http://www.mediaindonesia.com/read/2011/08/29/255015/70/13/Aroma-Durian-di-Kemenakertrans
Aroma Durian di Kemenakertrans Senin, 29 Agustus 2011 00:00 WIB Komentar: 0 0 0DURIAN rupanya simbol uang bagi praktik suap dan sogok. Dua pejabat Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan seorang pengusaha perempuan ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus sogok-menyogok yang menggunakan kardus bekas buah durian. I Nyoman Suisnaya, Dadong Irbarelawan, dan Dhanarwati tidak memilih sembarang kardus. Mereka menggunakan kardus bekas durian untuk mengirim uang sogok dan fee sebesar Rp1,5 miliar. Nama durian rupanya menjadi sandi untuk uang. Durian yang beraroma uang pernah muncul dalam kasus Anggodo Widjojo. Ketika itu, Anggodo menanyakan apakah kiriman durian untuk seorang pejabat Kejaksaan Agung sudah dilaksanakan. Dalam kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games XXVI Palembang yang menyeret mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin pun, uang diberi sandi nama buah apel. Apel malang untuk rupiah dan apel washington untuk dolar. Sandi yang makin kreatif itu menunjukkan kian cerdiknya para koruptor mengamuflase duit. Entah istilah sandi apa lagi yang bakal dipergunakan para koruptor untuk mengganti kata uang. Apel di Kemenpora dan durian di Kemenakertrans merupakan puncak gunung es dari praktik korupsi yang mewabah di birokrasi, terutama dalam pengelolaan proyek-proyek pemerintah selama ini. Wabah ini sekarang semakin gawat, bahkan episentrum korupsi muncul juga di DPR, terutama dalam fungsi anggaran. Kita rupanya akan kehilangan momentum dari kasus Nazaruddin untuk membongkar gunung es korupsi. Kita juga sudah kehilangan momentum Gayus Tambunan. Sekarang bangsa ini diberi lagi momentum melalui korupsi yang dibongkar di Kemenakertrans. Tinggal semua pemimpin dan pemangku kebijakan mau atau tidak menggunakan momentum ini. Selama penegakan hukum cenderung mengerdilkan kasus-kasus korupsi, bangsa ini akan tetap miskin dan tertinggal, karena uang rakyat dirampok melalui sistem pembiayaan dan anggaran yang amat korup. [Non-text portions of this message have been removed]
