Refleksi : Usul boleh saja, tetapi apakah rezim SBY yang melekat dengan paham 
Arab Saudia mau mengambil langkat untuk melakukan apa yang diusulkan untuk 
mengusir Dubes Arab Saudia? Tentu saja tak mungkin, sebab ada  kurang lebih 
satu juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mencari nafkah di Arab Saudia . 
Kalau pemerintah Arab Saudia melakukan tindakan balasan dengan  mendeportasi 
TKI secara besar-besaran, akan kalang kabut mencret rezim berkuasa Indonesia, 
karena tidak mampu memberikan pekerjaan kepada mereka yang dipulangkan dari 
sana, Jadi sekalipun  TKI  mengalami siksaan, dipancung kepala dan tangan, 
kadang-kadang TKI tidak dibayar gaji  karena bestatus bagar dan hamal; rezim 
NKRI sangat  berterimakasih kepada negeri tuan sahabat Arab Saudia. Hal ini 
disebabkan, karena mereka mau menerima tenaga kerja yang tidak dapat ditampung 
untuk mencari nafkah untuk hidup nan wajar di Nusantara yang dibilang zamrud 
khatulistwa nan kaya raya dengan kekayaan alam  berkat angureah Illahi.

MUI tentu tidak akan menghiruaukan apa yang dialami oleh para TKI di negeri 
Tuan Sahabat Araba Saudia, karena ada bisnis agama. Bisnis pengiriman jemah  
haji dan umroh.  ini lebih  US$ 1,-- miliar, tiap tahun, jadi ada banyak fulus 
untuk dapat dikantongi.

Selain itu kalau kita lihat poster-poster yang dibawa oleh para pendemo 
solidaritas dengan TKI korban penyiksaan ada tertulis "Arab Saudia biadab", ini 
tentu bisa menjadi bahan filosfis tinggi dengan pertanyaan apakah paham 
kesucian itu benar ada, kalau benar ada maka tentu sekali perlakuan tidak akan 
sebiadab yang dilakukan kepada para TKI/TKW, selain itu jangan dilupakan  yang 
disebut tanah suci menjadi tempat perlindungan para penjahat misalnya:  alm 
diktator Idi Amin dari Uganda dan Ben Ali dari Tunisia etc.  Para penjahat 
mendapat perlindungan di negeri tanah suci dimana saudara-saudari kita disebut 
bagar dan hamal dengan extra bonus disiksa.  

Amin

http://us.detiknews.com/read/2011/06/20/144219/1664201/10/pemerintah-diminta-usir-dubes-saudi-di-jakarta-dalam-waktu-7x24-jam

Senin, 20/06/2011 14:42 WIB

Pemerintah Diminta Usir Dubes Saudi di Jakarta Dalam Waktu 7X24 Jam  
Indra Subagja - detikNews


Jakarta - Pemerintah diminta melakukan kebijakan radikal dalam mengatasi 
persoalan TKI dengan Arab Saudi. Kasus pemancungan TKI seperti Ruyati adalah 
pukulan telak bagi pemerintah Indonesia. Harus ada pembalasan yang setimpal 
kepada pemerintah Saudi.

"Tarik Dubes RI di Riyadh dan juga usir Dubes Saudi di Jakarta dalam waktu 7x24 
jam. Harus ada tekanan dengan penurunan diplomatik," kata Analis Kebijakan 
Migrant Care, Wahyu Susilo, Senin (20/6/2011).

Wahyu menilai, pemerintah selama ini hanya pura-pura panik. Begitu ada kasus 
TKI meletus seperti Ruyati ini, semua lembaga pemerintah terkait akan ribut 
bicara tanpa ada implementasi di lapangan.

"Hanya palsu saja, untuk pencitraan," imbuhnya.

Karena itu, agar kasus Ruyati dan penyiksaan TKI tidak lagi terulang, 
pemerintah harus berani mengambil tindakan. Jangan biarkan harkat dan martabat 
warga Indonesia seolah tidak berharga tanpa diperjuangkan.

"Tapi saya yakin pemerintah tidak akan berani mengambil tindakan radikal. 
Paling realistis pemerintah melakukan moratorium," jelasnya.

Pemerintah bisa mencontoh Filipina yang berjuang serius mengurusi pekerjanya 
yang di Timur Tengah. Bahkan, mereka sampai membuat tim khusus guna 
menyelesaikan urusan pekerja mereka.

"Filipina sudah membuat standar minimal gaji untuk pekerja mereka baik di Saudi 
atau Malaysia. Kalau pemerintah kita tidak mempunyai daya tawar, jadi tidak ada 
standar minimal. Ini juga merusak pasar," imbuhnya.

Wahyu juga menyindir langkah pemerintah yang belum berbuat maksimal atas 
ratusan TKI yang terancam hukuman mati. "Kita mencatat ada 23 di Saudi dan 345 
di Malaysia. Kita berharap pemerintah cepat bertindak," tuturnya.


++++

http://us.detiknews.com/read/2011/06/20/153059/1664338/10/mui-minta-isu-ruyati-tak-dikaitkan-dengan-boikot-ibadah-haji?nd991103605

Senin, 20/06/2011 15:30 WIB

MUI Minta Isu Ruyati Tak Dikaitkan dengan Boikot Ibadah Haji  
Indra Subagja - detikNews


Ma\'ruf Amin 




Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar isu Ruyati di Arab Saudi 
tidak dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah haji. Terlalu berlebihan bila kasus 
TKI lantas dibalas dengan pemboikotan haji.

"Jangan berlebihan, masalah hukum dan masalah haji berbeda. Haji itu masalah 
umat, itu ibadah. Kalau TKI itu menyangkut negara, artinya pemerintah lakukan 
protes saja," kata Ketua MUI Ma'ruf Amin saat dikonfirmasi, Senin (20/6/2011).

Isu boikot haji berkembang di ranah sosial media twitter. Sejumla tweeps 
menyerukan pemboikotan ibadah haji menyusul pemancungan Ruyati.

"Kita berharap masyarakat tidak mengaitkan urusan ibadah haji dan urusan 
hukum," terangnya.

Ma'ruf Amin juga meminta sikap perilaku warga Saudi yang menyiksa TKI tidak 
dikaitkan dengan sikap Islam. "Islam dan adat berbeda. Dan itu watak ya, jadi 
beda. Sikap seperti itu bukan cerminan Islam, harus dibedakan," jelasnya.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke