From: Ignatius Sapto Condro A.B. 
Sent: Thursday, December 22, 2011 10:35 AM
To: PPI Bremen ; miliscab 
Subject: [iscab] Tan Joe Hok, Perintis di Pentas Bulu Tangkis. Terasing di 
Negeri Sendiri ...........

  



Salam bulu tangkis! 


Condro





     Tan Joe Hok, Perintis di Pentas Bulu Tangkis. 
     Terasing di Negeri Sendiri .........








Subject: Memoar : Tan Joe Hok Perintis di Pentas Bulu Tangkis Terasing di 
Negeri Sendiri ......



TAN Joe Hok menorehkan sejarah setengah abad lalu. Ia pemain bulu 
tangkis Indonesia pertama yang menjuarai All England dan meraih medali 
emas Asian Games. Bersama enam pebulu tangkis lain—Ferry Sonneville, 
Eddy Yusuf, Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan, dan Njoo Kim 
Bie—Tan juga memboyong Piala Thomas untuk pertama kali ke Tanah Air.
Kini 72 tahun usianya. Berpuluh tahun menggantungkan raket, Tan 
berjuang di lapangan yang lain: merobohkan tembok diskriminasi yang 
membuatnya merasa dipinggirkan sekaligus dilupakan.

Di tengah prestasi yang kerontang kini, bulu tangkis Indonesia 
perlu menengok kembali cerita Tan. Kepada Tempo, ia menuturkan kisah 
hidupnya yang berwarna.
SAYA dilahirkan di zaman yang salah. Tak seperti di zaman kini 
yang serba tersedia, saya mulai menekuni bulu tangkis pada kondisi 
yang serba terbatas. Saya tak punya raket, lapangan bulu tangkis bersemen 
tak ada, untuk berlatih di klub pun harus menempuh jarak yang jauh 
menggunakan sepeda.. Dan ketika pertama kali ditunjuk sebagai salah satu 
anggota tim Piala Thomas, saya berangkat ke lapangan udara Kemayoran 
menggunakan becak.
 
Ini cerita seorang Tan Joe Hok. Mungkin orang hanya tahu saya 
orang pertama yang menjuarai All England, pada 1959, dan meraih medali 
emas Asian Games tiga tahun kemudian. Saya dan enam pemain lain juga 
merebut Piala Thomas untuk pertama kali, pada 1958. Nama saya pun diulas 
panjang-lebar di majalah Sport Illustrated—majalah olahraga 
bergengsi di Amerika—ketika saya berusia 22 tahun. Saya disebut sebagai 
pemain tak terkalahkan. Namun, di balik sukses itu, saya sebenarnya hanya 
rumput liar yang mesti hidup di segala keadaan.
 
Saya lahir di zaman malaise yang waktu itu baru berakhir. 
Tepatnya pada 11 Agustus 1937. Saya anak kedua dari enam bersaudara. Ayah 
saya, Tan Tay Ping (almarhum), bekerja sebagai pedagang tekstil yang harus 
sering meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah. Kondisi ekonomi 
keluarga kami kekurangan. Untuk membeli beras, kami harus antre. Sejak 
berumur lima tahun, saya sudah terbiasa antre beras sendirian.
 
Ketika umur saya menginjak enam tahun, pasukan Jepang belum lama 
masuk Indonesia. Saya masih ingat bagaimana pesawat-pesawat Jepang 
yang berseliweran di atas kampung kami di Jatiroke, Jatinangor, 
Sumedang, ditembaki tentara Belanda. Kedatangan Jepang itu membuat hidup 
kami makin susah. Berkali-kali kami harus mengungsi.
 
Kami pernah tinggal di Tasikmalaya sebelum menetap di Kota 
Bandung. Di kota itu awalnya kami tinggal di Gang Kote. Di sanalah awalnya 
saya mengenal bulu tangkis. Saya sering melihat ibu saya, Khoe Hong 
Nio, bermain bulu tangkis dengan para tetangga di sebuah lapangan di 
Gang Sutur, tak jauh dari gang rumah saya.
 
Ketika peristiwa Bandung Lautan Api meletus pada 24 Maret 1946, 
kami harus mengungsi lagi karena perkampungan dibakar. Sampai 
akhirnya, kami mendiami sebuah rumah di Jalan Ksatrian 15, Cicendo, Bandung. 
Sebuah rumah amat sederhana berpekarangan luas. Di pekarangan itulah 
ayah saya membuat lapangan bulu tangkis sederhana, lapangan berdasar tanah 
dengan garis terbuat dari bambu.
 
