Ancaman Krisis
AS-Eropa di Ambang Krisis
Erlangga Djumena | Senin, 22 Agustus 2011

 AFP/BEN STANSALL Pialang mengamati pergerakan pasar di firma BGC Partners di 
London, Jumat (5/8). Uni Eropa mengingatkan krisis utang menyerang jantung zona 
euro dan bank sentral melakukan tindakan penyelamatan, Kamis, namun harga saham 
anjlok karena pasar mengkhawatirkan resesi. Bursa saham Eropa dan Amerika 
Serikat anjlok lebih dari 3 persen, Kamis, setelah pernyataan Bank Sentral 
Eropa dan Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso berkata, Kita tak lagi 
menangani krisis hanya di wilayah pinggiran Eropa.


NEW YORK, KOMPAS.com - Pekan-pekan gejolak di pasar saham telah membuat para 
pemimpin Eropa dan AS semakin terbuka pada kemungkinan untuk mengeluarkan 
pernyataan soal resesi. Para analis sudah lebih dulu menyatakan resesi akan 
terjadi. Ekonom menyatakan negara maju belum stabil.

Kepanikan masyarakat umum dan kepanikan di pasar finansial soal potensi resesi 
telah membuat konsumen dan pebisnis menghemat pengeluaran. Akibatnya, 
pertumbuhan ekonomi AS dan Eropa akan kembali anjlok setelah tertimpa resesi 
pada 2008.

Pemerintahan juga mendapatkan tekanan dari pasar dan dari sisi politik untuk 
mengurangi pengeluaran. Pada saat keuangan negara tertimpa utang, pemerintah 
sulit menangkal krisis dengan menggelontorkan dana sebagai stimulus ekonomi.

Pekan lalu, angka sudah berbicara. Pertumbuhan ekonomi di zona euro—17 negara 
pengguna mata uang euro—hanya 0,2 persen pada kuartal kedua. Ekonomi Jerman, 
mesin pertumbuhan nomor satu di zona itu, juga hanya tumbuh 0,1 persen.

Morgan Stanley telah memperingatkan AS dan Eropa sedang memasuki masa resesi. 
Pertemuan antara pemimpin Jerman dan Perancis juga tidak berhasil meyakinkan 
bahwa mereka dapat menyelesaikan masalah utang di zona euro.

Kombinasi kabar-kabar buruk itu membuat harga saham global jatuh lagi. Indeks 
S&P 500 di AS turun 4,7 persen dalam satu pekan dan turun 15,3 persen dalam 
satu bulan belakangan ini. Indeks FTSE 100 Inggris turun 12,5 persen dalam 
sebulan, CAC 40 Perancis melemah 18,4 persen, bahkan DAX Jerman melorot 23,8 
persen hanya dalam satu bulan.

Nilai aset sebesar triliunan dollar AS lenyap dalam sekejap akibat penjualan 
saham. Para investor mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman, 
yaitu obligasi Pemerintah AS, franc Swiss, dan yen Jepang.

Ekonom dari AS dan Eropa memangkas proyeksi pertumbuhan. ”Kami merevisi 
perkiraan pertumbuhan AS dan Eropa karena sedang mendekati resesi berbahaya, 
julukan bagi kontraksi pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut, 
yang diperkirakan akan terjadi selama 6-12 bulan mendatang,” demikian dikatakan 
Morgan Stanley.

Kurang senjata

”Kebijakan intervensi dari Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral AS, dan 
Pemerintah AS tidak tepat,” ujar John Silvia, ekonom di Bank Wells Fargo, AS. 
Bagi Eropa dan AS, tak ada ruang lagi untuk menurunkan suku bunga untuk 
menstimulasi pertumbuhan. Bank sentral dapat menekan perbankan agar mengucurkan 
lebih banyak lagi uang ke pasar komersial, tetapi tidak jelas apakah hal itu 
dapat menstimulasi perekonomian.

Di Eropa, negara yang lebih kaya juga mulai mengalami gangguan keuangan karena 
telah memberikan dana talangan ke Yunani, Portugal, dan Irlandia. ”Kami masih 
memerlukan solusi yang berarti di Eropa. ECB tampaknya tidak dipersenjatai 
untuk memecahkan krisis,” ujar Chris Low dari FTN Financial.

Di AS, beberapa ekonom menyerukan agar ada program pembangunan industri seperti 
yang pernah dilakukan sehingga negara itu dapat bangkit dari Depresi Besar 
tahun 1929.

Dalam beberapa pekan ini, Presiden Barack Obama diharapkan mengungkapkan 
inisiatif untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Bank Sentral AS sudah menyiratkan 
masih memiliki senjata untuk meningkatkan pertumbuhan. Dalam pidatonya Jumat 
mendatang, diharapkan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke akan mengungkapkan 
apa yang akan dilakukan.

Goldman Sachs juga telah memeringkatkan program pengurangan anggaran akan 
menurunkan pertumbuhan ekonomi AS lebih dari 1 persen. (AFP/joe

Kirim email ke