Ref;  Bagaimana dengan pembuatan pesawat terbang sipil? 

http://www.ptppa.com/index.php?option=com_content&view=article&id=594%3Aindonesia-bersiap-membuat-jet-tempur-&catid=1%3Alatest-news&lang=in

      Indonesia Bersiap Membuat Jet Tempur  



      Masa transisi industri alat utama sistem senjata (alutsista) pesawat 
tempur TNI dimulai. Sebanyak 37 orang diberangkatkan ke Korea Selatan untuk 
terlibat pembuatan sekitar 150 unit jet tempur antiradar (stealth) KF-X/IF-X. 

      Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, tim engineering 
yang rencana diberangkatkan secara bertahap mulai 17 Juli mendatang dan akan 
berada di Korea Selatan selama 18 bulan tersebut tidak sekadar ikut dalam 
pembuatan. Mereka juga akan menyerap teknologi dalam pembuatan jet tempur 
generasi 4.5 yang dirancang antiradar itu.

      Dengan begitu, ketika mereka kembali ke Tanah Air, Indonesia melalui PT 
Dirgantara Indonesia (PT DI) akan mampu memproduksi sendiri pesawat tempur. 
“Dari sisi macro-policy ini (proyek KF-X/IF-X) adalah briding point (masa 
transisi). Sekarang (PT DI) mampu membangun pesawat penumpang, kita tunggu 
untuk mampu bangun pesawat tempur.

      Struktur pesawat penumpang dengan pesawat tempur itu lain,” ungkapnya di 
Jakarta kemarin. Tim yang dikirim tersebut beranggotakan dari berbagai 
instansi. PT DI mendominasi dengan 24 orang,TNI Angkatan Udara 6, Kementerian 
Pertahanan 3,dan Institut Teknologi Bandung 4.

      “Prinsipnya kita dukung industri dalam negeri, kita ingin kembangkan 
industri nasional. Kalau bisa kita kembangkan di dalam negeri, kita lakukan di 
dalam negeri. Tapi, kalau tidak bisa, kita lakukan dulu joint venture, joint 
production. Jadi, istilahnya local content naik bertahap, tidak bisa drastis 
berubah,” urai Purnomo.
       
      Tim tersebut akan bergabung dengan tim dari Korea Selatan untuk memulai 
pembangunan pesawat tempur KF-X (Korea Fighter Xperimen)/IFX (Indonesia Fighter 
Xperimen) generasi 4.5.Pesawat ini lebih modern daripada jenis-jenis pesawat 
tempur yang dimiliki TNI Angkatan Udara seperti F-16 maupun Sukhoi (SU- 27 dan 
SU-30) karena mereka generasi 4.

      Proyek kerja sama yang rencananya kelar pada 2020 tersebut bernilai USD8 
miliar. Dari jumlah tersebut, sharing pembiayaan antara Indonesia-Korea adalah 
20%:80%. Maka, biaya yang harus diserahkan Indonesia kurang lebih sebanyak 
USD1,6 miliar.

      “Untuk 2011 ini sudah dianggarkan Rp48,5 miliar. Kemudian 2012 kita 
rencanakan Rp100 miliar dan pada 2013, 2014, 2015 masing- masing Rp1,2 triliun. 
Itu rencana kita,” bebernya.

      Kabalitbang Kementerian Pertahanan Eddy S Siraidj menyebut proyek ini 
telah dimulai sejak 2009 berupa penandatanganan letter of intent dan 
dilanjutkan nota kesepahaman pada 15 Juli 2010. “Untuk cost pada 2011, kita 
telah menyampaikan sekitar USD2 juta. September mendatang disusul USD700.000, 
kemudian pada 2012 sebesar USD7,3 juta,” tambahnya.

      Sementara itu, Direktur Utama PT DI Budi Santoso menuturkan, personel 
dari PT DI yang ikut dalam tim yang diberangkatkan ke Korea Selatan sebagian di 
antaranya telah menguasai sepenuhnya apa yang memang mereka kuasai. “Tapi 
sebagian besar adalah sesuatu yang masih setengah kita kuasai,” katanya.

      Selain PT DI, empat dosen ITB yang ahli dalam bidang kedirgantaraan juga 
terlibat. “Memang di dalam fase pertama ini ada empat dosen ITB yang ikut ke 
Korea.Tapi, juga masih banyak dosen ITB yang memang pakar di bidang itu di 
Bandung,” kata Rektor ITB Prof Akhmaloka.

      Akhmaloka mengungkapkan, pihaknya di ITB juga siap untuk mem-back up 
maupun melakukan alih teknologi atas program tersebut. “Rasanya ITB ingin 
bersama-sama dengan yang lain agar proyek ini bisa sukses bersama,” imbuh dia. 

      Sumber : Seputar Indonesia - 12 Juli 201
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke