http://www.sinarharapan.co.id/content/read/tiga-kali-rumah-dibakar-saya-mengampuni-mereka/

13.09.2011 13:40

Tiga Kali Rumah Dibakar, “Saya Mengampuni Mereka” 
Penulis : Izaac Tulalessy   


Frangki, warga yang menetap di kawasan Mardika, Kecamatan Sirimau, Provinsi 
Maluku, hanyalah salah satu penduduk yang sangat trauma dengan konflik. Coba 
saja, konflik yang sedang meletus saat ini di Ambon merupakan yang ketiga 
kalinya ia alami. Namun, pengalaman inilah yang paling pahit. 

Betapa tidak, tiga kali konflik, tiga kali pula rumahnya dibakar massa. “Ini 
untuk ketiga kalinya rumah saya dibakar, pertama saat konflik tahun 1999, 
kemudian 2004, dan sekarang 2011,” ungkapnya kepada SH, Senin (12/9).

Frangki yang berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar di Kota Ambon ini, 
akhirnya memilih mengungsi ke salah satu ruang kosong yang ada di sekolahnya. 
Selain istrinya, ia juga melarikan diri dengan membawa serta dua cucunya. Hanya 
barang-barang seadanya yang sempat mereka bawa ke tempat pengungsian.

Di tengah kekecewaannya, ia hanya berharap masyarakat segera sadar dan tidak 
mudah terpengaruh oleh provokasi dari orang-orang tidak menginginkan Kota Ambon 
aman dan berkembang menjadi daerah yang maju. “Sampe jua (cukup sudah-red). 
Jangan lagi ada konflik!” pesan Frangki. Ia tak sanggup lagi menahan air 
matanya.

Akan tetapi bagi Frangki, tak ada rasa dendam yang membekas di hatinya. Ini 
karena ia sangat yakin bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupnya, Tuhan pasti 
memberikan yang terbaik. Kalaupun kegetiran hidup yang menimpa, ini hanya 
karena kegembiraan yang dinanti-nanti belum tiba. “Hanya Tuhan yang tahu. Jadi 
biar saja Tuhan yang bertindak,” tutur lelaki ini dengan nada bergetar. 

Sejak Senin, situasi di Ambon memang berangsur pulih. Aparat Kepolisian dan TNI 
bahu-membahu dengan tokoh masyarakat dan aparat pemerintah daerah melakukan 
pendekatan terhadap kelompok-kelompok yang bertikai. Sangat diharapkan melalui 
pendekatan persuasif dan penyampaian informasi yang benar, kerusuhan tidak akan 
berlanjut lagi.

Belajar dari konflik yang pernah terjadi beberapa tahun silam, TNI/Polri juga 
harus bekerja lebih baik dalam mengantisipasi setiap isu yang sengaja 
diembuskan oleh provokator. Mereka harus segera mendamaikan pihak-pihak yang 
berkonflik. 

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu telah memastikan korban tewas dan korban 
luka akan diberi santunan dan pemerintah Provinsi Maluku akan menanggung biaya 
perawatan kesehatan di rumah sakit. Gubernur juga mengimbau warga supaya 
menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi-informasi sesat yang 
sengaja diembuskan pihak-pihak yang menginginkan Ambon berada dalam kancah 
peperangan.

Pengharapan Damai

Sebelumnya, Kota Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku, sempat mencekam sejak Minggu 
(11/9). Masyarakat berlarian menyelamatkan diri setelah terdengar suara 
tembakan. Polisi yang saat itu hanya berjumlah beberapa orang, memang terpaksa 
melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan massa yang sedang perang batu 
saat bentrokan meletus di pusat kota.

Suara tembakan itu terdengar dari kawasan Diponegoro, Pohon Pule, Airmata Cina, 
dan tanah Lapang Kecil. Warga yang sebelumnya mengalami kejadian buruk seperti 
ini, perang antarwarga di tahun 1999 dan 2004, secara spontan berlari mengungsi 
ke wilayah yang lebih aman.

Bentrokan kali ini dipicu oleh peristiwa tewasnya seorang tukang ojek bernama 
Darving Saiman. Ia sebenarnya tewas akibat kecelakaan lalu lintas tunggal, tapi 
kemudian ada pihak yang menyebarkan isu bahwa korban tewas dibunuh sehingga 
menyulut aksi massa.

Dalam bentrokan itu, massa sempat membakar sejumlah kendaraan roda dua dan 
merusak kendaraan roda empat. Selain di kawasan Mangga Dua, bentrokan ternyata 
meluas ke sejumlah kawasan di Kota Ambon, di antaranya di kawasan Tugu Trikora 
dan Mardika.

Arus pengungsi pun terjadi. Warga mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap 
aman. Ada yang mengungsi ke gedung-gedung milik pemerintah, ada juga yang pergi 
ke sekolah-sekolah. Semua bisa membayangkan, betapa pahitnya hidup di tempat 
pengungsian. Apalagi bagi orang seperti Frangki yang telah tiga kali membangun 
rumahnya karena dibakar oleh massa. 

Mungkin masih ada Frangki-Frangki lain di Ambon. Mereka tak ingin membalas 
dendam terhadap orang-orang yang telah menganiaya mereka dan keluarga mereka. 
Mereka hanya ingin agar jangan ada lagi konflik di Ambon, jangan robek lagi 
luka yang masih menganga itu. Sampe jua…! Cukup sudah...! Tuhan sudah 
mengampuni dosa semua umat-Nya.

++++

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/ambon-kian-kondusif-polisi-sebar-sms-ajak-warga-tak-terpancing/

13.09.2011 13:43

Ambon Kian Kondusif, Polisi Sebar SMS Ajak Warga Tak Terpancing 
Penulis : Ninuk Cucu Suwanti/Vidi Batlolone/Lili Sunardi/M Bachtiar Nur   

 (foto:dok/antaranews.com)
AMBON – Situasi keamanan Kota Ambon, Selasa (13/9) pagi ini dilaporkan sudah 
kondusif. Pihak Polda Maluku, bekerja sama dengan satu perusahan jasa 
telekomunikasi, pagi ini mulai mengirimkan pesan singkat yang mengajak 
masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan berbagai isu menyesatkan.

Sejumlah siswa tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) 
yang masuk sekolah belum dapat mengikuti proses belajar mengajar karena murid 
dan guru yang hadir sangat sedikit.

"Kami disuruh pulang oleh guru sampai ada pemberitahuan lanjutan, karena ada 
beberapa rekan kami yang mengungsi karena rumahnya terbakar," kata Arthur, 
salah satu siswa SMP Negeri 1 Ambon, pagi ini.

Berbagai kantor pemerintah dan swasta juga mulai melakukan aktivitasnya meski 
belum seluruh pegawainya masuk kantor, sementara masih banyak pertokoan yang 
memilih tutup sambil menunggu situasinya benar-benar kondusif dan ada jaminan 
keamanan.

Pengamatan hingga Selasa siang, pegawai negeri sipil (PNS) yang terlihat di 
kantor Gubernur Maluku maupun Balai Kota Ambon relatif sedikit dibanding 
hari-hari sebelumnya yang mencapai ribuan orang. 

Padahal Wakil Wali Kota Ambon Sam Latuconsina telah mengimbau agar PNS kembali 
beraktivitas sebagaimana biasanya, menyusul semakin kondusifnya situasi 
keamanan dengan dibuka barikade pada sejumlah kawasan.

Aktivitas pemerintahan, baik jajaran Pemprov Maluku maupun Pemkot Ambon, yang 
di luar kantor Gubernur maupun Balai Kota, juga terlihat lengang. Hanya saja, 
sejak Selasa pagi terlihat masyarakat telah mendatangi sejumlah kantor teknis, 
seperti Kependudukan dan Catatan Sipil yang berlokasi di kawasan Belakang Soya, 
Kecamatan Sirimau.

Sementara itu, pesan yang dikirimkan Binmas Polda Maluku melalui nomor 3936 
mengajak masyarakat Maluku untuk tidak terprovokasi isu yang memecah belah, 
serta menjaga kedamaian dan keamanan secara bersama.

Imbauan mengajak warga menguatkan ketahanan diri ini disampaikan kepada puluhan 
ribu warga yang memiliki telepon genggam dan menjadi pelanggan Tekomsel. Namun, 
disayangkan pesan singkat ini baru sempat dikirim setelah bentrokan antarwarga 
sudah terjadi dan menelan korban jiwa serta harta benda.

Minyak Tanah Langka

Sementara itu, dua hari belakangan ini minyak tanah mulai menghilang di pasaran 
akibat dampak dari bentrok antarwarga di Kota Ambon yang terjadi Minggu (11/9).

Selasa (13/9), warga dari beberapa desa dan kelurahan yang bermukim di 
Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, mulai mengeluh akibat kesulitan mendapatkan 
minyak tanah.

"Sejak pagi hari saya sudah mencari keliling pada sejumlah pangkalan maupun 
pedagang pengecer minyak tanah di kawasan Kelurahan Benteng, namun tidak 
ditemukan," kata Ronald, warga yang tinggal di kawasan Gudang Arang Kelurahan 
Benteng.

Dia menjelaskan, semua pangkalan minyak tanah di kawasan tempat tinggalnya 
sudah tidak ada yang menjual karena stoknya sudah habis. Ia pun terpaksa 
mengambil keputusan menuju Desa Amahusu dengan harapan di sana masih tersedia, 
ternyata tidak ada.

Yul, pemilik pangkalan Yaneman yang dikonfirmasi membenarkan bahwa minyak tanah 
sudah habis terjual sejak Selasa, dan yang ada hanya bensin. "Minyak tanah 
sudah habis sejak kemarin, karena masyarakat yang datang membeli sejak pagi 
hingga malam hari, itu pun sebagian juga sudah tidak dapat sebab sudah habis," 
katanya.

Sementara, kata dia, yang ia jual saat ini hanya bensin, dan sepakat 
memberlakukan ketentuan, yakni untuk mobil hanya dijual 5 liter dan motor hanya 
2 liter saja. "Terkait harga, kami masih tetap mempertahankan, yakni untuk 
minyak tanah Rp 3.200 per liter dan bensin Rp 5.000 per liter," ujarnya.

Panggil Kepala BIN

Terkait kasus Ambon, Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa siang ini 
menggelar rapat dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi 
(Purn) Sutanto. 

Komisi yang membidangi masalah pertahanan, keamanan, informasi, serta luar 
negeri itu akan meminta BIN menjelaskan informasi intelijen seputar rusuh Ambon.

Menurut Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, Selasa pagi ini, pihaknya lebih 
berdasarkan informasi intelijen dan mendalami sebenarnya siapa pihak-pihak yang 
memicu kerusuhan itu.

Mahfudz mendasarkan adanya provokator dalam kerusuhan itu berdasarkan 
keterangan kepolisian. Polisi setempat menjelaskan, kerusuhan dipicu penyebaran 
isu sesat yang memanfaatkan kasus kecelakaan tukang ojek. "Itu yang akan kita 
gali. Analisis intelijennya untuk maksud apa saja," ujarnya.

Anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat Saan Mustopa di Gedung DPR 
Senayan Jakarta, Senin (12/9) siang menyatakan, Komisi III DPR menyatakan akan 
segera memanggil Kapolri Jenderal Timur Pradopo terkait kerusuhan di Ambon. 

"Komisi III nanti ada rapat dengar pendapat dengan Kapolri. Kita akan minta 
penjelasan Kapolri Jenderal Timur Pradopo soal penyebab konflik di Ambon yang 
tidak kunjung selesai dan upayanya meredam penyebab konflik itu," katanya.

Secara terpisah, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto 
menyarankan agar masyarakat Ambon tidak mudah terpancing dengan desas-desus 
yang tak jelas. Sebab, menurut dia, bukanlah hal yang mustahil ada kekuatan 
tertentu yang selalu menginginkan Indonesia tidak aman.

Ikatan Keluarga Maluku (IKM) Jawa Tengah menyerukan agar warga Kota Ambon 
menahan diri dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang menyesatkan. 

''Kami meminta seluruh warga Kota Ambon, khususnya dua kelompok yang bertikai, 
untuk menahan diri dan tak mudah terprovokasi dengan berbagai isu yang membuat 
panas suasana. Segera akhiri konflik, dan jangan mengulang kembali konflik 
serupa tahun 1999 silam,'' kata Wakil Ketua IKM Jawa Tengah Denny Tulaseket, 
Senin.


Tak Perlu Campur Tangan

Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Thamrin Amal Tamagola berharap, pemerintah 
dan pihak luar lainnya harus memberikan kesempatan pada penduduk Ambon untuk 
menciptakan suasana damai di lingkungannya dengan penyelesaian konflik yang 
harus diselesaikan masyarakat setempat. 

Ia mengatakan, Minggu lalu pun seyogianya kasus tersebut tidak dicampuri pihak 
luar atau pun pihak ketiga yang melakukan pendekatan legal birokratik. “Pihak 
luar jangan dulu ikut campur.

Biarkan masyarakat Ambon, tokoh masyarakatnya dengan tatanan adat dan struktur 
pemerintahannya di sana menyelesaikan persoalan itu,” ungkap Thamrin saat 
konferensi pers “Pesan Damai untuk Maluku”, di Kantor Komisi untuk Orang Hilang 
dan Tindak Kekerasan (Kontras), Jakarta, Senin. 

Thamrin menilai, pengerahan pasukan kepolisian dari Brimob dari Sulawesi 
Selatan dan Jawa Timur untuk mengatasi kericuhan di Kota Ambon merupakan reaksi 
berlebihan. Menurut dia, langkah meredam kericuhan dengan menerjunkan personel 
memakai seragam dan dilengkapi senjata justru menyeramkan bagi masyarakat Ambon 
yang ingin berbaur (berdamai). 

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi mengatakan, situasi di Ambon, 
Maluku, pascabentrok kelompok masyarakat Minggu lalu, berangsur-angsur 
kondusif. Dia yakin tidak akan terjadi bentrok susulan. Menurut dia, masyarakat 
Maluku sudah semakin sadar bahwa penyebab situasi makin panas hanyalah isu-isu 
yang beredar melalui SMS.

“Kalau saya lihat, ini suasanya makin kondusif karena masyarakat tahu bahwa 
yang menjadi masalah itu isu SMS yang beredar,” kata Gamawan, di Jakarta, 
Senin. 

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengaku, telah melacak 
pengirim SMS yang bermuatan provokatif, sehingga mengakibatkan bentrokan 
antardua kelompok massa di Ambon, Maluku, tersebut.

“Kita harapkan yang mengirim pesan singkat itu berhenti, karena sudah terlacak 
dan sebagainya oleh kita. Jangan sampai itu membuat situasi yang sudah kondusif 
menjadi kembali tidak baik,” katanya di Jakarta, Senin.

Saat ini, menurut dia, Polri telah memperbantukan 200 personel anggota Brimob 
dari Makassar dan 200 personel anggota Brimob dari Jawa Timur. 

Kerusuhan tersebut juga telah mengakibatkan sedikitnya tiga orang meninggal 
dunia, dua di antaranya meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah dan satu lainnya 
meninggal di Rumah Sakit Al Fatah. Selain itu, 24 orang luka berat, serta 65 
lainnya luka ringan. (Ant)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke