http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/12/17/index.shtml?ArtId=011_001&Search=Y

Konflik Sunni-Syiah Memanas di Irak 





Rentan campur tangan oleh negara tetangga.

BAGDAD — Kelompok Sunni mulai khawatir akan terjadinya marginalisasi oleh Syiah 
setelah pasukan Amerika meninggalkan Irak. Syiah menguasai pemerintahan setelah 
jatuhnya Presiden Saddam Hussein. Semasa kepemimpinan Saddam, Sunni melakukan 
penindasan terhadap suku lain di Irak.  

Kepergian pasukan Amerika, yang mengakhiri perang Irak selama sembilan tahun, 
bakal memicu dendam dan bentrokan antarsuku. “Saya senang pasukan Amerika 
meninggalkan Irak, tapi saya khawatir perselisihan antarmilisi akan mulai 
kembali,” kata Samer Saad, seorang pelatih sepak bola kemarin. 

Adapun pemerintahan Syiah di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Irak Nouri 
al-Maliki dianggap otoriter. Pemerintah memperlakukan Syiah dan Sunni dengan 
cara berbeda Pemerintah menangkap mantan anggota Partai Baath, partai pendukung 
Saddam dan telah memicu ketakutan. Maliki adalah mantan seorang pembangkang 
yang 

menghabiskan 24 tahun di pengasingan pada masa pemerintahan Saddam.  

Ammar Youssif Hammoud, pemimpin Sunni dari Provinsi Salahuddin, mengatakan 
pasukan militer Irak datang dari Bagdad ke Salahuddin menahan tanpa memberi 
tahu pejabat pemerintah daerah. Pada November lalu, kelompok-kelompok di 
wilayah selatan menginginkan otonomi. Suku Kurdi telah menjalankan otonomi di 
tiga provinsi di utara dan dua provinsi di Syiah yang mendorong otonomi di 
selatan. Namun, 

ketika Provinsi Salahuddin terbentuk, muncul reaksi keras dari politikus Syiah. 
 

Perpecahan kelompok dan suku di Irak rentan campur tangan oleh negara tetangga. 
Mereka mencoba mengamankan pengaruhnya. Sunni dikendalikan negara-negara Arab, 
sedangkan Syiah memiliki kedekatan dengan Iran. 

Krisis Suriah, yang kini di bawah kendali Sunni, juga memperburuk ketegangan. 

Kondisi Irak menjadi tidak stabil. Qasim Abdullah, warga Irak, mengatakan 
pasukan Amerika pergi setelah mendapatkan keuntungan dari Irak. Namun Irak 
tidak mengalami perubahan dan kekejaman masih sering terjadi. “Irak tidak 
mengalami perubahan. Anda masih dapat melihat pembunuhan, kehancuran dan 
kekerasan sektarian dan situasinya masih tidak stabil,”katanya.  

Amerika Serikat telah menarik hampir semua pasukan di Irak sejak Rabu lalu. 
Pasukan yang terakhir diberangkatkan setelah Natal. 

Amerika telah menghabiskan anggaran sekitar US$ 1 triliun, dan 4.485 tentara 
tewas. Saat ini ada sekitar 4.000 tentara Amerika masih berada di Irak, yang 
beroperasi dari dua pangkalan di Kota Diwaniya dan Dhi Qar. 

Saat perang, tentara Amerika di Irak mencapai 170 ribu. 

”Amerika tetap akan menjadi teman, berkomitmen menjadi mitra dengan Irak,” 
Kepala pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta. 


TOP 

Powered by Pressmart Media Ltd 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke