From: Ignatius Sapto Condro A.B.
Sent: Thursday, December 22, 2011 10:35 AM
To: PPI Bremen ; miliscab
Subject: [iscab] Tan Joe Hok, Perintis di Pentas Bulu Tangkis. Terasing di
Negeri Sendiri ...........
Salam bulu tangkis!
Condro
Tan Joe Hok, Perintis di Pentas Bulu Tangkis.
Terasing di Negeri Sendiri .........
Subject: Memoar : Tan Joe Hok Perintis di Pentas Bulu Tangkis Terasing di
Negeri Sendiri ......
TAN Joe Hok menorehkan sejarah setengah abad lalu. Ia pemain bulu
tangkis Indonesia pertama yang menjuarai All England dan meraih medali
emas Asian Games. Bersama enam pebulu tangkis lainFerry Sonneville,
Eddy Yusuf, Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan, dan Njoo Kim
BieTan juga memboyong Piala Thomas untuk pertama kali ke Tanah Air.
Kini 72 tahun usianya. Berpuluh tahun menggantungkan raket, Tan
berjuang di lapangan yang lain: merobohkan tembok diskriminasi yang
membuatnya merasa dipinggirkan sekaligus dilupakan.
Di tengah prestasi yang kerontang kini, bulu tangkis Indonesia
perlu menengok kembali cerita Tan. Kepada Tempo, ia menuturkan kisah
hidupnya yang berwarna.
SAYA dilahirkan di zaman yang salah. Tak seperti di zaman kini
yang serba tersedia, saya mulai menekuni bulu tangkis pada kondisi
yang serba terbatas. Saya tak punya raket, lapangan bulu tangkis bersemen
tak ada, untuk berlatih di klub pun harus menempuh jarak yang jauh
menggunakan sepeda.. Dan ketika pertama kali ditunjuk sebagai salah satu
anggota tim Piala Thomas, saya berangkat ke lapangan udara Kemayoran
menggunakan becak.
Ini cerita seorang Tan Joe Hok. Mungkin orang hanya tahu saya
orang pertama yang menjuarai All England, pada 1959, dan meraih medali
emas Asian Games tiga tahun kemudian. Saya dan enam pemain lain juga
merebut Piala Thomas untuk pertama kali, pada 1958. Nama saya pun diulas
panjang-lebar di majalah Sport Illustratedmajalah olahraga
bergengsi di Amerikaketika saya berusia 22 tahun. Saya disebut sebagai
pemain tak terkalahkan. Namun, di balik sukses itu, saya sebenarnya hanya
rumput liar yang mesti hidup di segala keadaan.
Saya lahir di zaman malaise yang waktu itu baru berakhir.
Tepatnya pada 11 Agustus 1937. Saya anak kedua dari enam bersaudara. Ayah
saya, Tan Tay Ping (almarhum), bekerja sebagai pedagang tekstil yang harus
sering meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah. Kondisi ekonomi
keluarga kami kekurangan. Untuk membeli beras, kami harus antre. Sejak
berumur lima tahun, saya sudah terbiasa antre beras sendirian.
Ketika umur saya menginjak enam tahun, pasukan Jepang belum lama
masuk Indonesia. Saya masih ingat bagaimana pesawat-pesawat Jepang
yang berseliweran di atas kampung kami di Jatiroke, Jatinangor,
Sumedang, ditembaki tentara Belanda. Kedatangan Jepang itu membuat hidup
kami makin susah. Berkali-kali kami harus mengungsi.
Kami pernah tinggal di Tasikmalaya sebelum menetap di Kota
Bandung. Di kota itu awalnya kami tinggal di Gang Kote. Di sanalah awalnya
saya mengenal bulu tangkis. Saya sering melihat ibu saya, Khoe Hong
Nio, bermain bulu tangkis dengan para tetangga di sebuah lapangan di
Gang Sutur, tak jauh dari gang rumah saya.
Ketika peristiwa Bandung Lautan Api meletus pada 24 Maret 1946,
kami harus mengungsi lagi karena perkampungan dibakar. Sampai
akhirnya, kami mendiami sebuah rumah di Jalan Ksatrian 15, Cicendo, Bandung.
Sebuah rumah amat sederhana berpekarangan luas. Di pekarangan itulah
ayah saya membuat lapangan bulu tangkis sederhana, lapangan berdasar tanah
dengan garis terbuat dari bambu.
Setiap hari lapangan itu tak pernah sepi. Sejak pagi sampai
malam, keluarga dan para tetangga bergantian bermain badminton di
sana.. Saya, yang waktu itu berusia 13 tahun, cuma jadi anak bawang yang
ditugasi membawa kok dan raket. Keseringan menonton membuat minat saya
bermain bulu tangkis makin besar. Sayangnya, saya tak punya raket..
Sebagai pengganti raket, saya gunakan kelom (sandal dari kayu) milik ibu
saya. Dengan kelom dan kok bekas yang bulunya tinggal tiga lembar,
saya sering mengajak pembantu kami, Mang Syarif, bermain badminton bersama.
Ternyata banyak yang memuji kemampuan saya bermain bulu
tangkis.. Mereka mengatakan gerakan kaki dan tangan saya cepat sekali. Orang
yang
sudah bermain puluhan tahun pun gampang saya kalahkan. Saya tak
mengerti teknik. Tapi, soal gerakan kaki, saya belajar dari pertandingan
tinju yang sering saya saksikan di Bandung. Saya sangat terkesan
dengan gerak kaki petinju itu. Lalu saya meniru dengan latihan skipping.
Sebagai rumput liar, saya yakin, saya pasti bisa bermain bulu tangkis.
Suatu hari Lie Tjoe Kong, pemain bulu tangkis Bandung, memuji
bakat saya. Dia mengajak saya masuk Blue White, klub bulu tangkis
terkuat di Bandung. Blue White inilah cikal-bakal Klub Mutiara yang di masa
depan menghasilkan pemain hebat, seperti Christian Hadinata, Imelda
Wigoena, dan Ivanna Lie. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu
dengan berlatih saban hari. Saya berlatih sejak pukul lima pagi.
Dari Jalan Ksatrian, kami pindah ke Jalan Gedung Sembilan, Pasir
Kaliki. Di sana tidak ada lapangan bulu tangkis. Saya harus berlatih di
lapangan bulu tangkis PB Pusaka di Jalan Kiara Condong, sekitar lima
kilometer dari rumah saya. Meskipun bangunannya terbuat dari bilik,
lapangannya cukup bagus karena sudah dipoles semen.
Salah satu teman latihan saya di PB Pusaka adalah Tutang
Djamaluddin. Setiap akan berlatih bulu tangkis, saya dan Tutang naik sepeda
ontel dari rumah masing-masing sambil memegangi raket tak bersarung
dan tiga kok yang dibungkus kertas koran. Dari sinilah karier saya
sebagai pemain bulu tangkis terus melesat. Berkali-kali saya ikut kejuaraan dan
selalu menang. Saat 15 tahun, saya menang di Kejuaraan Bandung.
Selanjutnya, saya mulai mengikuti kejuaraan nasional. Dua tahun
kemudian, pada 1954, saya jadi juara Indonesia, mengalahkan Njoo
Kim Bie, pebulu tangkis dari Surabaya yang saat itu sedang tenar dan
terkenal dengan smash-nya yang mematikan. Dua tahun berikutnya,
giliran pemain terkenal Eddy Jusuf yang saya kalahkan. Saya juga
diundang mengikuti pertandingan di India Timur, Bombay, New Delhi,
Calcutta, Ghorapur, dan Jabalpur pada 1957. Saya selalu menang.
Dan yang paling tak terlupakan adalah ketika saya, Olich
Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan, dan Njoo Kim Bie terpilih sebagai tim
pertama Indonesia untuk merebut Piala Thomas 1958. Kebahagiaan saya
makin berlipat ketika akhirnya kami berhasil memboyong piala bergengsi
itu. Kemenangan pertama tim Indonesia di Thomas Cup pun disambut
meriah dengan tabuhan beduk di masjid, dentingan lonceng di gereja,
serta disiarkan di radio. Kami juga diarak dari Jakarta ke Bandung,
lewat Puncak. Jalan saya sebagai pemain bulu tangkis kian mulus.
*l l l*
Ketika menjalani tur ke beberapa kota di India, saya bertemu
dengan Ismail bin Mardjan, salah seorang juara ganda All England asal
Malaya yang tinggal di Singapura. Ismail tidak hanya menjadi kawan
seperjalanan saya, tapi sudah saya anggap sebagai kakak. Kami berkeliling
India lebih dari setengah bulan. Ismail memberi saya nasihat: Joe Hok, kamu
bisa jadi pemain nomor satu di dunia. Berlatihlah lebih giat. Tapi,
begitu sudah juara, sebaiknya berhenti. Jangan hidup seperti saya.
Saya tak pernah lupa kata-kata itu.
Ketika saya singgah di kediaman Ismail di Singapura, saya
menemukan jawaban mengapa Ismail tak mau nasib saya seperti dia. Ismail
ternyata hidup dalam kemiskinan. Rumahnya terletak di perkampungan kumuh
di dekat kali yang hitam dan berbau. Maklum, Singapura kala itu belum
seperti sekarang. Untuk menyambung hidup, dia bekerja sebagai anggota
satpam. Melihat kondisi Ismail, saya langsung bertekad tak mau jadi
pemain bulu tangkis selamanya. Saya ingin hidup lebih layak.
Setelah berturut-turut meraih kemenangan di kejuaraan All
England, Kanada, dan Amerika Serikat, saya memutuskan menggantung raket.
Saya tak kembali ke Tanah Air, tapi langsung menuju Texas, Amerika. Saya
mendapat beasiswa untuk kuliah di Baylor University, jurusan Premedical
Major in Chemistry and Biology. Untuk biaya hidup sehari-hari, saya
bekerja serabutan. Apa saja saya kerjakan, termasuk menjadi petugas
pembersih kampus yang dibayar satu jam 50 sen dolar. Saya bekerja delapan
jam agar bisa menyambung hidup. Saat itu untuk makan sekitar satu dolar.
Saya mau menjalani pekerjaan itu demi selesainya studi saya. Saya tak
ingin nasib saya seperti Ismail.
Tapi rupanya panggilan untuk terus bermain bulu tangkis tak bisa
diredam. Saat menjalankan studi di Baylor (1959-1963), saya
masih sempat pulang untuk mempertahankan Piala Thomas di Jakarta pada 1961
dan di Tokyo pada 1964.. Bahkan, pada 1962, saya juga pulang untuk
Asian Games dan menjadi atlet bulu tangkis pertama yang meraih medali emas
di arena Asian Games.
Saya akhirnya memilih tinggal di Tanah Air dan mengurungkan niat
kembali ke Amerika meneruskan studi S-2 saat Presiden Soekarno
mencanangkan Ganyang Malaysia dan Ganyang Antek Imperialis. Saya malah
sempat main di perbatasan Kalimantan sampai Mempawah, menghibur
sukarelawan kita di medan perang. Saya lebih cinta Tanah Air. Saya memilih
mengabdi untuk negara saya, Indonesia.
Peristiwa Gerakan 30 September mengubah segalanya. Sebagai warga
keturunan, saya dan teman-teman mulai mendapat perlakuan
berbeda. Kami seperti dianggap bukan bagian dari bangsa ini. Saya bahkan harus
mengubah nama saya menjadi Hendra Kartanegara. Saya yang dulu
dijunjung tinggi setinggi langit di bawah bendera Merah-Putih harus antre
berjam-jam membaur dengan warga Glodok dan daerah lain demi
mendapat surat bukti bahwa saya orang Indonesia.
Namun saya tak mau larut dalam dendam. Pada 1969, bersama istri
dan dua anak, saya meninggalkan Indonesia untuk menjadi pelatih bulu
tangkis di Meksiko dan Hong Kong. Saya kembali ke Jakarta pada 1972 dan
mendirikan usaha di bidang pest control, jasa pengendalian hama.
Toh, panggilan untuk bergelut di bulu tangkis tak pernah hilang.
Bersama Tahir Djide, saya menjadi pelatih pelatnas tim Piala Thomas 1984
Di final perebutan Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia, tim
Indonesia, yang terdiri atas Liem Swie King, Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto,
Christian Hadinata, Hadibowo, dan Kartono, akhirnya sukses mengalahkan Han
Jian dan kawan-kawan dari Cina.
Sekarang prestasi Indonesia benar-benar memprihatinkan. Saya
tidak menyalahkan atlet. Banyak hal yang harus dibenahi. Dulu kami
bermain hanya demi kepentingan nasional, tak memikirkan masalah materi.
Yang penting bisa membawa nama harum negara. Tapi zaman sudah
berubah.
Kesejahteraan atlet harus diperhatikan.
Kini kita kalah oleh Cina. Mereka memiliki sistem pembinaan yang
baku. Kesejahteraan atlet benar-benar diperhatikan sehingga orang tua
berbondong-bondong ingin anaknya jadi atlet. Atlet yang sudah
tak aktif juga disekolahkan oleh pemerintah. Tidak seperti di Indonesia:
setelah tak lagi berprestasi, tak diperhatikan. Banyak yang menjalani
hari tua susah dan sakit-sakitan.
Saya ingin atlet bulu tangkis memiliki sponsor pribadi. Misalnya
dia jadi bintang iklan, maka kontrak iklan itu seluruhnzya buat dia,
bukan dibagi-bagi dengan alasan untuk pembinaan. Dulu hal ini
dilaksanakan betul. Liem Swie King mengalaminya. Ini memicu para atlet
menjadi yang terbaik. Atlet mendapat penghargaan sesuai dengan prestasi yang
diraihnya.
------------------------------------------------------------------------
* TAN JOE HOK (HENDRA KARTANEGARA)*
* Lahir: * Bandung, 11 Agustus 1937
* Istri: * Goei Kiok Nio (almarhum)
* Anak: * Mariana Kartanegara
* Didik Kartanegara
Pendidikan:
# SD, SMP, SMA di Bandung
# Premedical Major in Chemistry & Biologi, Baylor University,
Texas, AS (1959-1963)
Prestasi :
# Juara Kejurnas Surabaya 1956
# Juara Piala Thomas 1958, 1961, dan 1964
# Juara All England 1959
# Juara Kanada Terbuka 1959
# Juara Amerika Serikat Terbuka 1959
# Juara Asian Games 1962
Karier Pelatih:
# Pelatih Meksiko 1969-1970
# Pelatih Hong Kong 1971
# Pelatih Tim Thomas Indonesia di Kuala Lumpur 1984
# Pelatih PB Jarum Kudus
Penghargaan:
# Pelatih Olahraga Terbaik Siwo/PWI Jaya 1984
# Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atas prestasi menjadi
juara di tiga event selama dua pekan, yakni All England, Kanada Terbuka,
dan Amerika Serikat Terbuka pada Oktober 2007
#
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/MEM/mbm.20090914.MEM131359.id.html
Sang Pembunuh Raksasa
Di lapangan bulu tangkis, Tan Joe Hok adalah sang penakluk. Dia
datang dan langsung menang.
PIALA Thomas ibarat puncak karier bagi seorang pemain bulu
tangkis. Segala usaha dan latihan keras yang kami rintis bertahun-tahun
terbalaskan begitu meraih piala lambang supremasi dunia beregu
putra itu. Saya, Olich Solihin, Njoo Kim Bie, Lie Po Djian, dan Tan
King Gwan merupakan pemain peringkat atas nasional saat itu.
Dalam babak penyisihan Piala Thomas 1957 di Selandia Baru, saya
dan Njoo Kim menjadi penentu kemenangan. Kami sama sekali tak mengira
bisa lolos ke putaran final di Singapura. Sebab, lawan-lawan kami sudah
berpengalaman. Menjelang putaran final, Ferry Sonneville dan
Eddy Yusuf datang menambah kekuatan kami.
Indonesia sebagai negara baru di bulu tangkis dunia sama sekali
tak dipandang. Tapi itu tak membuat semangat kami berkurang. Umur
saya waktu itu masih 20 tahun. Njoo Kim adalah pemain senior dan menjadi
tumpuan kami. Pertandingan mulai terasa berat saat menghadapi tim
tangguh Denmark. Mereka diperkuat jago-jago dunia, seperti Erland Kops,
Hammergard Hansen, dan Finn Kobbero. Tapi kami akhirnya menang 6- 3.
Dan saya berhasil mengalahkan Erland Kops. Dia itu juara All England
tujuh kali.
Lantas, di final, kami bertemu dengan tuan rumah sekaligus juara
bertahan Malaya. Waktu itu pertandingan berlangsung di Singapore
Badminton Hall. Dukungan penonton untuk tim Malaya sangat luar
biasa. Kami bertujuh hanya berusaha tampil sebagus mungkin. Tanpa
diduga, kami berhasil mengalahkan mereka 6-3. Padahal tim ini memiliki pemain
kaliber dunia, seperti Eddy Choong dan Wong Peng Soon.
Kemenangan itu merupakan prestasi spektakuler. Kami sama sekali
tak menyangka. Itulah titik awal kebangkitan bulu tangkis kita. Saya
ingat betul kami hanya punya waktu enam bulan untuk mempersiapkan diri
secara tim terhitung mulai dibentuknya Persatuan Bulu Tangkis Seluruh
Indonesia di Bandung pada 5 Mei 1951.
Kami bertujuh kemudian dikenal sebagai The Seven Magnificent.
Setelah Piala Thomas bisa kami bawa pulang ke Jakarta, sambutan yang
kami terima sangat meriah. Kami diarak keliling Kota Jakarta. Itu pengalaman
yang tak terlupakan. Padahal, saat kami akan berangkat ke Singapura,
seperti tak ada yang peduli. Bagi kami saat itu, ideologi nasionalisme
adalah modal untuk berjuang. Itu sudah cukup.
Keberhasilan saya menundukkan jago-jago dunia ternyata membuat
media asing menjuluki saya The Giants Killer atau Pembunuh Raksasa.
Ini menambah motivasi saya untuk terus mengukir prestasi. Status
saya sebagai pemain tunggal yang tak terkalahkan membuat saya
diundang mengikuti turnamen paling bergengsi: All England, pada 1959.
Kejuaraan ini memiliki arti penting dalam karier bulu tangkis
saya. Inilah untuk pertama kalinya pemain Indonesia juara tunggal
putra di turnamen perorangan tertua di dunia. Sebenarnya siapa pun yang
menjadi juara saat itu pastilah dari Indonesia. Sebab, lawan saya di
final adalah Ferry Sonneville.
Setelah menjuarai All England, berturut-turut selama dua pekan
saya ikut kejuaraan Kanada Terbuka dan Amerika Serikat Terbuka. Di dua
pertandingan itu, lagi-lagi saya menang. Gambar saya menjadi
sampul majalah olahraga Canadian Sport. Nama saya dan Indonesia juga
diulas dua halaman di majalah Sport Illustrated. Wonderful World of
Sports. Tan Joe Hok Takes Detroit, tulis majalah terbitan 13 April 1959 itu.
Sukses mempertahankan Piala Thomas pada 1961, saya mendapat
tanda jasa Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soekarno. Bung Karno
berkata kepada saya, Saya bangga, banyak doktor, insinyur, tapi manusia
seperti kamu yang mewakili bangsa dan negaramu hanya bisa dihitung
dengan jari. Sambil menunjuk-nunjuk, beliau melanjutkan, I will give you a
scholarship.
Ketika saya kembali ke Amerika untuk kuliah, saya kaget menerima
surat dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Surat itu berisi cek
senilai US$ 1.000. Ini jumlah yang sangat besar saat itu, setara dengan
setengah harga mobil Impala terbaru. Saya bingung uang itu mau diapakan.
Saya merasa tak berhak menerima karena saya sudah kuliah di Baylor
University, Texas, lewat program beasiswa. Saya juga bisa
mencari uang dengan bekerja di kampus. Akhirnya uang itu saya kembalikan.
Bagi saya, menjadi putra Indonesia yang dibanggakan lebih berharga daripada
sejumlah uang.
#
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/MEM/mbm.20090914.MEM131360.id.html
Terasing di Negeri Sendiri
Peristiwa G30S mengubah hidup Tan Joe Hok. Ia harus berganti
nama, mengurus kewarganegaraan, bahkan diusir.
SUATU siang pada 1967. Kolonel Mulyono dari CPM Guntur, Jakarta
Pusat, mengumpulkan semua anggota tim Piala Thomas di flat atlet
Senayan. Di gedung yang kini sudah berganti rupa menjadi pertokoan Plaza
Senayan itu, para atlet yang menggunakan nama berbau Tionghoa
diperintahkan mengganti nama. Kolonel Mulyono sudah menyiapkan nama pengganti
masing-masing. Kami semua tak dapat menolak..
Hari itu juga, anggota tim Piala Thomas menyandang nama baru.
Ang Tjing Siang menjadi Mulyadi, Tan King Gwan menjadi Dharmawan Saputra,
Lie Po Djian menjadi Pujianto, Lie Tjuan Sien menjadi Indra Gunawan,
Wong Peks Sen menjadi Darmadi, Tjong Kie Nyan menjadi Mintarya, dan Tjia
Kian Sien menjadi Indratno.
Hanya saya yang tak diberi nama baru karena saya sudah mendapat
nama Hendra dari Panglima Kodam Siliwangi H.R. Dharsono. Kartanegara
saya karang sendiri. Pokoknya, nama Tan tidak hilang. Jadilah nama
saya Hendra Kartanegara. Pergantian nama itu bagi saya amat
menyakitkan.
Apalagi yang diminta berganti nama hanya kami yang keturunan
Tionghoa. Ferry Sonneville, yang namanya berbau Belanda, terbebas dari
aturan ini.
Sejak meletusnya G30S pada 30 September 1965, kami mulai
merasakan perbedaan perlakuan. Banyak peraturan pemerintah Orde Baru yang
tak masuk akal. Pemerintah Orde Baru misalnya mengeluarkan Keputusan
Presidium Nomor 127/U/Kep/12/1966 tentang peraturan ganti nama
bagi warga negara Indonesia yang memakai nama Tionghoa. Keputusan
ganti nama itu dikuatkan Soeharto dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun
1967 yang melarang semua hal berbau Tionghoa.
Setelah mendukung tim Thomas pada 1967, saya gantung raket.
Saya, yang saat itu sudah menikah dengan Goei Kiok Niobekas pemain
Uberdan dikaruniai dua anak, bingung mau melakukan apa. Kembali ke
Amerika untuk melanjutkan kuliah yang terbengkalai rasanya sudah tak mungkin.
Saya bertahan dengan sisa-sisa uang yang ada. Kebetulan, pada 1964,
atas kebaikan Jenderal Ahmad Yani, saya ditempatkan di wisma milik
Departemen Perdagangan di Jalan Budi Kemuliaan I, Jakarta Pusat.
Tapi, setelah pecah peristiwa 30 September, saya diusir dari
tempat itu karena dianggap bukan pemain bulu tangkis lagi. Pagi-pagi sekali
saya langsung pergi ke Jalan Cendana, tempat kediaman Soeharto, yang
saat itu sudah jadi pejabat presiden. Melalui ajudannya, Suroso, saya
ceritakan peristiwa pengusiran itu. Sekitar pukul sepuluh pagi, si tentara
pengusir datang lagi memohon maaf. Rupanya, dia ditegur
Soeharto.Saya pun tak jadi diusir.
Wisma itu akhirnya dijual juga oleh pemerintah pada 1969, dan
saya diberi pesangon. Embrio diskriminasi terhadap warga keturunan
Tionghoa saat itu makin berkembang. Berbekal uang pesangon itu, kami
sekeluarga berangkat ke Meksiko. Saya menjadi pelatih di sana setahun.
Setelah itu, saya hijrah ke Amerika Serikat.
Saya beruntung dikelilingi orang yang baik. Saya malah sempat
menda-pat tawaran beasiswa untuk melanjutkan sekolah sekaligus melatih
bulu tangkis. Mereka bilang keahlian saya sangat dibutuhkan. Tapi
meninggalkan Tanah Air terlalu lama membuat istri saya kerap
menangis. Istri dan anak-anak lalu pulang. Saya sendiri ke Hong Kong
menjadi pelatih. Meski berat, demi keluarga, saya berusaha bertahan
hidup di negara yang bahasanya pun amat asing bagi saya itu.
Pada 1972, saya kembali ke Indonesia dan membangun rumah di
daerah Pancoran, Jakarta Selatan, yang saya tempati sampai sekarang.
Ternyata diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa tak juga surut. Anak-
anak saya ditolak masuk sekolah yang letaknya dekat kediaman kami hanya
karena mereka Cina. Padahal semua anak tetangga kami bisa bersekolah di
sana. Saya sampai mengadu ke Yap Thiam Hien dan Ciputra. Berbekal
surat rekomendasi dari Ciputra, anak-anak saya akhirnya dapat
bersekolah di Sekolah Katolik Regina Pacis, Petamburan, Jakarta Barat.
Pengalaman lain yang tak kalah menyakitkan adalah saat mengurus
kartu tanda penduduk Jakarta. Saya harus menyertakan dokumen K1
sebagai bukti bahwa saya bukan orang asing, walaupun saya sudah memiliki surat
bukti kewarganegaraan (SBKRI). Saya tak paham, kewarganegaraan apa
lagi yang mesti saya lengkapi. Bukankah saya sudah punya surat bukti
kewarganegaraan Indonesia ketika dulu bersekolah di Amerika?
Saya ingat pernah ditawari kewarganegaraan Republik Rakyat Tiong-
kok, tapi saya tolak. Tiba-tiba saya, istri, dan anak-anak harus
berjuang lagi dari nol mengurus kewarganegaraan Indonesia. Ini ironis.
Dulu, di zaman Soekarno, tak ada diskriminasi. Warga negara Indonesia,
Yahudi, keturunan Cina, keturunan India, semua sama. Betul-betul luar
biasa dahsyat waktu itu. Kami, baik yang keturunan maupun tidak,
diarak-arak.. Itu membuat saya bangga.
Di zaman Orde Baru, segalanya berbeda.. Namun saya bertekad
untuk tak dendam. Ini politik. Akan saya penuhi semua permintaan.
Terbukti, setahun kemudian, saya berhasil mendapat dokumen K1. Proses
memakan waktu setahun itu sudah terhitung beruntung. Susi Susanti baru
mendapat status kewarganegaraan itu setelah 10 tahun.
Terakhir, yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika
kerusuhan melanda Jakarta pada Mei 1998. Waktu itu, istri saya
baru saja meninggal, Februari 1998. Saya pontang-panting mencari tiket
untuk anak-anak saya. Saya ingin anak-anak segera meninggalkan Jakarta
yang makin panas, terutama anak perempuan saya. Apalagi sebuah toko
swalayan di dekat rumah sudah habis dibakar penjarah. Sampai pukul dua
pagi, tiket tak juga saya dapat. Di ruang tamu, kami bertiga
berkumpul, pasrah menunggu nasib. Untunglah tak terjadi apa-apa. Saya berharap
kejadian pahit seperti itu tak akan terulang.
Saya bersyukur bisa hidup sampai sekarang melewati semua manis
dan pahit kehidupan. Sekarang saya menghabiskan masa tua dengan berbagai
kegiatan, menonton berita di televisi kabel, belajar bahasa asing, dan
memotret. Saya aktif di Komunitas Bulu Tangkis Indonesia, kumpulan mantan
atlet dan pengurus. Kami membantu teman-teman atlet yang masa tuanya
kurang beruntung, sakit-sakitan dan kehabisan uang. Makanya saya selalu
berdoa: Tuhan, jika waktunya tiba, janganlah saya dipersulit, bawalah
saya dengan damai.
#
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/MEM/mbm.20090914.MEM131361.id.html
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Untuk bergabung di milis INTI-net, kirim email ke :
[email protected]
Kunjungi situs INTI-net
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet
*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/inti-net/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/