Dijamin akan ada tindakan dari aparat hukum pak... yakni tindakan pembiaran 
terjadinya tindak pidana korupsi... karena mafia itu seperti klaim-nya adalah 
merupakan suruhan para penegak hukum. Kalau aparat hukum memang tidak menyuruh, 
korupsi yang sudah amat jelas seperti ini, pasti sudah ditindak.
Dan kalau juga bukan atas perintah Bupatinya, tentu akan
dapat teguran/ dimutasi ke posisi yang tidak enak, tapi kita lihat saja nanti,  
malah bisa2 dapat promosi jabatan.. kalau itu terjadi, berarti ada kemungkinan 
memang korupsinya atas perintah atasan

=================================

From: [email protected]
Date: Sunday, August 21, 2011, 12:39 PM

Dijamin
 tidak akan ada tindakan hukum... meski berakibat dunia pendidikan akan
hancur lebur. Bisa dilihat dibawah berita ini saya beri data berita
setahun lalu (2010), tentang korupsi mebelair (meja kursi untuk murid
dan guru) yang merugikan keuangan negara 500 juta lebih, karena
pembelian fiktif. Sampai sekarang kasus korupsi yang terang benderang
itu tidak diusut, alasan yang disampaikan aparat hukum, bahwa para
kepala sekolah penerima waktu diperiksa ketakutan sehingga tidak mau
memberi keterangan.. maka pemeriksaan tidak berlanjut dengan berbagai
alasan... aneh bin ajaib...

Pertanyaannya, apakah bisa bahwa
pelaku korupsi tidak diperiksa, dengan alasan bahwa pelaku sudah membuat
 surat pernyataan untuk memberi ganti rugi, meskipun akhirnya ganti rugi
 tidak jadi diberikan, dan akan diberikan sambil menunggu mendapat
bagian proyek selanjutnya?


Pelaku
 sebagaimana berita dibawah adalah adik
kandung dari pejabat teras Tulungagung yang ikut pertemuan untuk
konspirasi korupsi, yakni adik kandung Pak Fauzy
Maka
 bisa dilihat, kabupaten Tulungagung yang sejak tahun 2005 sampai tahun
ini (2011) sudah mendapat dana puluhan milyar dari APBN.. hasilnya..
bangunan sekolah tetep hancur.. bangku sekolah yang tiap tahun katanya
beli baru ya tetep barang hancur... mutu pendidikan entah akan hancur
sampai kapan..


Jadi, di Tulungagung hal seperti ini sudah biasa...
Maka saran saya, kalau korupsi, tirulah Tulungagung, jika anda tidak mau 
memberikan keterangan, meski alat bukti
sangat kuat, maka kasus korupsi akan aman. tapi kalau korupsi jangan 
nanggung2... yang besar sekalian atau fiktif sekalian.. jadi ada "biaya untuk 
mengamankan korupsi" agar kebal hukum

http://mnusantara.blogspot.com/2011/08/medianusantara-konspirasi-korupsi-dana.html

Notes

Demi info yang seimbang dan
 tidak sepihak, kami menyarankan agar dilakukan konfirmasi kepada pejabat 
kabupaten Tulungagung.

Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung (bpk. Bambang)  HP: 081335722229

Anggota DPRD kabupaten Tulungagung (bpk. Supriono) HP: 08125905711

(tim)



Siaran Pers PANGGUNG (Paguyuban LSM Tulungagung)

bahwa pada:

Tanggal:17 Agustus 2011

lokasi  :
 Hotel Elmi Surabaya, kemudian pindah ke Hotel Mojopahit Surabaya.

Jam     : sekitar pukul 20.00 - selesai



Bertepatan
 dengan hari proklamasi kemerdekaan, bukannya bagaimana merenungkan hari
 kemerdekaan & bagaimana mengisinya dengan hal berguna, agar negara
 ini bisa maju, tapi malah beraktifitas & ber-konspirasi
merencanakan korupsi dana pendidikan yang seharusnya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan & mencerdaskan generasi penerus bangsa.



Itulah yang patut diduga telah dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten 
Tulungagung, bpk Bambang, Kepala Bagian keuangan kabupaten Tulungagung, bpk 
Fauzi, bersama mafia pendidikan yang sudah beberapa kali diberitakan oleh media 
massa yakni ibu Inggarwati
 yang
 mengakunya merupakan utusan Distributor produk pendidikan di Jawa
Timur, PT. Cipta Inti Surabaya, dan juga mendapat mandat dari PT.
Bintang Ilmu dan PT Mapan yang meng-klaim sebagai Distributor Tunggal
untuk produk2 peningkatan mutu pendidikan dari kementrian pendidikan
nasional, Rudi yang mengaku utusan dari Kadin (kamar Dagang dan
Industri) Jawa Timur, dan beberapa orang lagi yang mengaku utusan dari
DPRD kabupaten Tulungagung serta beberapa orang pengusaha.



Tim
LSM Tulungagung yang sudah lama menduga bahwa banyak korupsi di
Tulungagung direncanakan dliuar kota, setelah mendapatkan info, lalu
membuntuti kepergian beberapa pejabat penting Tulungagung ini. Biasanya
pertemuan2 pejabat dan para mafia koruptor iu dilakukan ditempat hiburan
 malam, (dugem) mungkin karena bulan ramadhan, waktu dibuntuti para
pejabat itu
 pergi ke hotel Elmi kota Surabaya. Dan saat mereka tak sengaja melihat
bahwa ada beberapa anggota LSM dari Tulungagung ternyata
 ada di Hotel Elmi juga, maka pertemuan kelihatan terburu2 dan mereka
bergegas pergi bersama2 entah kemana. Agar tidak ketahuan membuntuti,
 akhirnya hanya 1 orang rekan LSM yang membuntuti, untuk melihat apakah
pertemuan itu bubar, ataukan dilanjutkan ketempat lain. Ternyata rapat
dilanjutkan ketempat lain, yakni di restoran di hotel Mojopahit
surabaya.



Mungkin merasa aman karena tidak melihat lagi kerumunan
 LSM dari Tulungagung, akhirnya pertemuan mereka itu dilanjutkan. Mereka
 tidak mengetahui bahwa ada satu anggota LSM Tulungagung yang mengintip
pertemuan itu.



Hasil pertemuan:



bahwa pekerjaan untuk
peningkatan mutu pendidikan akan diberikan kepada Inggarwati, Rudi dan
pengusaha yang mewakili kepentingan DPRD. Maka pekerjaan akan mulai
diatur agar dalam pelelangan dokumennya diatur, juga mekanismenya
diatur, agar orang lain tidak bisa mengikuti pelelangan dan atau
mengatur panitia agar memenangkan Inggarwati atau orang2nya.



Dalam
 pertemuan itu Inggarwati menjamin, meskipun nanti mekanismenya agak
menyimpang, tidak perlu kuatir jika dilaporkan oleh para LSM,
 karena menurut Inggarwati, dirinya diback-up oleh pejabat tinggi
 kejaksaan agung. Sehingga nanti jika ada laporan dari LSM pada
kejaksaan negeri ataupun kejaksaan tinggi, pasti aparat kejaksaan di
Jawa Timur tidak akan berani memeriksa pekerjaan ini (terdengar nama
Marwan, yang katanya merupakan pejabat yang cukup kuat di kejaksaan
agung, entah apa jabatannya)



Menurut Inggarwati dibeberapa daerah
 yang dia mengerjakan pekerjaan peningkatan mutu pendidikan yang
dibiayai dana DAK pendidikan, meski ada mekanisme yang tidak terlalu
sesuai dengan aturan, dan tidak sesuai dokumen pelelangan RKS serta
barang yang dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi dari kementrian
pendidikan, terbukti aman2 saja, dia menyebutkan kabupaten probolinggo,
kabupaten lumajang, kabupaten Mojokerto, kabupaten Ngawi dan beberapa
tempat lagi diluar Jawa Timur. Yang penting bagaimana panitia mau
memenangkan Inggarwati atau orang2nya. Karena selain punya backing dan
menjalankan perintah dari oknum di kejaksaan agung yang bernama Marwan
tadi
 untuk mencarikan "dana operasional", juga aparat hukum di jawa Timur
dan beberapa tempat lain telah menerima jasa baiknya, baik promosi
jabatan ataupun juga mendapat "setoran" rutin darinya.



Hal ini
ditambahi oleh orang yang bernama Rudi yang mengaku suruhan dari Kadin
jawa timur, bahwa seperti yang dilakukan Rudi sebagai penyedia kain dan
seragam untuk para pegawai negeri di hampir seluruh kabupaten di Jawa
Timur, menyatakan menjamin aman, karena seperti pengadaan kain dan
seragam para pegawai negeri tadi, meski bahan kain tidak sesuai
spesifikasi dan mutu yang ditentukan, tapi terbukti aman2 saja, karena
selain di backing oleh Ketua Kadin Jawa Timur, juga rutin memberi
setoran untuk memelihara aparat hukum.



Dan dijamin dari proses
pengadaan tersebut, dinas pendidikan dan pejabat di Tulungagung, baik
pejabat kabupaten dan DPRD akan mendapatkan bagian yang besar, sekitar
25%-30% dari nilai proyek.



Bahkan, Inggarwati, Rudi cs
 berjanji akan membantu mengatasi masalah hukum yang akan timbul dari
penyelewengan pembangunan gedung sekolah2 yang didanai oleh dana DAK
pendidikan tahun 2010, maupun tahun2 sebelumnya. Karena sudah rahasia
umum, meskipun selama bertahun2 mendapat dana DAK pendidikan untuk
pembangunan dan rehabilitasi bangunan sekolah lebih dari 5 tahun
berturut2, sekolah di Tulungagung yang mendapatkan dana itu, sekolah
tetap hancur. kemana dana pembangunan itu? beberapa waku yang lalu
sempat diperiksa oleh aparat hukum, termasuk adanya pembelian mebelair
(meja kursi) untuk murid dan guru, ternyata yang ada bukan pembelian,
tapi barang lama diperbaiki dan dica/ dipernis, agar tampak baru. dan
itu dalam laporan keuangan ditulis bahwa membeli mebelair baru dengan
besar anggaran adalah sebesar pembelian mebelair baru. Kasus ini pernah
diberitakan oleh media massa, dan sempat diperiksa aparat, ternyata
kemudian tidak ada kabar beritanya.



Jadi selain mafia perampok
 uang negara, rupanya juga mengaku sebagai markus (makelar kasus) dengan
 klaim sebagai suruhan oknum pejabat kejaksaan agung tadi.



Jadi kesimpulan dari LSM Tulungagung,

Bahwa
 pengadaan produk peningkatan mutu pendidikan, akan direkayasa untuk
memenangkan Inggarwati dan komplotannya, dan cenderung akan mengurangi
kualitas dari spesifikasi dan mutu yang ditentukan oleh kementrian
pendidikan nasional, agar ada banyak kelebihan dana yang akan dinikmati
bersama oleh para mafia dan pejabat di Tulungagung, juga untuk
memberikan dana operasional untuk oknum yang bernama Marwan dan para
aparat hukum di Jawa Timur dan Tulungagung. maka perlu dicari info,
siapakah oknum bernama Marwan tadi, dan apa jabatannya di Kejaksaan
Agung dan siapa komplotannya di lembaga aparat hukum Jawa Timur. Karena
kami kuatir ini hanya klaim dari Inggarwati, komplotannya dan pejabat
kabupaten Tulungagung untuk menakut2i LSM di Tulungagung, agar
konspirasi untuk merampok uang
 negara ini tidak dipantau oleh para LSM di Tulungagung.



Dan
kelakuan para pejabat ini sangat merendahkan derajat sebagai pegawai
pemerintah, kok mau2nya disuruh dan dipanggil oleh para mafia ini jauh2
dari Tulungagung ke Surabaya (jaraknya 250 km) untuk patuh dan atau
berkomplot bersama mafia perusak ekonomi bangsa. Dan klaimnya konspirasi
 ini mendapat restu dari Bupati, benarkah?


PANGGUNG

Paguyuban LSM Tulungagung



A.Boegank

koordinator



http://www.prigibeach.com/?soda=YmFjYV9iZXJpdGE=&pan=MzI2MQ==
Senin, 05 April 2010 00:49:31 Wib

                        Tulungagung : Kasek Bungkam, Polisi Buntu
                        Penyelidikan Mark-Up Mebelair SDTulungagung 
(prigibeach.com/Jpos)
 - Upaya polisi mengungkap dugaan mark-up proyek mebelair Dinas
Pendidikan (Diknas) Tulungagung, tampak menemui jalan buntu. Itu
disebabkan sejumlah kepala sekolah (kasek) yang dimintai keterangan di
mapolres memilih bungkam alias tutup mulut.Seperti disampaikan
Kapolres Tulungagung AKBP Rudi Kristantyo melalui Kasatreskrim AKP
Mustofa kemarin. Perwira dengan tanda pangkat tiga balok di pundak ini
mengatakan, kasek hanya sebagai saksi dugaan proyek mebelair yang
merugikan keuangan negara Rp 512 juta. Meski begitu mereka terkesan
ketakutan."Memang tidak semua kasek penerima bantuan yang kami
periksa. Hanya perwakilan saja. Tapi ya itu tadi. Semuanya bungkam
karena ketakutan," tutur mantan Kasatreskrim Polres Blitar ini.AKP
 Mustofa melanjutkan, akibatnya polisi kesulitan menggali keterangan
untuk mengungkap mark up proyek yang bersumber dana alokasi khusus (DAK)
 2007 itu. Namun pihaknya tetap menghargai sikap yang diambil oleh
kasek. "Kami dapat memaklumi sikap mereka. Mungkin karena masih aktif
menjabat sebagai pegawai negeri, mereka memilih bungkam," terangnya.Meski
 gagal, AKP Mustofa menjamin penyelidikan polisi jalan terus. Saat ini
harapan polisi hanya tertumpu pada laporan data hasil audit BPK.
Sayangnya, hasil audit BPK pun bersifat global. Tidak tertulis secara
terperinci item yang diduga digelembungkan oleh dua rekanan."Repotnya
 ya itu, dalam laporan hasil audit BPK tidak ditulis secara rinci. Kami
harus metani (mengurai, red) satu per satu agar semuanya jelas,"
tuturnya.Satu lagi yang menjadi catatan polisi. Yakni terdapat
bukti tanda kesepakatan proyek atau addendum. Intinya, pihak rekanan
bersedia mengganti jika dalam proyek tersebut ditengarai bermasalah."Apalagi
 pihak rekanan sudah mengganti kekurangan dan kesalahan sesuai dengan
ketentuan ganti rugi yang diajukan oleh BPK. Otomatis rekanan pasti
merugi," kata AKP Mustofa.Seperti diberitakan sebelumnya, dua
adik pejabat teras di Pemkab Tulungagung mendapat proyek mebelair untuk
79 SD sebesar Rp 869 juta. Ditengarai proyek pada 2007 itu bermasalah.
Ada dugaan mark up hingga Rp 512 juta.Itu berdasar laporan BPK
yang diungkapkan Kapolres Tulungagung AKBP Rudi Kristantyo. Polisi pun
menyelidiki kasus ini. (tri/her/Jpos)


Kirim email ke