http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/02/rizal-ramli-saya-tidak-malu-punya-istri-cina/
Linda
 linda - pernah menjadi wartawan selama 23 tahun untuk majalah Tempo, Gatra dan 
penulis lepas di beberapa majalah wanita. Berhenti menjadi wartawan 10 tahun 
silam ternyata sulit dibarengi dengan berhenti menulis. Musik dan tulis menulis 
adalah aliran jiwa, semburan nafas yang dasyat dan sebuah semangat 
kehidupan.....
Rizal Ramli: Saya Tidak Malu Punya Istri Cina!
REP | 02 March 2011 | 00:33 2814 99  4 dari 7 Kompasianer menilai inspiratif
--------------------------------------------------------------------------------



Kata-kata itu pernah diutarakan Menteri Ekonomi era Gus Dur berkali-kali, Rizal 
Ramli, khususnya saat ia berkampanye sebagai calon presiden Indonesia. 
Istrinya, si cantik Siaw Fung (Afung) yang bernama Indonesia Mariani 
senyum-senyum mendengar pernyataan sang suami.

Afung memang belum lama menjadi istri Rizal Ramli. Seorang janda yang sudah 
belasan tahun hidup sendiri ini dipersunting oleh Rizal Ramli setelah pria ini 
ditinggal meninggal oleh Hera, istrinya. “Istri saya kan Cina Bangka�, ujar 
Rizal dengan senyum enteng sambil memperkenalkan Afung.

Berkuning langsat, bertubuh mungil, Afung memang wanita keturunan Cina yang 
cantik dan periang. Rekan-rekan politik sang suami hampir tak pernah tidak 
disapa hangat. Saat menjamu mereka berkali-kali di rumahnya atau mengundang 
berbuka puasa, Afung sendirilah yang turun tangan memasak. Enaknya luar biasa. 
Afung hobi memasak bermacam ikan. Ada yang dikukus, ada ikan blado, ada ikan 
pepes, semua dimasak bagai layaknya koki profesional. Rizal Ramli pernah 
mengakui bahwa ia menikmati hidangan tiap hari dengan seru sekali.

Kan cinta mengalir dari mulut dan perut, katanya suatu kali kepada saya dengan 
tawanya yang berderai-derai. Wajah Afung merah semu sambil biasanya tangannya 
memeluk dan mencubit-cubit lengan sang suami.

Saya melihat kemesraan mereka beberapa tahun ini tak bergeser sedikitpun. Afung 
punya jadwal harian selalu membersihkan wajah Rizal.

Saya jadi tukang facial deh. Lihat tuh muka suamiku, sekarang bersih, licin, 
bersinar, hahaha..! ujar Afung. Rambut rapi, kemeja rapi, itulah penampilan 
Rizal Ramli dibuat oleh Afung. Dan mata wanita Cina Bangka ini selalu bagai tak 
berkedip bila memandang suaminya.

Afung sangat mencintai mas Rizal, apa-apa harus untuk mas Rizal duluan. Dia 
lebih mementingkan suaminya dari dirinya sendiri,
 ujar salah satu saudara perempuan Afung sore tadi.

Ya, sore tadi,  Selasa 1 Maret 2011 ini, saya berjam-jam ikut duduk menunggu di 
ruang jenazah Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Afung terbujur kaku. Ia 
menghembuskan nafasnya terakhir pukul 3.55 siang di ruang ICCU.

Rizal Ramli pagi-pagi sekali sudah mengirimkan SMS ke saya. Afung sulit 
bernafas, kankernya sudah sampai ke paru-paru.

Kenapa mas Rizal tidak kasih tahu saya selama sebulan ini Afung keluar masuk 
rumah sakit?, protes saya di telepon. Pantas saja, beberapa kali SMS saya kirim 
sejak beberapa minggu ini, tidak pernah ada respon. Biasanya, meski Afung 
sedang di luar negeri sekalipun, ia tak lupa membalas.

Anehnya, karena kangen kepada Afung, kemarin malam saya pandangi foto saya yang 
berdua dengannya. Entah mengapa, lama sekali saya melihat foto itu. Ada rasa 
aneh memang, tapi entah apa saya tidak tahu

Saya memasuki ruang ICCU setengah jam setelah Afung pergi. Wajahnya yang mungil 
cantik, hidung yang bangir dan pipi licin bagai pualam itu masih hangat. Duh, 
Afung, sebegitu cepatnya kamu pergi. Hilanglah satu lagi teman baikku yang 
begitu rendah hati, kocak, centil dengan mata selalu berbinar-binar bila sudah 
bercerita tentang suaminya, dan cerewet sekali.

Tak ada yang menyangka Afung mengidap penyakit serius sejak lama. Kecerahan 
bahasa tubuhnya, ramainya ia bicara, gesitnya, semua membuat orang tertipu. 
Dikira orang ia sehat-sehat saja.

Lima tahun lalu ia pernah sakit kanker yang kemudian sembuh. Baru dua bulan 
terakhir ini muncul berbagai penyakit yang tidak diduga sebelumnya bahwa ini 
adalah terusan penyakit seram yang itu-itu juga yang pernah ia peroleh zaman 
dulu.

Afung tahun lalu mengumpulkan sekitar 30 teman-temannya untuk membuat semacam 
arisan yang bermanfaat. Tiap wanita yang menjalankan profesinya bisa bertukar 
pengalaman, bertukar jualan produk dan saling tukar informasi. Saya, yang 
biasanya paling tidak pernah berminat ikut arisan, kali ini saya tertarik 
mengikutinya. Di rumah Afung yang asri dan luas ia pernah memestakan ulang 
tahun dirinya, sambil mempersilakan grup ini berjualan apa saja dengan membuka 
stand khusus di halaman belakang samping kolam renang.

Tenda-tenda sudah disediakan. Musik disediakan. Makanan di atas meja yang 
panjang sekali itu juga tersedia, atas ketrampilan Afung memasaknya sendiri. 
Dari sekian jenis masakan, lagi-lagi ada aneka ikan ini, ikan itu,  yang 
bentuknya aneh-aneh, dan  lezatnya luar biasa.

Rizal Ramli berkali-kali tadi di RSPI mulai dari ruang tunggu ICCU sampai kamar 
jenazah mengusap air mata. Kemeja biru kotak-kotak kecilnya sudah mulai lusuh. 
Celana yang juga kusut tampak menjadikannya tambah muram.

Afung selalu mendandani saya. Dari dialah saya mulai mencoba memakai celana 
dari bahan wool. Biasanya saya nggak pernah mau, kata Rizal Ramli. Saya mencoba 
mengalihkan kesedihannya dengan mengobrol ini-itu.

Sebelumnya, Buyung Nasution yang menemaninya ngobrol. Afung sehari-harinya olah 
raga apa sih mas? tanya saya. Kamu mau tahu? Itu lho Lin, olah raga berbelanja 
ke pasar tradisional, ujar Rizal Ramli sembari senyum mengenang keindahan itu. 
Afung yang hobi memasak tentu hobi pula berburu bahan-bahan masakan di pasar. 
Seringkali dia pergi naik bajaj, hanya karena ingin cepat dan menembus 
kemacetan, cerita Rizal Ramli tadi. Saya bayangkan mobil-mobil yang berderet di 
garasi, sang nyonya tetap saja pergi naik bajaj. Duh, Afung!

Lalu, apa yang menyebabkan laki-laki ini  jatuh hati dengan segera kepada 
Afung? Dia kan dulu dekat dengan Gus Dur dan keluarganya. Saya juga lumayan 
dekat. Lalu kami berkenalan, suatu saat dia mengundang saya makan di rumahnya. 
Cerita panjang lebar, tentang hidupnya yang berat di masa lalu, tentang 
kepahitannya, tapi semua diceritakan tanpa beban. Riang, enteng, dan ia tabah 
sekali, cerita Rizal Ramli. Seketika respeknya terhadap wanita ini muncul.

Hidupnya yang seram dilalui dengan gembira. Dan tidak dengan nada mengeluh. 
Saya diam-diam memuji orang ini. Ngapain kan kita dengar cerita orang yang 
berat-berat kalau diri kita sendiri juga sudah penuh problem?

Saya jatuh hati, ujar Rizal Ramli lagi. Afung memang pekerja keras, gigih, dan 
tak mengenal malu melakukan pekerjaan halal apapun. Ia pernah bercerita kepada 
saya, sejak kecilh hidupnya bertahun-tahun adalah mengemas gula pasir di 
plastik-plastik untuk dijual lagi oleh orang tuanya di warungnya.

Tiap pulang sekolah, itulah pekerjaan saya,katanya. Lalu saat ia masuk kota 
Jakarta, Afung merasa betul-betul orang kampung yang baru mengenal kota besar.

Saya bingung sekali waktu itu. Tapi saya tidak mau putus asa,katanya. Iapun 
gigih berdagang segala rupa. Barang kelontong, baju-baju, sampai akhirnya Afung 
menjadi pedagang berlian. Setelah ia menikah dan gagal, sebagai orang tua 
tunggal belasan tahun, Afung jungkir balik menyekolahkan anak-anaknya dengan 
ketabahan yang luar biasa.

Rizal Ramli tentu tak mudah lupa, bagaimana Afung begitu merawat sang suami 
dengan rapi. Tentang membersihkan muka ala facial di salon diakui oleh Rizal 
Ramli.

Memang begitulah salah satu  cara Afung menyayangi saya, ujarnya. Maka, wajah 
�Einstein� yang dikomentari oleh salah satu putri Afung sudah tak ada lagi. 
Rizal Ramli mendadak rapi ! Saya terenyuh mendengar cerita Rizal Ramli tadi. Di 
tengah kedukaannya ia masih bisa mengenang yang serba manis dan indah, dan 
diceritakannya kepada saya. Sebetulnya soal mulai jatuh hati kepada wanita Cina 
Bangka ini sudah pernah pula ia ceritakan di depan para tamunya, saat ia 
merayakan pesta ulang tahun di rumahnya.

Saya ingat, ia pernah berkata kepada Afung di depan banyak tamu, Terima kasih 
Afung, yang sudah membuat saya bahagia sepanjang hari terus menerus. Dan 
kata-katanya disambut dengan air mata Afung yang mengalir sambil mencium pipi 
sang suami dengan haru.

Afung tadi didandani cantik sekali. Seumur-umur baru kali inilah saya melihat 
proses pendandanan jenazah. Dan cara umat Kristiani berucap kesan, pesan, dan 
doa di depan yang sudah wafat. Semua baru bagi saya. Gaun Afung  yang putih 
berenda menurut salah satu kerabatnya, adalah baju pengantinnya dulu saat 
bersanding dengan Rizal Ramli.

Sebelum tangannya disarungi, saya masih melihat jarinya yang lentik dan 
kuku-kukunya yang panjang dan terawat rapi. Duh Afung, seakan-akan tadi saya 
masih mendengar suara celotehanmu yang seru dan centil nonstop itu sebagaimana 
biasa.

Semua diurus oleh saudara-saudara Afung yang keturunan Tionghoa itu. Rizal 
Ramli hanya terduduk diam. Pemilihan peti mati putih sepenuhnya oleh kerabat 
Afung.

Pria keturunan Sumatra Barat yang tangguh, yang selalu ingin berjuang bagi 
negeri ini, yang masih punya segunung mimpi bersama wanita �Cina nya" dan 
lagi-lagi masih terngiang pula bagaimana seorang aktivis kawakan ini berkata 
lantang di muka umum, Saya tidak malu punya istri Cina!.

Tabahlah Rizal Ramli.. karena Afung , di usianya yang ke 47 tahun sudah kembali 
ke hariban Sang Pencipta. Dengan damai. Dan dengan kesan yang sungguh indah 
selama ini bagi sang suami, bagi saya, bagi teman-temannya yang lain, bagi 
saudara-saudaranya, dan anak-anaknya yang selama ini pula diasuh, diasah, dan 
dicintai sepenuh hati olehnya.

Afung saya tidak bisa lagi deh menikmati masakan ikan segala rupa hasil 
ramuanmu! Tolong dia ya Tuhan pasti KAU maha tahu betapa Afung selama ini sudah 
menjalankan kewajibannya dengan penuh cinta yang begitu luas bagi sesama, 
terutama karena dia sudah berkali-kali masak ikan yang super lezat untuk saya.


Kirim email ke