http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/12/12/index.shtml?ArtId=003_014&Search=Y


Rimba Itu Bernama Indonesia 


NYAWA manusia tak ada harganya di negeri ini

.
Seorang penganggur yang tergiur telepon pintar BlackBerry bisa dengan enteng 
menusuk remaja di tepi jalan raya. Sekelompok mahasiswa yang merasa helmnya 
diambil tanpa izin bisa dengan ringan mengeroyok sesamanya di tengah lapangan 
sepak bola kampus. Dunia kita seakan-akan berubah jadi rimba: tak ada hukum, 
tak ada polisi--tak ada negara! Kedua tragedi itu terjadi di ibu kota republik 
ini belum terlalu lama. Di Pluit, Jakarta Utara, seorang remaja 16 tahun, 
Christopher Melky Tanujaya, tewas ditusuk di dekat halte bus Transjakarta. 
Selang sehari, Ahmad Yoga Fudholi, mahasiswa 19 tahun, meninggal setelah 
dipukuli habis-habisan oleh rekan-rekan sekampusnya di Universitas Al-Azhar 
Indonesia di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

Dua peristiwa kekerasan itu memutarbalikkan akal sehat kita. Hanya karena 
perkara sepele, jiwa melayang. Terlebih lagi, kedua pembunuhan itu terjadi di 
tempat umum. Ketika kejahatan menampakkan muka dengan leluasa, dan para 
begundal tak punya lagi rasa takut, berlebihankah jika kita bertanya: di mana 
tanggung jawab negara? Pembunuhan Christopher dan Yoga merupakan klimaks dari 
masa-masa penuh kecemasan di negeri ini. Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya 
mencatat, setiap tahun rata-rata terjadi 70 kasus pembunuhan di Ibu Kota saja.

Korbannya beragam: mulai penjaga kuburan sampai bos pemilik pabrik. Kita belum 
lupa, Agustus lalu, seorang mahasiswi Universitas Bina Nusantara, Livia Pavita 
Soelistio, 21 tahun, tewas setelah dirampok dan diperkosa di dalam angkutan 
kota. Kejadian itu membuat banyak orang waswas menggunakan transportasi publik.

Mudah dipahami jika sedikit demi sedikit kita mulai kehilangan kepercayaan pada 
sistem keamanan yang diselenggarakan negara. Setelah kasus pembunuhan Livia, 
angka penjualan pistol kejut listrik (stun gun) dan penyemprot merica (pepper 
spray) di pusat pertokoan Glodok meningkat tajam. Publik ragu terhadap 
kemampuan pemerintah memberikan rasa aman dan, karena itu, harus 
“mengamankan“serta mempersenjatai diri sendiri.

Perkara ini bukan cuma soal sistem keamanan yang gagal.Tak perlu repot-repot 
menggelar seminar untuk meninjau kembali sistem kepolisian kita.Toh, sudah lama 
aparatur keamanan memperkenalkan model polisi masyarakat atau community 
oriented policing. Cuma, tampaknya rencana itu baru bergaung sebatas cita-cita.

Hal yang lebih mendasar adalah alpanya kesadaran para penyelenggara negara 
bahwa keamanan merupakan bagian dari hak asasi warga negara. Keamanan bukan 
hanya untuk mereka yang sanggup membayar. Pada saat kita ketakutan untuk 
sekadar keluar malam atau naik angkutan umum, dan harus bepergian dengan stun 
gun di dalam tas, ketika itulah peran negara hilang dari tata kehidupan sosial 
kita yang paling sederhana.

Tentu kerja cepat polisi menangkap pembunuh Christopher,Yoga, Livia, dan korban 
pembunuhan lain patut diacungi jempol. Tapi, lebih dari itu, tindakan 
pencegahan pasti jauh lebih mustahak. Tindakan itu tentu membutuhkan 
perencanaan yang menyeluruh dan melibatkan para pemangku keamanan. Jangan pula 
ada alasan kekurangan dana sebagai kendala, karena nyawa warga negara 
sesungguhnya merupakan sesuatu yang tak bisa disetarakan dengan harga apa pun. 

Powered by Pressmart Media Ltd 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke