Mungkin itu yang dimaksudkan oleh penguasa. 

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=34240


JUMAT, 16 September 2011 |


PGI: Kerusuhan Rusak Generasi Masa Depan Maluku


Jakarta, AE.- Kerusuhan yang terjadi di Ambon hanya akan menimbulkan 
kesengsaraan, dan merusak generasi masa depan Maluku. Maka itu masyarakat harus 
sadar, bahwa tidak ada gunanya saling bentrok antar dua komunitas.


Hal ini disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (PGI), 
Pdt. Dr. Andreas Anangguru Yewangoe, kepada Ambon Ekspres, di Jakarta, Kamis 
(15/9).

“Jika masyarakat terus sibuk dengan kerusuhan, kapan mau membina generasi, 
kapan mau membina diri sendiri, kapan mau pedulikan pembangunan, kapan mau 
pedulikan pendidikan, kapan mau pedulikan SDM,” tandasnya.

Semua itu, kata dia akan terabaikan, karena semua orang masyarakat Maluku sibuk 
untuk bertikai. Maka itu dia mengimbau masyarakat untuk meninggalkan pertikaian 
dan kembali pada kehidupan normal.

Meski demikian dia meyakini, masyarakat Ambon dan Maluku secara keseluruhan 
tidak akan mengulangi pengalaman pahit 12 tahun silam. Karena tidak membawa 
keuntungan apa-apa, melainkan kerugian materi dan jiwa.

Dia juga mengapresiasi aparat keamanan yang berhasil melokalisir konflik 
sehingga tidak melebar. Bahkan kondisi Ambon sudah sangat kondusif, arus 
lalulintas dan jalan-jalan sudah normal.

“Kami menyampaikan terimakasih kepada aparat keamanan, yang telah berusaha 
meredam konflik. Tapi saya ingin tegaskan, kehadiran aparat keamanan di sana, 
harus benar-benar sebagai pelindung, tanpa memihak kepada A atau B,” harapnya. 

Sementara itu, Uskup Diosis Amboina Mgr. P.PC Mandagi,MSC meminta masyarakat 
Kota Ambon untuk tidak membiarkan tanah Maluku terutama Kota Ambon untuk 
dicabik-cabik dengan masalah konflik antar warga. “Marilah kita sama-sama 
membangun Provinsi Maluku sebagai provinsi penuh kedamaian dan 
kesejahteraan,”tegas Mandagi ketika memberikan keterangan kepada pers, Kamis 
(15/9).

Pemerintah Provinsi dan rakyat Maluku, lanjut Mandagi, harus tetap menjaga 
perdamaian yang sudah tercipta selama ini pasca konflik 1999 lalu. Pasalnya, 
masih ada orang-orang atau pihak-pihak tertentu baik yang ada di Maluku maupun 
di luar Maluku yang tidak menginginkan kota Ambon tidak damai, demi mendapatkan 
keuntungan ekonomi dan keuntungan politik. 

“Saya kira masih ada pihak-pihak tertentu yang masih menginginkan Maluku, 
terutama Kota Ambon agar tetap berada dalam situasi konflik,”ingatnya.

Dikatakan, aparat keamanan, tidak tanggap dalam melihat persoalan yang memicu 
terjadinya bentrokan antar masyarakat. Mengapa tidak ada tindakan antisipatif 
demi menghindari bentrokan antar warga. 

“Aparat keamanan terkadang menganggap remeh atau kurang peka terhadap persoalan 
yang terjadi di masyarakat, sehingga tidak melakukan antisipasi. Ataukah mereka 
sengaja membiarkan masalah timbul di masyarakat, sehingga mendapat keuntungan 
dari persoalan-persoalan yang ada,”tegasnya. 

Pemerintah Pusat, kata Uskup, janganlah membiarkan Provinsi Maluku khususnya 
Kota Ambon berkubang terus-menerus dalam bentrokan antar warga. “Pempus harus 
memperhatikan dengan sunguh-sungguh kehidupan masyarakat di Maluku, termasuk 
mengusut tuntas kasus bentrokan yang terjadi,”harapnya.

Kendati begitu, Uskup mengaku bangga, karena kondisi keamanan di Kota Ambon 
sudah berangsur-asur pulih pasca bentrokan yang terjadi. “Saya kira ketahanan 
masyarakat kota Ambon baik Islam maupun Kristen sudah baik untuk menjaga dan 
memelihara perdamaian di Maluku terutama Kota Ambon sudah sangat kuat. Ini yang 
harus terus dipertahankan,” harapnya. 

Ketahanan terkait dengan masalah keamanan ini lanjut Uskup, harus semakin 
diperkuat oleh masyarakat serta dibantu oleh pemerintah dan tokoh agama dan 
tokoh masyarakat. Pasalnya, untuk menjaga keamanan bukan menjadi tanggunjawab 
pemerintah semata, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. “Masalah keamanan 
harus menjadi prioritas dari pemerintah, dan bukan disibukan dengan 
proyek-proyek yang megah,”pungkasnya.

Dari Papua, tokoh agama dan tokoh masyarakat asal Maluku juga menyayangkan 
terjadinya konflik. Di tempat Ketua DPRP Papua, Komarudin Watubun, mereka 
menelorkan enam butir pernyataan, diantaranya mengutuk segala bentuk kekerasan 
yang dilandaskan atas nama Agama, Suku. 

Mereka juga menghimbau masyarakat Maluku yang ada di Kota Jayapura pada 
khususnya dan di Papua pada umumnya agar tidak terprofokasi dengan segala 
bentuk isu-isu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan umat yang sudah 
terjalin dengan baik selama ini.

Para tokoh agama yang terdiri dari, Pdt Petrus I Mulayana, Pastor Serfi 
Fanghoy, dan Haji Sayuti ini juga meminta seluruh Masayarakat yang ada di Papua 
tidak membesar-besarkan konflik di Ambon yang terjadi beberapa lalu dengan 
sentimen suku dan agama karena kejadian itu murni tindakan kriminal oleh oknum 
masyarakat yang sengaja ingin menciptakan keresahan ditengah-tengah masyarakat. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke