Bakar Diri
Pendeta Tibet yang Bakar Diri Dikremasi
Wisnu Dewabrata | Agus Mulyadi | Kamis, 18 Agustus 2011 | 16:48 WIB 
 SHUTTERSTOCK Ilustrasi 

BEIJING, KOMPAS.com — Seorang pendeta Buddha yang meninggal dunia setelah 
melakukan protes dengan cara membakar diri, Rabu (17/8/2011), dikremasi.
Aksi bakar diri itu digelar sebagai protes terhadap kebijakan Pemerintah China 
terhadap etnis Tibet. 

Kepastian terkait kremasi disampaikan para aktivis kampanye The Free Tibet di 
London. Mereka juga memastikan bahwa sang pendeta, Tsewang Norbu (29), tewas, 
Senin (15/8/2011), setelah menyiram badan sendiri dengan bensin, lalu 
membakarnya, sebagai bentuk protes, di Kabupaten Daofu, kawasan barat China. 

Dalam pemberitaannya, kantor berita China, Xinhua, juga memastikan proses 
kremasi sesuai ritual Tibet. Sejumlah pendeta dan anggota keluarga Norbu juga 
dipastikan datang saat pelaksanaan kremasi. 

Insiden bakar diri sebagai bentuk aksi protes seperti itu sudah dua kali 
terjadi. Pada bulan Maret, seorang pendeta berusia 21 tahun juga melakukan hal 
sama di Provinsi Sichuan, untuk memprotes kebijakan "tangan besi" China di 
Tibet. (AP/DWA) 



Biksu Bakar Diri sebagai Tanda Protes
Egidius Patnistik | Selasa, 16 Agustus 2011 | 13:53 WIB 
 
BEIJING, KOMPAS.com - Tentara dan polisi, Selasa (16/8/2011), mengepung sebuah 
biara di China barat daya. Di dalam biara itu seorang biarawan Tibet membakar 
dirinya, lalu tewas, sebagai tanda protes. Tentara dan polisi telah memutuskan 
aliran listrik, air dan makanan bagi sekitar 100 biksu di dalam biara, kata 
para saksi. 

Warga setempat mengatakan kepada AFP melalui telepon bahwa orang asing telah 
dilarang bepergian ke daerah di Kabupaten Daofu, Provinsi Sichuan, dekat Tibet, 
wilayah di mana biarawan berumur 29-tahun itu membakar dirinya, Senin. 
"Setidaknya 1.000 tentara dan polisi menjaga biara itu dan sekitar 100 biksu 
ada di dalamnya," kata salah seorang biarawan dari dalam biara. "Listrik dan 
air telah diputus selama berhari-hari, dan kami tidak punya persediaan 
makanan." 

Kelompok hak asasi manusia Free Tibet yang berbasis di London mengatakan, biksu 
itu, Tsewang Norbu dari biara Nyitso, membakar dirinya setelah minum bensin dan 
penyemprotan dirinya dengan cairan yang mudah terbakar tersebut. Dia terdengar 
berseru, "Kami warga Tibet ingin merdeka", "Hidup Dalai Lama", dan "Biarkan 
Dalai Lama kembali ke Tibet" sebelum dia meninggal, kata kelompok itu. 

Sichuan memiliki populasi etnis Tibet yang besar. Banyak dari mereka menentang 
apa yang mereka katakan sebagai kekuasaan represif China. Namun klaim tersebut 
disangkal pihak Beijing. Wilayah itu telah mengalami sejumlah kerusuhan selama 
beberapa tahun terakhir. 

Peristiwa Senin kemarin merupakan pembakaran diri kedua yang dilaporkan tahun 
ini di daerah Sichuan, di mana banyak biarawan menghormati Dalai Lama, pemimpin 
spiritual Tibet, yang meninggalkan China tahun 1959 setelah pemberontakan yang 
gagal terhadap kekuasaan China. Maret lalu, seorang biarawan muda bernama 
Phuntsog membakar dirinya dan kemudian meninggal di dekat Biara Kirti di 
Kabupaten Aba, sekitar 200 kilometer dari Daofu, dalam sebuah protes terhadap 
pemerintah. 

Pemilik hotel dan restoran di Daofu mengatakan, ada banyak tentara dan polisi 
di kota itu. Tempat mereka tidak lagi menerima tamu asing. "Ada banyak tentara 
dan polisi di jalanan. Mereka telah mengepung biara dan kantor-kantor 
pemerintah," kata seorang pemilik hotel, yang tidak mau disebut namanya. 
Seorang pemilik restoran mengatakan, polisi dan tentara telah mendirikan 
penghalang di jalan di sekitar daerah itu dan memeriksa setiap kendaraan yang 
mendekati markas pemerintah dan biara. Seorang pejabat di kantor pemerintah 
Daofu menolak untuk berkomentar tentang kondisi itu.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke