Ref: Bukan hal baru, jika Indonesia (NKRI) dikuasai oleh para maling. Hal ini 
tentunya akan menimbulkan pertanyaan  pada pihak berpikiran waras yang bukan 
berkelakuan seperti kambing-kambing yang senang mengembik sesuai suara gembala, 
tetapi serius dalam menghadapi kenyataan tanttangan sosial, ekonmi masarakat 
pada umumnya akan bertanya : “Apa faedahnya NKRI bila dikuasai oleh para 
maling?” Jangan dilupakan bahwa maling-maling ini mungkin yang terhebat di 
dunia, sebab mereka menyepuh lidah mereka dengan kata-kata bahasa agama untuk 
menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang suci penerap dan penerus wahyu 
kasih illahi. Anda mau terus-menerus dibodohkan untuk ditipu dan dimelaratkan 
pada turun temurun Anda oleh para maling ini? 


http://groups.yahoo.com/group/propinsi_sumbawa/message/8721


Jefrry Winters: Indonesia Dikuasai Para Maling, Kedaulatan Rakyat tak 
Terbendung! 




Pengadilan yang kini dialami Hosni Mubarak, istri, dan anaknya di Mesir menjadi 
pelajaran bagi para penguasa yang tidak amanah, bahwa mereka akan digilas 
kekuatan rakyat. Sebaliknya, Indonesia harus belajar dari Mesir dan “kegagalan” 
reformasi 1998. Tumbangnya penguasa dzhalim, harus segera diikuti dengan 
pembangunan sistem hukum yang kuat, agar tidak ada lagi orang kuat yang tetap 
mempermainkan hukum.

Demikian benang merah dari diskusi perubahan bertema Pengadilan Hosni Mubarak; 
Pelajaran bagi Indonesia yang diselenggarakan Rumah Perubahan, Selasa (9/8). 
Diskusi menghadirkan ahli timur tengah Zuhaeri Misrawi, pengamat politik dari 
Paramadina Suherdi Sahrasad, dan ahli Indonesia dari Notrhtwestern University 
AS, Prof. Jeffry Winters.

Ketiga pembicara sepakat mengatakan, bahwa kedaulatan rakyat adalah suatu 
keniscayaan yang tidak mungkin bisa dibendung. Orang sebelumnya tidak mengira, 
Hosni Mubarak akan bisa digulingkan. Berkuasa selama 30 tahun dengan hukum 
darurat militer, Mubarak benar-benar kuat. Tentara berada di belakangnya. 
Bahkan Amerika dan Israel mendukung kekuasaannya.

“Namun, kekuatan rakyat ternyata mampu melibas Mubarak. Sampai kini, setiap 
hari demosntrasi masih berlangsung di Mesir. Massa yang terlibat sangat besar. 
Jumlahnya mencapai jutaan orang. Rakyat Mesir ingin membalikkan rezim militer 
dan para kroninya yang sangat berkuasa. Langkah ini antara lain diwujudkan 
dengan membakar kantor pusat Partai Nasional Demokrat yang 20 lantai. Partai 
berkuasa ini menjadi simbol kediktatoran rezim Mubarak yang menindas rakyat,” 
papar Zuhaeri.

People power

Sementara itu, tokoh nasional Rizal Ramli yang didaulat untuk berbicara pada 
diskusi itu mengatakan, para pemimpin bangsa ini harus belajar dari kasus 
Mubarak. Betapa pun kuatnya penguasa, jika tidak amanah, maka dia akan 
digulingkan rakyat. Rakyat yang muak menghendaki perubahan.

Di sisi lain, dia menyatakan perubahan tidak mungkin diharapkan datang dari 
dalam sistem. Pasalnya, banyak dari mereka yang sudah menjadi bagian dari 
masalah. Perubahan juga tidak bisa diharapkan dari pemerintah, karena mereka 
juga terbelit dengan banyak sekali masalah. Perubahan harus dimotori para 
mahasiswa, pemuda, buruh dan kalangan intelektual. Satu-satunya jalan keluar 
dari kemandekan ini, adalah gerakan rakyat. Jadi, people power adalah suatu 
keniscayaan.

“Saya keliling ke banyak daerah. Saya menemukan rakyat sudah muak. Seorang 
sopir taksi curhat kepada saya, selama 16 tahun membawa taksi, dia tidak pernah 
merasa hidup sesulit sekarang. Harga barang makanan mahal, biaya pendidikan dan 
kesehatan mahal. Dia betul-betul berharap segera terjadi perubahan secepatnya,” 
ungkap Rizal.

Dikuasai para maling

Jeffry mengingatkan, salah satu kegagalan utama gerakan reformasi 1998 di 
Indonesia adalah tidak disiapkannya sistem hukum yang kuat. Karenanya, 
Indonesia menjadi suatu negara yang anomali. Ada demokrasi tapi tanpa hukum. 
Demokrasinya tumbuh, tapi hukumnya tunduk di bawah kendali mereka yang kuat 
jabatan dan atau uangnya.

Menurut dia, secara prosedural, demokrasi di Indonesia sudah cukup bagus. Namun 
secara substansial, masih harus banyak diperbaiki. Sistem demokrasi yang 
sekarang dikuasai para maling. Hanya mereka yang punya uang banyak yang bisa 
naik. Setelah berkuasa, mereka kembali maling untuk mengembalikan sekaligus 
meraup untung dari investasi yang dikeluarkan. Yang terjadi seperti lingkaran 
setan.

“Pemilihan presiden secara langsung sudah ok. Tapi karena calon harus dari 
partai, maka hanya para maling saja yang bisa tampil. Untuk tampil harus punya 
uang. Jadi negeri ini sudah dikuasai para maling. Rakyat harus bersatu mengubah 
sistem demokrasi maling seperti ini,” kata Jeffry. (*)

Jakarta, 9 Agustusi 2011

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke