http://www.sinarharapan.co.id/content/read/membangun-jati-diri-bangsa/

27.08.2011 10:51

Membangun Jati Diri Bangsa
Penulis : H Rosihan Arsyad

Seorang mantan diplomat RI yang pernah menjadi dubes di berbagai negara pada 
sebuah kesempatan bertutur, ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Beograd (ibu 
kota Yugoslavia) tahun 1963, dia disambut oleh Presiden Joseph Broz Tito.
Dalam perjalanan dari bandara ke istana presiden, Tito dengan bangga memamerkan 
berbagai infrastruktur megah yang dibangunnya selama memimpin negeri di Balkan 
itu, kemudian bertanya apa yang sudah dibangun Soekarno di Indonesia.

“Karena memang ketika itu negara kita masih miskin, Bung Karno hanya menjawab, 
'I do the character and nation building in my country.' Sepeninggal Tito 
ternyata Yugoslavia bubar, sementara Indonesia masih utuh sepeninggal Bung 
Karno, meski sampai hari ini kita juga didera berbagai persoalan,” cerita 
mantan diplomat yang sudah sepuh itu.

Sampai hari ini nama Bung Karno masih dipuji dan dikagumi masyarakat di Serbia 
(negara bagian yang tersisa dan mewarisi bekas Yugoslavia) karena dia dianggap 
sebagai tokoh yang mampu mempersatukan bangsa yang seplural Indonesia.

Sampai hari ini Republik Indonesia dapat bertahan hingga usianya yang ke-66 
tahun, kemajuan demi kemajuan terus ditapaki oleh bangsa Indonesia.

Namun, banyak yang galau karena seiring dengan berbagai kemajuan di Indonesia 
itu muncul pula berbagai ketidakadilan, kesenjangan ekonomi dan sosial, 
tererosinya nilai-nilai luhur seperti kejujuran dan integritas.

Berbagai tulisan yang dimuat di Sinar Harapan mulai 15 Agustus lalu hingga hari 
ini, guna menyambut HUT ke-66 RI, menunjukkan di tengah berbagai kemajuan kita 
banyak masalah yang kalau tidak diselesaikan dengan baik akan mengancam 
kemandirian, bahkan keutuhan kita sebagai bangsa dan negara.

Betul kita boleh bangga diakui sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di 
dunia dan memperlihatkan kompatibilitas Islam dengan demokrasi, namun sampai 
hari ini demokrasi itu memunculkan berbagai persoalan kronis, seperti buruknya 
perilaku partai-partai politik dan sistem kepartaian kita, yang cenderung 
mengorupsi keluhuran demokrasi.

Boleh saja kita berbangga menjadi anggota G-20, karena GDP kita yang demikian 
besar, tapi di sisi lain di negeri sendiri rakyat tidak bisa makan. Ada 5 juta 
warga negara kita harus mencari makan di negeri orang sebagai unskilled migrant 
workers dengan perlindungan minim.

Sebagai negara terbesar di ASEAN Indonesia disegani, tetapi sekaligus juga 
disepelekan oleh negara-negara lain, bahkan kini terancam hanya menjadi pasar 
karena rendahnya daya saing kita. Banyak aspek dan aset ekonomi kita yang 
terancam dikuasai asing dan mengancam kedaulatan kita.

Pluralitas sekaligus koherensi kita sebagai bangsa juga terancam oleh berbagai 
kepentingan ekonomi, sosial, dan politik dari kelompok-kelompok tertentu. 
Korupsi kini menjadi nilai yang lumrah dan para pelakunya makin muda saja 
(lihat Gayus ataupun Nazaruddin yang di bawah 35 tahun).

Membangun Jati Diri

Satu-satunya jawaban untuk itu semua adalah mengembalikan bangsa ini kepada 
jati dirinya, yakni bagaimana membangun kembali nilai-nilai luhur bangsa ini 
yang didasarkan pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan falsafah Pancasila 
sebagai dasar negara.

Dari situlah berbagai kepentingan nasional (national interest) ditegaskan serta 
dibangun. Karenanya kita mendorong pembangunan wawasan kebangsaan sebagai 
bagian dari pembangunan jati diri bangsa agar Indonesia tetap bisa bertahan dan 
tidak berantakan seperti Yugoslavia.

Oleh karena itu, kutipan dialog Bung Karno dan Tito pada pembukaan tulisan ini 
mengingatkan para pemimpin bangsa kita hari ini bahwa membangun jati diri 
bangsa jauh lebih penting dibanding pembangunan fisik yang tidak berkeadilan 
itu, karena ujungnya bisa jadi sesuatu yang tidak sustainable.

Membangun jati diri bangsa hanya bisa terjadi bila para pemimpin memperlihatkan 
keteladanan dan kepemimpinan yang kuat, inspiratif, dan melaksanakan 
nilai-nilai luhur yang sudah menjadi konsensus bersama para Bapak Bangsa, yakni 
Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI secara konsisten.

Kita harus sadar bahwa jati diri bangsa adalah persoalan sistem nilai yang kita 
percaya sebagai nilai-nilai luhur, yang akan membuat kita mampu bertahan di 
tengah persaingan global.

Selain kembali kepada jati diri, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang 
inspiratif, memiliki integritas, sejalan antara kata dan perbuatan, pemimpin 
yang mampu mewujudkan harapan (visi) menjadi kenyataan, pemimpin yang berani 
mengambil risiko berdasarkan keyakinan bahwa setiap keputusan yang diambilnya 
adalah demi kebaikan bangsanya.

Bila para pemimpin kita hari ini memperlihatkan jiwa-jiwa luhur itu, kita pasti 
akan mencapai Indonesia Raya kembali.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke