Dengan senang hati saya  berusaha menjawab pertanyaan bung Heri .
Aksi bakar diri atau juga sesungguhnya tindakan bunuh diri sering saya dengar 
ketika saya masih tinggal di Vietnam beberapa puluh tahun lalu yang dilakukan 
oleh pada umumnya penganut Budha sebagai protes keras terhadap penguasa boneka  
zaman Thieu-Ky yang dikendalikan AS. Orang-orang mengetahui efek politiknya 
yang cukup besar meskipun sang penguasa yang diprotes seperti tidak terpengaruh 
sedikitpun dan sikap demikian, juga kita maklum (bukan memaklumi) karena dari 
penguasa politik yang manapun tidak bisa kita harapkan emosi yang bagaimanpun 
apalagi emosi positif. Politik selalu tanpa emosi dan juga sebagai yang pernah 
dikatakan oleh Lenin, emosi dalam politik adalah pengkhiatan.

The Most Comprehensive Travel Blogs 
http://adsensetravel.blogspot.com/
http://adsensetravelreviews.blogspot.com/
http://indonesiatravelupdates.blogspot.com/

Jadi bisakah kita katakan setiap tindak bunuh diri yang bermotifkan politik 
adalah sia-sia?, hanya merugikan diri  sendiri?, sedangkan penguasa negara yang 
diprotes bahkan tidak bergidik sedikitpun atau bahkan mereka akan bersukur  dan 
mengharap agar setiap orang  yang memprotes kebijaksanaan politiknya agar bunuh 
diri semuanya, membakar diri atau dengan cara apa saja. Sudah pasti logikanya 
tidak demikian. Para penguasa harus memikirkan efek psikologis yang akan 
berkembang menjadi efek politis yang ahirnya menimbulkan kemarahan dan bahkan 
bisa pula hingga pemberontakan besar.

Peristiwa bakar diri di muka istana Presiden baru-baru ini sudah pasti bukan 
peristiwa biasa dan adalah sebuah pernyataan protes rakyat terhadap penguasa 
negara Indonesia yang sudah tidak mengindahkan nasib rakyat kecil, rakyat 
miskin dan menghanyutkan negara dan bangsa ke kehidupan korupsi yang bagaikan 
seluruh gunung berapi yang meletus tak putus-putusnya menyemburkan lahar 
menghabisi seluruh kekayaan alam dan kehidupan semua manusia sekitarnya. 
Sesunggahnya budaya korupsi disertai menjalankan kekuasaan dengan penindasan 
dan penghisapan adalah juga aksi bunuh diri yang akan menghancurkan seluruh 
bangsa. Lalu siapakah yang akan bertanggung jawab? Aksi bunuh diri atau bakar 
diri baru-baru ini adalah juga sebuah peringatan keras bagi semua orang, bagi 
setiap manusia Indonesia dan terutama bagi penguasa yang sekarang. Bila 
perlawanan dan protes terhadap penguasa sudah macet di berbagai bidang, maka 
rakyat yang tidak berdaya akan memilih jalan nekad dan untuk sementara jalan 
nekad itu bisa berupa tindakan putus asa(?) seperti umpamanya bunuh diri-  atau 
bakar diri di depan hidung penguasa. Sementara jalan itulah yang  ditempuh 
meskipun sangat dramatis, tapi untuk selanjutnya bila kemacetan telah tembus 
dan aksi bunuh diri berubah menjadi pemberontakan maka yang terjadi adalah 
seperti yang  bisa kita saksikan di dunia Arab sekarang ini: rakyat tidak lagi 
menghiraukan pembunuhan terhadap mereka dan penguasa tidak menghiraukan lautan 
protes dalam bentuk demonstrasi-demonstrasi yang terus menerus yang bahkan 
hingga berbulan bulan: konflik berdarah  terjadi di dua belah pihak dan 
perspektifnya adalah siapa mengalahkan siapa. Apakah hal ini bisa terjadi di 
Indonesia? Mengapa tidak. Meskipun orang bisa saja meramalkan bisa terjadi atau 
tidak bisa terjadi, tapi satu hal, kemungkina terjadi tidak lagi bisa dikatakan 
nol persen.

Dalam situasi politik di Indonesia sekarang, kaum revolusioner hanya bisa 
menjelaskan pada rakyat tentang perlunya berlawan terus menghadapi 
kesewenang-wenangan penguasa dalam melupakan sambil menindas rakyat yang tak 
putus-putusnya menderita penghisapan dan pemiskinan. Selanjutnya rakyatlah yang 
menentukan apakah mereka akan berlawan atau belum berlawan atau tidak berlawan 
karena merekalah yang akan melakukan perlawana itu, mereka yang akan berkorban 
dan merekalah yang akan menentukan cita-cita mereka atau kehendak mereka. 
Pemaksaan akan selalu gagal betapapun baiknya maksud serta tujuannya. Meskipun 
situasi perlawanan rakyat sekarang mungkin belum memuaskan hati kita, namun 
itulah kenyataan yang kita hadapi, realitas Indonesia sekarang ini. Kita hanya 
harus mendekati rakyat, berpihak padanya, berusaha mengerti apa keinginan 
mereka, dan menjelaskan apa yang mungkin terbaik untuk mereka tanpa memaksakan 
keinginan kita sendiri. Tapi terhadap musuh rakyat, kita harus selalu tegas 
menyatakan sikap kita yang berpihak pada rakyat tanpa kompromi dan menjauhkan 
setiap ideologi oportunisme yang menggunakan kesempatan untuk jadi pembesar, 
memburu gaji besar dalam jabatan birokrasi Pemerintah penguasa. Kita melawan 
ideologi Sosdem yang selalu mengaburkan antara musuh dan kawan yang ahirnya 
menipu dan menyesatkan perjuangan rakyat menuju kompromi  dengan musuh. Kita 
juga harus tak henti-hentinya  menelanjangi kepalsuan ideologi kaum Sosdem, 
memblejeti demagogi-demagogi mereka dan membuka topeng mereka yang pura-pura 
berpihak pada wong cilik.
Nah, bung Heri inilah sekedar jawaban atas pertanayaan bung, semoga ada 
faedahnya,
Salam,
asahan.
----- Original Message ----- 
From: heri latief 
To: 
Sent: Saturday, December 10, 2011 3:12 AM
Subject: aksi bakar diri di depan istana


pertanyaan saya sederhana aja, kenapa aksi bakar diri itu terjadinya di depan 
istana merdeka?

siapa tau pak asahan mau menjawabnya. 

salam, heri latief

-- 
pendiri milis sastra pembebasan

The Most Comprehensive Travel Blogs 
http://adsensetravel.blogspot.com/
http://adsensetravelreviews.blogspot.com/
http://indonesiatravelupdates.blogspot.com/

Kirim email ke