http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=34299


SELASA, 19 September 2011 | 1157 Hits


Soal Bentrok Antar Warga 
Komnas HAM Nilai Ada Pembiaran 



Ambon, AE.- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai ada unsur 
pembiaran oleh aparat kepolisian dan pemerintah sehingga bentrok antar warga, 
Minggu (11/9) meluas dan tidak diantisipasi secara baik. Lembaga kemanusiaan 
itu juga melansir hak warga kota terganggu akibat bentrok.


Koordinator Komans HAM Maluku, Ott Lawalatta mengatakan,’’ Insiden awalnya 
adalah persoalan di Gunung Nona. Nah, itu tidak diantisikapsi secara baik. 
Misalnya, aparat keamanan harus antisipasi sejak awal agar tidak terjadi 
bentrok,’’kata Lawalatta, kepada sejumlah wartawan Sabtu (16/9).

Menurut dia, aparat tidak peka dan tidak jeli mengantisipasi warga saat proses 
pemakaman korban di pemakaman Mangga Dua. Ia mengaku, saat itu hanya empat 
aparat kepolisian yang sementara menjaga dan mengawal proses pemakaman.’’ 
Kenapa Kapolres Pulau Ambon dan PP Lease mengatakan banyak aparat kepolisian 
yang berjaga-jaga saat itu,‘’kesalnya.

Begitu juga dengan sejumlah aksi bentrok dan aksi pembakaran disejumlah titik 
di Kota Ambon tidak diantisipasi secara baik.’’Akibatnya, ada sekian jiwa yang 
melayang dan kesempatan hidup warga kota tidak berjalan dengan baik,’’sebutnya.

Lawalatta juga mengaku, akibat bentrok yang terjadi membuat hak rasa aman, hak 
atas pendidikan, hak atas pekerjaan , hak hidup, hak pemukiman masyarakat 
terganggu. Komnas baru lakukan investigasi awal untuk melakukan pemantauan pro 
justisia. 

Terhadap masalah itu, pihaknya kini sementara melakukan pengumpulan data di 
lapangan.’’Memang Komnas pusat telah mengirimkan satu orang. Tapi, saya sudah 
menyurat agar ditambah lagi,’’kata Lawalatta yang juga Pembina SILATUPATIH.

SILATUPATIH KUTUK BENTROK
Sementara itu, SILATUPATIH mengutuk keras bentrok antar warga. Atas dasar itu, 
SILATUPATIH meminta kepada aparat penegak hukum agar mengusut tuntas bentrok 
yang terjadi.’’SILATUPATIH adalah komunitas adat yang cinta damai dan 
melestarikan nilai-nilai hidup berdampingan antar sesama basudara gandong yang 
berlainan agama dalam prinsip saling menopang dan menjunjung nilai-nilai HAM 
dalam kehidupan sosial masyarakat dengan semboyan “potong di kuku rasa di 
daging,’’kata Ketua Umum SILATUPATIOH Drs Hi M Husein Ely, M.Si dan 
Sekretarisnya Jhon Soukotta, M.Si dalam pernyataan sikap yang diterima Ambon 
Ekspres, Sabtu (16/9).

SILATUPATIH adalah, komunitas masyarakat adat Sila, Laimu, Asilulu, Tulehu, 
Paperu, Tial, dan Hulaliu. Serta negeri-negeri pecahan Siratuyamawalu, yakni 
Hunisi, Maneuratu, Yamalatu, Mahu, Waipirit, laha Sarane, Laha Islam dan 
Ulahahan.

SILATUPATIH juga meminta kepedulian pemerintah dalam menjamin hak-hak dari 
masyarakat untuk memulihkan keamanan dan segera merehabilitasi pemukiman warga 
masyarakat serta mengganti kerugian dan membantu kehidupan masyarkat yang 
terkena dampak bentrok.

’’Kami juga menyerukan kepada semua elemen masyarakat untuk bersama-sama 
menjaga dan menciptakan kondisi stabilitas demi langgengnya dan majunya 
pembangunan di Maluku. SILATUPATIH juga meminta kerpada warga agar tidak mudah 
terprovokasi dengan isu-isu yang menyesatkan,’’harap mereka.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke