Ref: Apakah dilarang  menteri berselingkup? Mungkin saja menteri kedinginan 
jadi perlu badanya dihangatkan dan diservice bermamakbiak agar badan bisa segar 
untuk bisa melakukan tugas negara sebaik-baiknya.  Demi kesehatan dan kesegaran 
tubuh, silahkan para menteri  serta anggota itu ini,  bergang-bang ramai-ramai 
dan sesuka-sukanya (Gangbang!). Amin tamat!

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=34301

AE | HALAMAN SATU | 
SELASA, 19 September 2011 | 65 Hits


Kepercayaan Publik Tinggal 37,7%
Menteri Selingkuh, Kepercayaan Rakyat Rontok Terhadap SBY


Jakarta, AE.- Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menilai tingkat kepercayaan 
terhadap pemerintahan Presiden SBY turun tinggal 37,7 persen. Ada sejumlah isu 
yang menjadi penyebab termasuk masalah di 8 kementerian yang ikut mempengaruhi.


Tingkat kepercayaan itu menurun 15 persen. Pada Januari 2010, SBY masih berada 
di angka aman 52,3 persen. Dalam perhitungan LSI, angka 37,7 dianggap tidak 
aman. Korupsi dan skandal selingkuh menjadi salah satu penyebab.

Angka tersebut dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di kantornya, Jl 
Pemuda, Jakarta Timur, Minggu (18/9). Survei dilakukan 5 hingga 10 September 
2011 dengan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden. Teknis 
survei bermargin error 2,9 persen ini dilakukan dengan wawancara tatap muka 
maupun kuisioner.

"Hasilnya, kini hanya 37,7 persen publik yang puas atas kinerja kabinet 
SBY-Boediono. Hanya kurang dari 2 tahun sudah merosot 15 persen," kata peneliti 
LSI Adjie Alfaraby saat memaparkan hasil survei LSI.

Menurut survei tersebut terdapat 5 alasan dominan yang mendorong kepercayaan 
publik menurun. Masalah skandal korupsi menjadi sebab utama. Hal ini terutama 
kasus di Kemenpora dan Kemenakertrans. "Heboh kasus korupsi di Kemenpora dan 
Kemenakertrans bertolakbelakang dengan keinginan pemerintah yang mendengungkan 
ingin memimpin sendiri perang terhadap korupsi. Justru korupsi terjadi di 
rumahnya sendiri, di kementerian pemerintahannya sendiri," ucap Alfaraby 
menjelaskan alasan utama kemunduran kepercayaan publik.

Kedua, kemunduran kepercayaan publik didorong isu-isu negatif di masyarakat 
seperti maraknya ledakan tabung gas, remisi koruptor, perlindungan TKI dan 
kebebasan beragama. "Kasus tabung gas meledak yang sudah membunuh banyak warga 
dianggap teror bom di rumah warga, menggeser isu terorisme. Juga kasus 
dipancungnya TKI Ruyati di Arab Saudi dan soal Ahmadiyah," imbuh Alfaraby.

Ketiga adalah soal hasil kinerja menteri yang dianggap tidak maksimal. Alasan 
ketiga ini lebih mengarah kerja kementerian yang dianggap tidak maksimal yaitu 
di Kementerian Pertanian dan Kemenpera. "Dua kementerian yang bermasalah dengan 
ini adalah Menteri Pertanian Suswono dalam kasus sembako dan Menpera Suharso 
Manoarfa soal kasus perumahan," ujar mereka.

Sementara penyebab keempat dan kelima, lebih merujuk ke alasan personal yakni 
skandal perempuan dan kesehatan. Soal selingkuh -dan sudah dibantah- yakni 
menerpa Menhub Freddy Numberi, Menteri ESDM Darwin Saleh, dan Menpera Suharso 
Monarfa.

Sementara untuk kasus kondisi kesehatan menimpa Menkes Endang Rahayu dan 
Menteri BUMN Mustafa Abubakar. Sehingga kalau dihitung-hitung, ada 8 
kementerian yang mempengaruhi tingkat kepuasan masyarakat. "Secara faktual, 
berita belum tentu benar. Namun selingkuh sang menteri dengan wanita lain 
dianggap sinyal cacat moral. Publik menilai, istrinya saja ditipu apalagi 
rakyat Indonesia yang tidak punya hubungan emosional," kata Al Faraby.

Menurut dia, reshuffle menteri adalah strategi tepat untuk menjaga kepercayaan 
publik di sisa masa pemerintahan. "LSI menyimpulkan reshuffle kabinet untuk 
saat ini adalah sebuah keharusan. Tanpa penyegaran kabinet, prestasi 
SBY-Boediono tidak akan membubung tinggi," kata Alfaraby.

Hanya saja, LSI tidak menyebut secara pasti nama-nama menteri yang harus 
diganti. LSI hanya menyarankan, proses pergantian harus mempertimbangkan 
kualitas menteri baik dari parpol atau profesional. "Presiden perlu lebih 
selektif lagi memilih menteri dari parpol. Publik tidak pernah melihat menteri 
dari parpol atau profesional. Lebih ke pertimbangan kinerja di kabinet. Lebih 
kepada kompetensi di kinerja. 

Karena banyak juga profesional yang di parpol," tukas Al Faraby.

Kendati tidak menyebut nama-nama menteri, dalam survei-nya LSI menyebut 
berbagai nama menteri yang dianggap membuat kepercayaan publik menurun. Mereka 
yakni Menteri ESDM, Menteri BUMN, Menakertrans, Menteri Perumahan Rakyat, 
Menteri Pertanian, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menkum HAM.

Apakah survei ini disponsori pihak tertentu? "Ini survei reguler kepada publik 
terhadap masalah-masalah yang berkembang. Ini survei independen yang didanai 
oleh hasil profit LSI. Profit ini diperoleh dari jasa konsultan politik yang 
diperoleh dari semua partai politik, yang berkompetisi di Pilkada di daerah 
daerah," ujarnya. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke