REF:  Kalau hasil suara rakyat pada pemilihan pimpinan MRP  tidak dikehendaki 
oleh rezim berkuasa,  mengapa Menteri Dalam Negeri tidak langsung saja tunjuk  
orang-orangnya yang dikehendaki dari pada  harus buang-buang uang dan waktu 
untuk pemilihan kedua kali.  Tetapi, begitulah ‘demoncrazy’ rezim Neo Mojopahit 
harus sesuai dengan tradisi dan kehendak sang raja dan begundal-begundalnya 
agar supaya upeti ke pusat kerajaan  berjalan lancar.

http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=3118

  
Sabtu, 27 Agustus 2011 , 05:26:00


Pemilihan Lagi, Timotius Murib Pimpin MRP

 


JAYAPURA – Meski pada akhir Mei 2011 lalu unsur pimpinan Majelis Rakyat Papua 
(MRP) telah dipilih yaitu Dorkas Duaramuri sebagai ketua, Pdt. Herman Saud 
sebagai wakil ketua I dan Timotius Murib sebagai wakil ketua II, namun Jumat 
(26/8) kemarin pemilihan unsur pimpinan MRP itu dilakukan lagi alias diulang.

Dalam rapat pleno pemilihan tersebut akhirnya terpilih Timotius Murib sebagai 
ketua, Hofni Simbiak sebagai wakil ketua I, dan Engelbertha Kotorok sebagai 
wakil ketua II.
  Ketua MRP Sementara Joram Wambrauw menjelaskan, pemilihan ulang unsur 
pimpinan MRP ini dilakukan menyusul adanya surat dari Menteri Dalam Negeri 
(Mendagri) RI pada 14 Agustus 2011 dan disusul kembali surat dari Mendagri pada 
23 Agustus 2011 terkait pemilihan Ketua MRP Provinsi Papua yang baru.

  “Dengan adanya dua surat dari Mendagri itu, maka pemilihan ketua MRP yang 
lalu dibatalkan dan kemudian dilakukan pemilihan ulang melalui pemungutan suara 
secara mufakat,” katanya.
Joram menjelaskan, mekanisme yang diatur dalam Peraturan MRP sebelumnya yaitu 
dalam Peraturan MRP No.1 tahun 2011 diulang lagi dengan Peraturan MRP No.2 
Tahun 2011 yang kemudian diperbaharui lagi menjadi Peraturan MRP No.3 Tahun 
2011 sehingga mekanismenya dengan mengajukan calon dimulai dari kelompok kerja 
(pokja) adat , pokja perempuan dan pokja agama. 

"Dari masing-masing pokja diajukan sedikitnya 3 (tiga) orang sebagai bakal 
calon, kemudian hanya 1(satu) orang saja yang diikutkan dalam pemilihan, yang 
mana dari proses itu maka pokja adat yang keluar sebagai ketua yaitu Timotius 
Murib, pokja agama sebagai wakil ketua I yaitu Hofni Simbiak, dan pokja 
perempuan sebagai wakil ketua II yaitu Engelbertha Kotorok," jelasnya.
  Joram juga menjelaskan, dengan dilakukannya pemilihan ketua MRP yang baru, 
maka para anggota MRP yang berasal dari wilayah Provinsi Papua Barat akan 
dikembalikan ke daerahnya. “Dengan demikian pemilihan yang lalu luntur dengan 
sendirinya," terangnya. Di tempat yang sama, Timotius Murib selaku Ketua MRP 
terpilih periode 2011-2016 mengatakan ini tugas berat yang dipercayakan kepada 
dirinya, oleh sebab itu perlu kerjasama yang baik, sebab ada banyak persoalan 
yang harus dikerjakan.

  Setelah dilantik nanti, dirinya akan melakukan pembenahan dalam berbagai 
program, baik pendek, menengah maupun panjang.  
"Pemilihan gubernur dalam waktu dekat ini harus dilihat keaslian orang tua asli 
Papua dengan mengacu UU Otsus, sehingga bagi abang-abang atau bapak-bapak yang 
merasa dirinya gado-gado sebaiknya mengundurkan diri," tegasnya. 

Sementara itu, Koordinator Program The Institut for Civil Strengthening (ICS) 
Papua, Yusak Reba menilai bahwa pemilihan ketua MRP yang dilakukan oleh anggota 
Majelis Rakyat Papua (MRP) jilid II kemarin sore bakal membuat kredibilitas dan 
komitmen kerja dari anggota MRP itu dipertanyakan.
  "Soal pemilihan itu oke-oke saja, namun bagi saya dengan pemilihan ulang 
seperti ini sudah membuktikan bahwa kinerja dari MRP diragukan. Apakah bisa 
menjalankan fungsi sebagai pengawal Otsus atau kah tidak," tuturnya.

Sebab Kata Yusak, dari awal saja sebagian anggota MRP Papua Barat sudah ke 
provinsinya, hanya karena kepentingan politik, sehingga kinerja mereka sudah 
bisa dipertanyakan, karena kehadiran mereka ternyata bukan untuk memproteksi 
hak-hak dasar orang asli, sebagaimana diatur dalam undang-undang Otsus, namun 
yang dilakukan sudah keluar jauh. “Hal ini harus menjadi catatan bagi anggota 
MRP di Papua. Jangan sampai hal yang sama lagi terjadi bagi anggota MRP di 
Papua,” tegasnya.
"Jika selama ini kita katakan Pusat yang tidak melaksanakan Otsus dengan  baik 
di Papua, ternyata orang Papua sendiri yang malah merusak Otsus di Papua, ini 
bisa terlihat dari lembaga MRP," sambungnya.
Yusak bahkan mengkritisi persoalan di dalam MRP jilid II kali ini, di mana 
waktunya hanya terbuang percuma untuk mengurusi persoaln internal MRP. 
Sementara banyak persoalan hak-hak dasar orang asli Papua yang harus dilihat 
oleh MRP ternyata banyak yang terlewat.

"Saya tidak persoalkan siapa yang menjadi Ketua MRP, hanya saja saya sangat 
mengharapkan agar ketua yang baru bisa menyusun agenda yang baik, sehingga MRP 
ke depan bekerja dengan program yang jelas. Jangan hanya kerja dengan moment 
saja," tambahnya.
Yusak juga mengharapkan agar masyarakat asli Papua bisa ikut mengawasi kinerja 
anggota MRP ke depan. “Saya berharap masyarakat Papua harus ikut mengawal 
kinerja MRP,sehingga tugas dan tanggungjawabnya bisa dilaksanakan sesuai dengan 
amanat Otsus,"katanya.(ado/nal/cak/fud) 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke