Kontroversi
Suhud Sastro Kusumo, Si Pengibar Bendera Pertama
Heru Margianto | Kamis, 25 Agustus 2011 | 12:11 WIB
 SABRINA ASRIL Ilyas Karim mengaku sebagai lelaki bercelana pendek pengibar 
bendera merah putih pertama pada tanggal 17 Agutus 1945.
 DOK PRIBADI Ilyas Karim (berpeci).

KOMPAS.com  Siapa sebenarnya lelaki bercelana pendek pengibar Sang Saka Merah 
Putih saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur, 
Jakarta, 17 Agustus 1945? Ilyas Karim mengklaim lelaki itu adalah dirinya. 
Sementara sejumlah catatan sejarah merujuk pada sosok Suhud, bukan Ilyas.

Dalam buku yang diterbitkan pusat sejarah ABRI disebut, lelaki bercelana pendek 
itu adalah Suhud Marto Kusumo. Irawan Suhud, putra kelima Suhud, meralat nama 
lengkap ayahnya. "Yang benar Suhud Sastro Kusumo," kata dia seperti dilansir 
Tribunnews, Kamis (24/8/2011).

Irawan menyampaikan, keluarga besarnya tersinggung karena sang ayah diklaim 
oleh Ilyas Karim, lelaki sepuh yang kini mendapatkan apartemen di Kalibata 
lantaran mengaku sebagai pengerek bendera pertama.

Irawan menyatakan, ia siap membuka fakta-fakta sejarah untuk membuktikan kalau 
ayahnya adalah pria bercelana pendek pada peristiwa bersejarah itu. Dalam foto 
yang diabadikan 66 tahun lalu terlihat ada empat orang di sekitar bendera.

Menurut Irawan, berdasarkan buku-buku sejarah, lelaki bertopi di sisi kiri 
ayahnya adalah Latif Hadiningrat, orang dekat Bung Karno. Sementara dua 
perempuan di sisi kanan ayahnya adalah istri Bung Karno, Fatmawati, dan 
wartawati SK Trimurti. Keempatnya telah meninggal. Irawan menuturkan, ayahnya 
meninggal pada 1986 di usia 66 tahun.

Keluarga tokoh-tokoh itu, kata dia, masih hidup sampai sekarang. Mereka bisa 
memberikan klarifikasi atas klaim Ilyas. "Kami tak akan menuntut Ilyas Karim. 
Tapi kami ingin meluruskan sejarah yang sebenarnya, orangtua kami adalah yang 
dimaksudkan dalam gambar itu. Para sejarawan juga kaget, ayah kami diklaim 
orang lain. Silakan Pak Irawan datang ke Pusat Sejarah ABRI," tuturnya.

"Atau, yang paling gampang, silakan beliau pergi ke Gedung Joeang 31. Di sana, 
ada satu ruangan, ada gambar yang mengingatkan tentang persitiwa 17 Agustus 
1945, dan ada namanya tertera di situ. Kita hanya mau membela hak bapak, kita 
harus menjaga nama baik bapak, jangan ganggu keluarga kami," tuturnya lagi.

Irawan mengaku tak masalah bila kini Ilyas Karim, sebagai pejuang, mendapat 
hadiah sebuah apartemen di Kalibata oleh Wakil Gubernur DKI Priyanto. Namun, 
tidak dengan mengklaim dirinya sebagai orangtuanya.

Ilyas Karim mendadak tenar. Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, 13 Desember 
1927, ini diwartakan media sebagai sosok pejuang yang terabaikan. "Ya, sayalah 
orang bercelana pendek yang ikut mengibarkan bendera Merah Putih. Hanya saya 
yang masih hidup," kata Ilyas dalam sebuah kesempatan.

Atas pengakuannya itu, Ilyas yang tinggal di pinggir rel di daerah Kalibata 
memperoleh satu unit apartemen di dekat rumahnya. Hadiah yang diberikan 
pengembang apartemen tersebut diberikan secara simbolis oleh Wakil Gubernur DKI 
Jakarta Priyanto.

"Bapak kami ya bapak kami. Dalam buku yang disusun oleh Pusat Sejarah 
(Pusjarah) ABRI ditulis Nugroho Notosutanto, terangkum cerita para pelaku 
sejarah, termasuk (peran) ayah saya dalam peristiwa detik-detik kemerdekaan 
bangsa ini. Buku itu berjudul Detik-detik Proklamasi," Irawan menegaskan.

Bantahan soal sosok lelaki bercelana pendek pertama kali disampaikan Fadli Zon, 
politisi Partai Gerindra yang juga pemerhati sejarah.

"Saya punya buktinya. Buku-buku sejarah yang saya miliki mengungkap, pria 
bercelana pendek itu bernama Suhud," kata Fadli.

Di perpustakaan pribadinya, Fadli menyimpan buku-buku kuno, juga barang-barang 
kuno, termasuk buku yang menjelaskan siapa pria bercelana pendek yang 
mengibarkan Sang Saka Merah Putih saat detik-detik Proklamasi yang dibacakan 
oleh Bung Karno.

"Ini demi pelurusan sejarah. Kasihan kalau sejarah sampai dibelokkan. Makanya, 
saya siap debat Ilyas Karim. Dia bukan pengerek bendera, melainkan Suhud. Fakta 
sejarahnya ada dalam buku-buku yang saya simpan," katanya.

Kirim email ke