http://www.pikiran-rakyat.com/node/115737

Museum Apartheid Seperti Lorong Sejarah
- 08:46 
 
ISTIMEWA/"PRLM"
WARTAWAN Pikiran Rakyat, Asep Shandy yang juga membuat laporan untuk Pikiran 
Rakyat Lintas Media (PRLM)/"PR Online" saat berada di depan pintu masuk Museum 
Apartheid di Johannesburg, Afrika Selatan.*
JOHANNESBURG, (PRLM).- Memasuki Museum Apartheid di Johannesburg, Afrika 
Selatan, seperti berjalan dalam lorong sejarah. Di sana tergambarkan tragedi 
dan kepahlawanan menjadi pelajaran. Tirani harus berhadapan dengan keinginan 
untuk merdeka, dan kerusuhan harus berhadapan dengan kedamaian.

Ketika akan masuk ke museum, pengunjung akan mengernyitkan dahi. Museum 
Apartheid memiliki dua gerbang. Di atas gerbang pertama tertulis blankes/whites 
(khusus untuk kulit putih) dan di atas gerbang kedua tertulis 
nie-blankes/non-whites (kulit hitam atau berwarna).

Museum Apartheid tiket mengenakan tiket seharga 50 rand (sekitar Rp 60 
ribu)/pengunjung. Setiap pengunjung mendapatkan tiket yang berbeda bertuliskan 
blankes dan nonblankes, tanpa membedakan warna kulit si pengunjung. Jadi, bisa 
saja si pengunjung berkulit putih mendapatkan tiket nonblankes atau orang kulit 
hitam memperoleh tiket blankes.

Pengunjung mungkin bisa terkejut dengan pemberlakuan sistem apartheid di museum 
ini. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari petugas museum, pengunjung bisa 
tahu maksud dari dua tiket yang berbeda tersebut. Mereka mengatakan, kedua 
tiket tersebut untuk mengingatkan kembali akan rezim apartheid yang 
membeda-bedakan warna kulit. 

Begitu masuk ke dalam, pengunjung disuguhi dengan kerangkeng yang berisi kartu 
identitas seperti KTP pada masa apartheid. Dibedakan kartu untuk kulit putih 
dan kartu untuk kulit hitam dan berwarna. Kartu identitas kulit hitam harus 
selalu dibawa oleh pemiliknya. Jika tidak dan terkena razia polisi, penjara 
akan menjadi tempat berikutnya.

Ada 30 lokasi yang bisa dikunjungi di museum ini. "Pameran" kartu identitas 
hanya salah satunya. Kemudian pengunjung disuguhi dengan berbagai informasi 
tentang apartheid dan juga sejarah Afrika Selatan pada 2500 tahun lalu ketika 
orang-orang bushmen, suku asli Afrika Selatan menjadi penguasa di ujung bawah 
Benua Afrika tersebut.

Pengunjung juga akan disuguhi tayangan film sejarah Afrika Selatan. Dalam 
tayangan film tersebut, nama negara kita, Indonesia, juga disebut-sebut. 
Indonesia menjadi negara "pengekspor" budak ke Afrika Selatan bersama dengan 
Madagaskar pada pertengahan abak ke-18. Mereka dibawa oleh penjajah Belanda 
untuk menjadi budak.

Pengunjung seperti menjelajah perjalanan Afrika Selatan dari masa lalu hingga 
rezim apartheid berkuasa, perjuangan Nelson Rolihlahla Mandela, hingga sekarang 
ini ketika apartheid sudah ditinggalkan. Sayang, pengunjung tidak diberi 
kesempatan untuk memotret di dalam museum. (A-57/A-147)**


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke