http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=34191

RABU, 13 September 2011 | 



Tokoh Agama: Maluku Harus Terus Damai 


Untuk menghindari konflik meluas di Kota Ambon maupun di wilayah-wilayah lain 
di luar Kota Ambon, Ruhulesin meminta aparat keamanan untuk segera melokalisir 
lokasi-lokasi yang bisa memicu konflik baru. "Saya kira kita harus melokalisir 
wilayah-wilayah yang rawan terhadap konflik.

Bahkan seluruh penanganan masalah ini, harus diketahui oleh semua masyarakat, 
baik yang ada di Kota Ambon maupun di luar Kota Ambon. Ini penting dilakukan, 
sehingga konflik tidak membias dimana-mana,”ingatnya. 

Ruhulesin mengaku sangat menyesal, karena konflik yang terjadi di Kota Ambon 
berlangsung begitu cepat. Eskalasi konflik yang terjadi sangat cepat. Olehnya 
itu, aparat kepolisian harus bertindak cepat untuk mengatasinya. “Saya takut 
ada sesuatu dibalik peristiwa yang terjadi di Gunung Nona,”kesal Ruhulesin.

Hal yang sama disampaikan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Idrus 
Toekan. Toekan meminta kepada seluruh masyarakat Maluku untuk tetap menahan 
diri dan tidak terpancing isu-isu menyesatkan. “Saya minta masyarakat untuk 
tetap tenang, dan menyerahkan permasalahan tersebut kepada aparat keamanan 
untuk menyeledikinya,”pinta Toekan. 

Orang nomor satu di jajaran MUI Maluku berharap kedamaian di Maluku yang sudah 
tercipta selama ini tetap dipertahankan. "Saya kira perdamaian di Maluku yang 
sudah tercipta selama ini, harus tetap dijaga sehingga kehidupan orang basudara 
tidak hancur karena kepentingan-kepentingan sesaat,”pintanya. 

Sementara itu ketua forum kerukunan antar umat beragama Provinsi Maluku Idris 
Latuconsina sangat prihatin atas bentrokan antar warga di Kota Ambon. “ Kami 
sangat prihatian dengan kondisi ini, karena kedamaian yang tercipta selama ini 
kembali ternoda,”sesalnya.

Latuconsina meminta kepada pemerintah daerah agar berkoordinasi dengan aparat 
keamanan untuk mengaktifkan kembali aktifitas masyarakat. "Saya kira masyarakat 
harus beraktifitas seperti biasa. Olehnya itu, semua sarana tranportasi, baik 
darat maupun laut harus dijalankan, dengan membuka barikade yang dibuat oleh 
masyarakat,” pintanya. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke