http://agama.kompasiana.com/2010/09/19/robohnya-gereja-kami/
Robohnya Gereja Kami OPINI | 19 September 2010 | 00:10 417 17 4 dari 7 Kompasianer menilai Inspiratif -------------------------------------------------------------------------------- Terinsipirasi oleh cerita pendek A.A Navis, yang berjudul “Robohnya Surau Kami” maka saya ingin menggantinya kata surau dengan gereja. Tantangannya adalah me-reinventing kembali makna gereja dan bergereja di dalam kehidupan orang percaya. Sebuah lagu selalu terngiang di dalam benak saya ketika berbicara mengenai gereja, demikian syairnya : Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya, bukalah pintunya, lihat di dalamnya, gereja adalah orangnya. Kepusatan dari gereja bukan terletak di dalam gedung, tetapi di dalam diri setiap orang percaya. Setiap orang percaya adalah gereja yang sejati. Di dalam definisi yang sederhana ada tertulis, “kamulah bangsa terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang Nya yang ajaib.” Gereja yang sejati adalah orang-orang yang terpanggil, bahwa gereja yang sejati adalah setiap orang yang mendapat pencerahan dari Sang Terang yang sejati, Yesus Kristus yang memanggil mereka untuk hidup di dalam kuasa anugrah dan kebenaran Allah. Mencermati hal ini, maka kita dapat melihat bahwa ketika berbicara tentang gereja maka pusatnya adalah manusia, dan tidak berbicara tentang gedung, tata cara, organisasi, atau sesuatu struktur yang impersonal lainnya. *** Ada sebuah kisah di dalam kehidupan Kristus yang terkait dengan sebuah bangunan yang disakralkan, demikianlah Kristus bersabda, “Robohkan bait ALLAH ini, maka AKU akan membangunnya dalam waktu tiga hari.” Sambil mencibir keheranan, orang Farisi berkata diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membangun bait suci. Ketika membuat pernyataan tersebut, sebenarnya Yesus Kristus sedang tidak berbicara tentang bangunan bait Allah di Yerusalem di dalam pengertian yang fisikal, tetapi justru dia sedang menunjuk kepada diri Nya sendiri yang lebih besar dibandingkan dengan bangunan fisik bait Allah yang megah di Yerusalem. Yang suci bukanlah bangunan bait Allah yang berdiri megah di Yerusalem, dimana ribuan peziarah bangsa Yahudi dan non Yahudi berkumpul di pelataranya pada setiap kalender keagamaan, tetapi yang suci adalah diri Nya. Perkataan tersebut merupakan nubuatan apa yang akan terjadi terhadap dirinya, yaitu melalui kematian Nya dan kebangkitan Nya pada hari yang ketiga, yang memberikan kesaksian kemenangan kehidupan atas kematian. Sebuah revolusi telah terjadi di dalam perkataan tersebut, yaitu nilai sakralitas telah diletakkan kepada yang sejati, bukan pada tataran fisikal yang dapat diraih, diraba, dirasa, dilihat, tetapi yang dapat dirobohkan dan diluluhlantakan, tetapi diletakkan kepada tataran keberhargaan kehidupan itu sendiri. Yang suci dan sakral bukan bangunan itu, yang mati dan impersonal, tetapi kehidupan itu sendiri. Di dalam bagian lain di dalam Kitab Suci dikatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Di dalam diri setiap orang percaya, (Roh) Allah hadir di dalam hidupnya. Kehadiran Allah yang hidup ini memberikan kehidupan yang sejati pada setiap orang yang percaya. Allah yang beserta kita itulah gereja yang sejati. Gedung gereja pasti akan lapuk, roboh, ketinggalan zaman, dimakan rayap, lenyap dan mati tetapi bukanlah demikian gereja yang sejati. Gereja yang sejati diletakkan di atas dasar yang kokoh, yaitu di dalam karya Yesus Kritus, dan tidak ada yang dapat meletakkan dasar lain selain dari Dia yang disalib dan bangkit mengalahkan kematian. *** Kita sering terpukau dengan simbol, apalagi hal tersebut terkait dengan simbol keagamaan. Simbol itu menjadi suci. Simbol itu mampu membangkitkan sensasi religius kita. Simbol itu menjadi dasar identitas kita. Eksistensi saya melekat dengan simbol tersebut. Ketika simbol tersebut diganggu, maka esksistensi diri kita menjadi terganggu. Dan secara tidak sadar kehidupan “siapa saya” yang berharga telah direduksi di dalam keterbatasan simbol tersebut yang fana. Demi simbol itu bahkan darah tertumpah. Simbol-simbol dapat diwujudkan di dalam bentuk-bentuk fisik (non verbal), maupun di dalam bentuknya yang non verbal. Simbol tersebut seperti hendak mewakili kenyatan rohani, tetapi terbatasi di dalam kodratnya yang badani. Simbol tersebut hadir dan dibatasi di dalam ruang dan waktu tertentu. Adalah ironis jikalau simbol yang terbatas itu menjadi sebuah manifestasi kehadiran Allah yang tidak terbatas. Dan betapa lelahnya kehidupan kita ketika eksistensi kehidupan keberagamaan kita ditentukan oleh eksistensi simbol-simbol tersebut. Simbol itu bisa berarti apa saja di dalam persepsi orang-orang di sekitarnya; keamanan, keimanan, gangguan, tantangan, ancaman, ketakwaan, pemurtadan, dsb. Di dalam pengertian yang demikian maka bangunan gereja, tempat ibadah, atau media keagamaan lainnya adalah juga sebuah simbol. Tetapi kehidupan rohaniah kita sebenarnya tidaklah dibatasi dan ditentukan oleh simbol-simbol tersebut, jikalau sebaliknya yang berlaku maka kita akan menjumpai banyak kesesatan di dalam memaknai kehidupan rohani kita. *** Ada hal yang tidak dapat diraba, dilihat, dirasa, dicium, didengar oleh panca indera kita, tetapi dapat diterima oleh setiap orang yang lahir dari pada Allah. Hal itu bukanlah simbol fisik lahiriah yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal itu adalah simbol yang rohani yang lahir dari pekerjaan Roh Allah. Simbol itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi justru menembus ruang dan waktu. Ada tersurat, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Di dalam percakapan dengan seorang perempuan kafir Samaria, Yesus dengan jelas bersabda, bahwa saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa kamu tidak perlu pergi ke Bukit Gerizim, atau bagi orang Yahudi ke Yerusalem, ke suatu tempat yang dibatasi oleh ruang tertentu dan pada waktu tertentu. Tetapi justru Yesus menghadirkan sebuah platform yang sejati untuk para penyembah, yaitu menyembah di dalam roh dan kebenaran. Di dalam pernyataan yang demikian, Yesus Kristus menjadi pusatnya, Dia lah Rohul’lah, Dia lah Kalimatullah yang menjadi manusia, Sang Firman yang menjadi manusia, Dia lah jalan, kebenaran dan hidup. Di dalam keintiman relasi batiniah antara kita dengan Allah terletak kuasa yang mengubahkan kehidupan. Sehingga kemudian buah keberagamaan yang sejati dirasakan oleh orang lain di sekitar kita. Buah Roh itu lahir dari kehidupan yang demikian yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, serta penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal itu, artinya adalah kebenaran yang absolut. Sesuatu yang benar selalu lahir dari Sang Kebenaran, Roh Kebenaran. Buah itu dirindukan oleh setiap orang, kehadirannya dinantikan, rasanya ingin selalu dicicipi untuk memberikan kesegaran dan kelegaan yang sejati. Buah itu yang seharusnya mewarnai kehidupan kita menjadi indah lestari. Tantangan bagi orang yang beragama adalah bagaimana menyatakan buah-buah kehidupan itu di dalam kehidupan praksis sehari-hari, dan bukannya terjebak kepada simbol-simbol yang akan dimakan ngengat dan karat kehidupan ini. Ketika agama dihidupi di dalam tataran lahiriah/wadah maka kita menyangkali makna kerohanian itu sendiri. Agama bukan sesuatu yang membebaskan, justru yang memperbudak. Bukan kehidupan kita yang dipuaskan oleh hadirat Allah, tetapi kita justru menjadi budak pemuas nafsu lahiriah naluri keberagamaan kita, seolah-olah kita menjadi orang yang paling berjasa kepada Allah sesembahan kita. Bukan dari hal yang lahiriah yang mengubahkan kehidupan kita, tetapi selalu dari hal batiniah yang menjadi dasar transformasi kehidupan kita. Dari dalam-ke-luar, inside-out. Ketika memberi penekanan kepada kehidupan yang lahiriah saja, maka hidup kita seperti kuburan yang dicat putih bersih dan indah, tetapi di dalamnya penuh dengan bangkai, sesuatu yang busuk-busuk. Indah di mata, tetapi keropos di dalam batin, mengalami split personality yang sesungguhnya. *** Gereja adalah orangnya. Daya kreasi kehidupan lahir dari orang-orangnya. Gedung gereja bisa dirobohkan, tetapi tidak ada sesuatupun, baik itu penderitaan, sakit, penyakit, bahkan kematian yang dapat memisahkan dan merobohkan orang-orang kepunyaannya (yang adalah gereja) dari kasih Allah. Kristus bersabda, “Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama Ku, maka Aku ada ditengah-tengah mereka.” Kristus hadir di dalam kehidupan dan setiap pertemuan bersama orang percaya dimana pun juga, dan pertemuan itu pun tidak dibatasi oleh tembok-tembok gereja kita, dan jusru tantangannya adalah kita perlu merobohkan “tembok-tembok gereja” yang membelenggu kita untuk “bergereja” di dalam arti yang sesungguhnya. Di dalam nama Yesus, saya adalah gereja, dan di keluarga saya bergereja, di tempat kerja saya bergereja, di warung kopi saya bergereja, di saat suka-duka, sakit-sehat dan bahagia-menderita saya bergereja, dimanapun dan kapanpun saya berada saya bergereja, di tempat-tempat tak terduga oleh karena kehendak Nya saya bergereja, dan bukan hanya di gedung gereja saya bergereja, supaya segala kemuliaan hanya bagi Dia. Selamat merobohkan “gedung” gereja. Salam Taklim Kang Samad [Non-text portions of this message have been removed]
