http://www.sinarharapan.co.id/content/read/kelambanan-polisi-picu-kerusuhan-ambon/
12.09.2011 11:17

Kelambanan Polisi Picu Kerusuhan Ambon
Penulis : Izaac Tulalessy/Lili Sunardi/Vidi Batlolone/M Bachtiar Nur 

 (foto:dok/antaranews.com)
AMBON – Andai saja polisi bergerak lebih cepat, pasti Kota Ambon tidak ricuh 
sebagaimana yang terjadi pada Minggu (11/9). 

Hal itu dikatakan Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan 
Maluku (GPM), John Ruhulessin, yang sangat menyesali kelambanan pihak 
kepolisian dalam menstabilkan situasi dan kondisi keamanan. 

“Seharusnya saat kejadian awal, polisi langsung bergerak cepat menstabilkan 
situasi dan kondisi keamanan serta mencegah provokator menyebarkan isu,” ujar 
Ruhulessin kepada wartawan di Ambon, Minggu.

Ia mengatakan, saat pemakaman Darvin Saiman, di antara massa yang sangat 
banyak, hanya terlihat beberapa personel polisi.

“Akhirnya polisi tidak mampu mengatasi kericuhan yang dilakukan mereka saat 
pulang dari pemakaman,” ujarnya. 

Sementara itu, Kapolda Maluku Brigjen Syarief Gunawan yang dihubungi Minggu 
malam menyatakan, pihaknya bukannya lemah dalam pengamanan. 

“Mohon maaf, kami bukan lemah atau lamban, personel sudah kami turunkan untuk 
amankan titik-titik yang terdapat konsentrasi massa. Polisi senantiasa 
menggunakan pendekatan humanis dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi, dalam 
kasus ini kami tetap proses hukum pihak-pihak yang dianggap telah mengganggu 
keamanan dan ketertiban,” ujarnya 

Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Suharsono bersama Brigjen Syarief Gunawan yang 
langsung turun ke tempat kejadian perkara (TKP), mengimbau warga untuk tidak 
terprovokasi dengan isu-isu yang sengaja diembuskan pihak-pihak tidak 
bertanggung jawab.

Pangdam mengatakan, setelah mendapat informasi telah terjadinya konsentrasi 
massa, pihaknya langsung menerjunkan sekitar 300 personel 733/raider untuk 
mendukung Polda Maluku melakukan pengamanan.

Gubernur Maluku KA Ralahalu juga meminta Kapolda mengusut tuntas kasus ini. 
“Para pelaku yang terlibat harus dihukum,” katanya. Ralahalu juga mengimbau 
masyarakat untuk menahan diri dan tidak main hakim sendiri. 

Tambah Personel

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri Timur Pradopo menambah 
personel Polisi di Ambon, Maluku. Selain itu, Presiden juga memerintahkan 
Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut membantu mengendalikan situasi agar 
keadaan kembali normal.

Inilah salah satu dari dua instruksi Presiden yang dikeluarkan, Minggu (11/9). 
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden, Minggu 
siang, telah mendapat laporan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan 
(Menko Polhukam) Djoko Suyanto.

"Presiden langsung memberikan instruksi kepada Menko Polhukam," kata Julian 
saat dihubungi, Senin (12/9).

Instruksi lain, Presiden meminta Menko Polhukam segera berkoordinasi dengan 
Kapolri, Panglima TNI, dan Gubernur Maluku untuk mengambil langkah yang 
diperlukan agar kerusuhan tidak meluas. Menko Polhukam juga perlu menjelaskan 
keadaan yang sebenarnya terjadi di Ambon. 

Kepolisian telah menambah personel mencapai empat SSK (satuan setingkat kompi) 
di Ambon, Maluku. Kapolri Timur Pradopo mengatakan, kepolisian akan melakukan 
langkah-langkah pencegahan kepemilikan senjata api dan senjata tajam.

"Kami menambah personel yang ditugaskan ke Ambon. Mereka sudah datang pukul 
04.00 pagi tadi, untuk menambah kekuatan di sana" kata Kapolri Timur Pradopo, 
di Istana Merdeka, Jakarta, Senin.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Pori Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, Mabes 
Polri telah mengirimkan sejumlah perwira tinggi untuk membantu meredam 
bentrokan di Ambon. Tim yang dipimpin Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan 
(Baintelkam) ini berangkat sejak Minggu malam. 

Masalah Ekonomi

Pemuda Maluku Indonesia Bersatu (PMIB) menyesali sikap aparat keamanan yang 
kurang tanggap mengantisipasinya, sehingga peristiwa tersebut terjadi. 

"Kami prihatin dan sedih atas kejadian yang terjadi di Kota ambon. Kami meminta 
Presiden segera menginstruksikan Panglima TNI dan Kapolri untuk mengantisipasi 
dan mengusut kejadian di Kota Ambon," ujar Ketua Umum PMIB Ronald A Syuta 
kepada wartawan, di Jakarta.

Ia mengingatkan masyarakat Maluku, khususnya yang berada di Kota Ambon, untuk 
tidak terpancing provokasi. 

Ronald mengungkapkan, selama ini meski telah hidup damai selepas kerusuhan 
antarumat beragama 1999 lalu, Ambon masih terkesan menjadi anak tiri di 
Indonesia.

Minimnya pembangunan di Ambon tanpa bisa menikmati hasil bumi secara maksimal 
setidaknya, menurut Ronald, menggambarkan kondisi Ambon di mata pemerintah. 
Lebih jauh Ronald menilai, tidak tertutup kemungkinan adanya rekayasa oleh 
pihak atau kelompok tertentu dalam peristiwa kerusuhan tersebut. 

"Kami tidak ingin terjadi Ambon part kedua. Kami adalah bagian dari Republik 
Indonesia. Kami tidak ingin Ambon dijadikan ajang kepentingan kelompok 
tertentu. Kami sudah capek, lelah. Kami sudah seperti anak tiri," katanya. 

Koordinator Kontras Haris Azhar menuntut aparat kepolisian segera mengambil 
tanggung jawab untuk melakukan pengamanan secara profesional.

"Kami patut kecewa ketika polisi tidak berada di lokasi bentrok antarwarga di 
Ambon. Terlebih ketika polisi tidak memberikan informasi yang terang dan jelas 
perihal kematian seorang tukang ojek (sebagai pangkal masalah). Kedua, kami 
mendapatkan informasi dari lapangan bahwa banyak tersebar informasi yang 
mengambarkan seolah-olah bentrokan terjadi di mana-mana. Padahal tidak begitu 
dan semoga tidak demikian," ujarnya. 

Musni Umar, sosiolog UIN Syarif Hidayatullah, mengungkapkan, munculnya lagi 
kerusuhan di Kota Ambon mengindikasikan masih adanya akar masalah yg sepenuhnya 
belum terpecahkan. 

"Sebelumnya tidak lagi kita pernah dengar ada hal-hal yang tidak diinginkan 
(kerusuhan). Ini menggambarkan selama ini masih ada akar masalah yang sifatnya 
laten dan belum bisa diungkapkan. Boleh jadi pertarungan memperebutkan 
sumber-sumber ekonomi," ucapnya ketika dihubungi SH tadi malam. "Harus 
dilakukan penelitian untuk mencari apa sebenarnya penyebab konflik," kata Umar. 

Ia memaparkan, kejadian ini bisa pula dilakukan oleh sekelompok pihak untuk 
menarik perhatian pemerintah terhadap persoalan laten yang belum terselesaikan, 
yaitu perekonomian dan pembangunan. 

Sebagai solusi menghindari terjadinya konflik di masa mendatang, menurutnya, 
diperlukan komitmen pemerintah dan penanam modal untuk mengembangkan 
pembangunan dan perekonomian di Ambon. Selain itu, masyarakat juga perlu 
disadarkan secara penuh mengenai potensi memperbaiki kehidupan ekonominya. 

Memburu Provokator

Sosiolog UI Thamrin Amal Tomagola meyakini pengalaman pahit akibat kerusuhan 
berlatar belakang SARA di Ambon akan meminimalkan dampak konflik yang terjadi. 
Masyarakat di Ambon, pascakonflik kemarin, kata Thamrin, telah menyadari 
menjadi korban adu domba. 

"Sudah reda. Ini lebih merupakan korban SMS gosip-gosip yang tidak berdasar. 
SMS yang bohong diikuti hawa anak muda. Rakyat Maluku sudah mengetahui diadu 
domba," kata Thamrin.

"Kabar terakhir dari teman di Ambon, beberapa keluarga muslim yang terperangkap 
di daerah Kristen sudah diantar. Demikian sebaliknya," katanya.

Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Johannes Huwae, saat dihubungi wartawan 
menerangkan, kepolisian saat ini tengah menelusuri penyebar pesan singkat yang 
memberitakan korban bernama Darvin Saimen tewas karena dibunuh. 

Berdasarkan penyelidikan, Johannes memaparkan isi pesan singkat itu adalah 
kebohongan dan kematian Darvin murni karena kecelakaan lalu lintas lantaran 
kehilangan kendali saat mengemudikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi di 
Jalan Perumtel, Desa Keramat, Nusaniwe Ambon. 

Saat ini, menurutnya, kepolisian juga tengah mengejar provokator yang menyulut 
bentrokan dua kelompok masa di Ambon tersebut. “Kalau provokator, tentu itu 
menjadi target kami supaya jangan memanas-manasi situasi. Kami juga sudah 
mengirimkan intel-intel ke lapangan,” katanya. 

BERITA LAIN
  a.. Ambon Berangsur Pulih Meski Masih Mencekam 
  b.. Diduga Dianiaya Majikan, TKW Tewas di Arab Saudi 
  c.. Aparat TNI Aniaya Warga Kluet Tengah 
  d.. Monareh Gugat Wali Kota Manado ke PTUN 
  e.. Setelah Puncak, Rusuh Beralih ke Lany Jaya 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke