Kabupaten Kaya, Namun Banyak SD Masih Beralaskan Tanah
TRIBUNnews.com – Min, 25 Sep 2011

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Pionerson Ucok
TRIBUNNEWS.COM, KETAPANG - Keberadaan sekolah tidak layak di Kabupaten Ketapang 
belum teratasi sepenuhnya. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Ketapang 
lebih dari Rp 900 miliar tidak mampu menjamin sarana prasarana sekolah milik 
pemerintah di Bumi Ale-ale itu.
Ketua DPRD Ketapang, Gusti Kamboja mengatakan, ironisnya sejumlah sekolah tidak 
layak di daerah pedalaman tersebut seperti di Desa Gerai Kecamatan Simpang Dua 
telah diangarkan di APBD murni 2011, namun dalam APBD Perubahan dana tersebut 
tidak nampak dalam pelaporannya.
"Saya sangat bangga dengan anak didik, meski tidak ada fasilitas pemerintah, 
mereka bersekolah di bangunan atap daun, dinding bambu, dan lantai tanah tanpa 
pintu, mereka tetap semangat," ujar Kepala SDN 30 Tahak Simpang Hulu, Albinus 
Dion kepada Tribun, Sabtu (24/9/2011).
SDN 30 Tahak berjarak sekitar 2,5 kilometer dari kantor camat Simpang Hulu. 
Sekolah ini memiliki total murid 109 orang. Kegiatan belajar mengajar dilakukan 
di ruang kelas berukulan sekitar 3x4 meter.
Sekolah ini dibangun atas swadaya masyarakat dari tiang kayu bulat, atap daun, 
dinding bambu, dan lantai tanah tanpa memiliki pintu.
Sekolah ini hanya memiliki lima ruang kelas seadanya, tanpa memiliki instalasi 
air bersih ataupun sarana WC. Sekolah ini diajar lima orang guru, satu 
berstatus PNS, dua honor, dan dua lagi kontrak.
"Saya tidak berani omong banyak, Anda bisa melihat sendiri faktanya (kondisi 
sekolah), namun dari hasil belajar siswa-siswi bisa cukup membangakan kami," 
timpal Albianus Dion.
Kepala Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu, Julianus Julin mengemukakan, 
SDN 30 Tahak bukan satu-satunya SD Negeri yang kondisinya memprihatinkan di 
daerah itu, SDN 15, SDN Balai Kumai, SDN Balai Simbal, SDN Mungguk Naning, dan 
SDN Kesiau Ledot pun mengalami hal sama.
Jika kemarau, menurut Julianus, aktivitas belajar mengajar di sejumlah SD 
Negeri di daerahnya tidak memiliki gangguan. Namun, kendala tiba saat musim 
penghujan datang, tidak jarang aktivitas belajar mengajar dihentikan lantaran 
sekolah direndam banjir.
"Sebelumnya para murid di kampung itu sekolah di bawah pohon. Satu lokal 
bangunan pemerintah hanya untuk kantor, karena saat musim penghujan tiba, 
aktivitas belajar terganggu, terpaksa warga beramai-ramai mendirikan sekolah 
darurat," ungkap Julianus Julin.
Ketua DPRD Ketapang, Gusti Kamboja menyesalkan tak tercantumnya pengalokasian 
dana sekolah tersebut dalam APBD-Perubahaan 2011.
Menurut Politisi Partai Golkar tersebut, dalam aturannya tidak diperkenankan 
ada pencoretan atau pemindahaan anggaran dari tujuan satu ke tujuan lain, itu 
menurutnya bertentangan dengan aturan.
"Nanti saya cek lagi kemana keberadaan dana tersebut," timpal Gusti Kamboja. 
Seperti diketahui, Kabupaten Ketapang termasuk salah satu kabupaten dengan PAD 
dan APBD yang sangat besar. Tahun 2009-2010, total APBD wilayah ini mencapai Rp 
900 miliar. Ketapang dikenal sebagai wilayah tambang yang sangat potensial. 
Dalam beberapa tahun terakhir wilayah ini melakukan ekspor tambang pasir timah 
ke China dan Singapura. Tak hanya tambang, wilayah ini juga dipenuhi perkebunan 
sawit dan hutan kayu.
Ironis, di kabupaten yang begitu kaya namun masih banyak sekolah yang 
kondisinya memprihatinkan.

Kirim email ke