuhan Saddam Hussein terbukti
tak serta-merta membuat rakyat Irak hidup aman tenteram. Mereka hingga kini
terlibat dalam perang saudara tiada henti. Bom bunuh diri dan gerilyawan
yang tak tampak tak bisa dibersihkan oleh kekuatan militer Amerika. Bahkan
militer Amerika yang harus pulang karena desakan dari dalam negeri: terlalu
banyak korban jatuh untuk pertempuran di negeri orang. Amerika pergi dari
Irak ketika luka di negeri itu menganga begitu lebar. Hal yang sama sangat
mungkin terjadi di Libya. 

Dengan mengatakan hal itu, bukan berarti kekejaman Qadhafi terhadap
rakyatnya harus dibiarkan. Diktator harus diturunkan dan diadili. Tapi
perang tetap bukan pilihan untuk menegakkan demokrasi, karena perang hanya
akan membuat rakyat Libya semakin merana.

 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke