Amerika Tunggang Langgang Penulis : Fransisca Ria Susanti http://jakartapost.blogspot.com
Krisis ekonomi memukul negara-negara di Zona Eropa, juga Amerika. Getarannya terasa hingga di negara-negara di kawasan Asia, juga Indonesia. Di Amerika Serikat, negara adidaya yang pasca-Perang Dunia II muncul sebagai polisi dunia, krisis lanjutan ini memperparah krisis yang mereka hadapi setelah ambruknya lembaga-lembaga raksasa keuangan dunia di Bursa Saham Wall Street 2008 lalu. Krisis ini melahirkan pertanyaan dan kebimbangan tentang formula tunggal penyelamatan dunia yang dipercayai AS selama bertahun-tahun. Resep demokrasi dan kebijakan ekonomi AS digugat, justru dari dalam negaranya sendiri. Sepanjang bulan September, berita utama (headline) majalah-majalah ekonomi terkemuka cukup pedas menuding. Fortune edisi 5 September mengangkat berita utama “American Idiots”, Bloomberg Businessweek edisi 19-25 September menulis “America isn’t Working” dengan gambar sampul antrean panjang para pencari pekerjaan. Meskipun berita utama Newsweek edisi 19 September bersuara moderat “Let's Just Fix It”, ini sebenarnya juga menunjukkan ada yang “salah” dengan sistem AS. Jumlah penganggur di AS memang meningkat drastis. Setidaknya 14 juta penduduk di AS kini tanpa pekerjaan. Riset terbaru yang dipublikasikan Huffington Post pekan lalu menyebut 25 persen balita di AS hidup dalam kemiskinan. Studi yang dilakukan para peneliti dari Carsey Institute di University of New Hampshire ini menunjukkan jumlah anak AS di bawah usia enam tahun yang hidup dalam kondisi miskin meningkat dari 5,7 juta di tahun 2009 menjadi 5,9 juta di 2010. Jumlah anak AS yang dalam kemiskinan telah membengkak 2,6 juta sejak krisis ekonomi mulai. Riset berbeda yang dimotori Annie E Casey Foundation yang dipublikasikan sebulan sebelumnya menyebut jumlah anak yang hidup dalam kemiskinan melonjak di 38 negara bagian selama 10 tahun terakhir. Meningkatnya jumlah anak miskin ini seiring dengan membengkaknya angka pengangguran di AS dan makin tak seiringnya peningkatan upah pekerja dengan laju inflasi. Badan Sensus AS pertengahan September lalu mengumumkan 46,2 juta penduduk AS hidup dalam kondisi miskin. Di New York, tempat di mana Wall Street bermarkas, 2,5 juta penduduknya dalam rentang waktu 2008-2010 tak cukup pangan. Sebuah temuan mengejutkan yang diluncurkan Kementerian Pertanian AS (USDA) pekan lalu. Tunggang Langgang AS hari-hari ini benar-benar berada dalam situasi yang digambarkan oleh sosiolog Anthony Giddens sebagai “runaway”, tunggang langgang. “…..gelisah, terluka, dan merasa berada dalam cengkeraman yang sulit dikendalikan.” Giddens membuat istilah “Runaway World” untuk fenomena globalisasi di mana kemajuan Teknologi Informasi akan membuat manusia “berlari” dalam sebuah sistem ekonomi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski mengkhawatirkan dampak globalisasi, Giddens saat meluncurkan analisisnya di tahun 2002 percaya bahwa dunia bisa mengatasinya. Giddens agaknya lupa memperhitungkan bahwa new riskiness to risk dari globalisasi bukan semata dampak buruk teknologi terhadap manusia, tapi juga spekulasi. Spekulasilah yang membuat ekonomi AS terguncang. Jatuhnya Lehman Brothers dan lembaga keuangan raksasa lainnya di tahun 2008 menjadi awal dari krisis berkepanjangan saat ini. Upaya pemerintah untuk “menyelamatkan” pasar dan dampak yang ditimbulkannya berujung pada utang negara yang membengkak menjadi US$ 14,4 triliun per 15 Juni 2011. Kapitalisme liberal yang mensyaratkan deregulasi pasar menjadi biang kerok hiruk pikuk di Wall Street. Sejak era Ronald Reagen, AS menolak sistem ekonomi terpusat karena itu identik dengan sosialisme, sistem yang dipakai oleh negara-negara komunis yang menjadi musuh terbesar AS di masa perang dingin. Namun, nyatanya liberalisme ini tak membawa keselamatan apa-apa. Globalisasi yang diancangkan untuk menjadikan liberalisme menjadi plafon tunggal sistem ekonomi dunia, tak lebih dari penyebaran “business model” Amerika Serikat yang “cacat”. J Phillip Thompson, Associate Professor of Urban Politics dari Massachusetts Institute of Technology dalam kuliah singkatnya di depan para peserta program IDEAS 3.0 yang diselenggarakan MIT Sloan Management dan United In Diversity di Cambridge, Massachusetts, pertengahan September lalu, mengatakan bahwa “Amerika Serikat survive karena bersandar pada ongkos buruh yang murah dengan mengabaikan hak-hak mereka. ” Buruh-buruh murah ini didapatkan dari negara-negara berkembang, mulai dari Vietnam, Taiwan, India, Indonesia hingga China. Semua barang produksi, dari sepatu, tekstil, produk elektronik, hingga miniatur patung Liberty diproduksi oleh buruh negara berkembang. Dengan demikianlah mereka bisa berkompetisi di pasar bebas. Sementara itu di dalam negeri, mereka mengiming-iming penduduk dengan “uang plastik”, kredit tak terbatas, dan segala kemudahan untuk menggenjot konsumsi, tanpa memperhitungkan daya beli sesungguhnya dari penduduk. Saat kredit tak terbayar, dan kredit-kredit macet dijual sebagai surat berharga, kedigdayaan Wall Street runtuh seperti rumah kertas. Protes pun marak di AS, dari Wisconsin hingga New York. Di New York, aksi yang berlangsung awal pekan ini di depan markas Wall Street berakhir bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi. Aksi-aksi massa yang berlangsung di AS saat ini mengingatkan pada unjuk rasa menuntut penghentian perang di Vietnam. Pemerintah, saat itu, menghentikan perang. Bukan oleh desakan luar negeri, tapi lebih karena tekanan dalam negeri. Sistem Baru Kolumnis New York Times Thomas L Friedman bersama rekannya Michael Mandelbaum baru-baru ini meluncurkan buku That Used to Be Us yang menyebut AS membutuhkan sistem baru. Amerika, menurut Friedman, saat ini berada dalam kondisi yang tidak sehat, secara politik maupun ekonomi. Sejumlah kemajuan yang mestinya bisa dicapai AS, dari jaringan kereta api terluas, hingga superkomputer tercanggih, malah dicapai oleh kekuatan yang 30 tahun lalu tak diperhitungkan dan diposisikan sebagai pariah: China! Friedman dan sejumlah ahli lainnya menyimpulkan bahwa sistem yang dipakai AS ini sudah aus, bangkrut, tak layak pakai. AS membutuhkan sistem baru. Tapi kemudian pertanyaannya, apa sistem baru itu? Friedman menawarkan bukan China dan bukan AS yang saat ini. Bukan semata-mata mengandalkan pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap semua masalah yang ada, seperti diperlihatkan oleh Partai Demokrat saat ini, juga bukan sepenuh-penuhnya mempercayai bahwa pemerintah adalah biang kerok masalah karena tak memberi kepercayaan besar kepada pasar, seperti ditunjukkan oleh Partai Republik. Friedman menawarkan sebuah jalan tengah. Sebuah sistem politik yang tetap sama, tapi difungsikan secara tepat, dan mendorong aksi kolektif dalam skala besar untuk kepentingan nasional. Jika usulan Friedman ini terlihat akrab, barangkali karena itu mengingatkan kita pada Deng Xiaoping. “Fatwa” terkenalnya: “Tak peduli kucing hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus” dinilai berhasil “menyelamatkan” China hingga saat ini. Namun, seperti halnya Friedman yang bersikukuh bahwa “penyelamatan” AS harus dimulai dari pencarian “akar” sistem politik yang melahirkannya (baca: demokrasi), China pun survive karena mereka tak pernah melupakan “akar” politiknya (baca: kolektivisme) saat Deng “berfatwa” tentang kucing. Memahami kembali ”akar” pembentukan negara-bangsa inilah yang agaknya diperlukan, juga oleh Indonesia, agar tak terseret dalam dunia yang tunggang langgang. http://www.sinarharapan.co.id/content/read/amerika-tunggang-langgang/ 28.09.2011 12:24 BLOG Indonesia Updates http://indonesiaupdates.blogspot.com [Non-text portions of this message have been removed]