Setiap hari lapangan itu tak pernah sepi. Sejak pagi sampai 
malam, keluarga dan para tetangga bergantian bermain badminton di 
sana.. Saya, yang waktu itu berusia 13 tahun, cuma jadi anak bawang yang 
ditugasi membawa kok dan raket. Keseringan menonton membuat minat saya 
bermain bulu tangkis makin besar. Sayangnya, saya tak punya raket.. 
Sebagai pengganti raket, saya gunakan kelom (sandal dari kayu) milik ibu 
saya. Dengan kelom dan kok bekas yang bulunya tinggal tiga lembar, 
saya sering mengajak pembantu kami, Mang Syarif, bermain badminton bersama.
 
Ternyata banyak yang memuji kemampuan saya bermain bulu 
tangkis.. Mereka mengatakan gerakan kaki dan tangan saya cepat sekali. Orang 
yang 
sudah bermain puluhan tahun pun gampang saya kalahkan. Saya tak 
mengerti teknik. Tapi, soal gerakan kaki, saya belajar dari pertandingan 
tinju yang sering saya saksikan di Bandung. Saya sangat terkesan 
dengan gerak kaki petinju itu. Lalu saya meniru dengan latihan skipping. 
Sebagai rumput liar, saya yakin, saya pasti bisa bermain bulu tangkis.
 
Suatu hari Lie Tjoe Kong, pemain bulu tangkis Bandung, memuji 
bakat saya. Dia mengajak saya masuk Blue White, klub bulu tangkis 
terkuat di Bandung. Blue White inilah cikal-bakal Klub Mutiara yang di masa 
depan menghasilkan pemain hebat, seperti Christian Hadinata, Imelda 
Wigoena, dan Ivanna Lie. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu 
dengan berlatih saban hari. Saya berlatih sejak pukul lima pagi.
 
Dari Jalan Ksatrian, kami pindah ke Jalan Gedung Sembilan, Pasir 
Kaliki. Di sana tidak ada lapangan bulu tangkis. Saya harus berlatih di 
lapangan bulu tangkis PB Pusaka di Jalan Kiara Condong, sekitar lima 
kilometer dari rumah saya. Meskipun bangunannya terbuat dari bilik, 
lapangannya cukup bagus karena sudah dipoles semen.
 
Salah satu teman latihan saya di PB Pusaka adalah Tutang 
Djamaluddin. Setiap akan berlatih bulu tangkis, saya dan Tutang naik sepeda 
ontel dari rumah masing-masing sambil memegangi raket tak bersarung 
dan tiga kok yang dibungkus kertas koran. Dari sinilah karier saya 
sebagai pemain bulu tangkis terus melesat. Berkali-kali saya ikut kejuaraan dan 
selalu menang. Saat 15 tahun, saya menang di Kejuaraan Bandung.
 
Selanjutnya, saya mulai mengikuti kejuaraan nasional. Dua tahun 
kemudian, pada 1954, saya jadi juara Indonesia, mengalahkan Njoo 
Kim Bie, pebulu tangkis dari Surabaya yang saat itu sedang tenar dan 
terkenal dengan smash-nya yang mematikan. Dua tahun berikutnya, 
giliran pemain terkenal Eddy Jusuf yang saya kalahkan. Saya juga 
diundang mengikuti pertandingan di India Timur, Bombay, New Delhi, 
Calcutta, Ghorapur, dan Jabalpur pada 1957. Saya selalu menang.
 
Dan yang paling tak terlupakan adalah ketika saya, Olich 
Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan, dan Njoo Kim Bie terpilih sebagai tim 
pertama Indonesia untuk merebut Piala Thomas 1958. Kebahagiaan saya 
makin berlipat ketika akhirnya kami berhasil memboyong piala bergengsi 
itu. Kemenangan pertama tim Indonesia di Thomas Cup pun disambut 
meriah dengan tabuhan beduk di masjid, dentingan lonceng di gereja, 
serta disiarkan di radio. Kami juga diarak dari Jakarta ke Bandung, 
lewat Puncak. Jalan saya sebagai pemain bulu tangkis kian mulus.
 
*l l l*
 
Ketika menjalani tur ke beberapa kota di India, saya bertemu 
dengan Ismail bin Mardjan, salah seorang juara ganda All England asal 
Malaya yang tinggal di Singapura. Ismail tidak hanya menjadi kawan 
seperjalanan saya, tapi sudah saya anggap sebagai kakak. Kami berkeliling 
India lebih dari setengah bulan. Ismail memberi saya nasihat: ”Joe Hok, kamu 
bisa jadi pemain nomor satu di dunia. Berlatihlah lebih giat. Tapi, 
begitu sudah juara, sebaiknya berhenti. Jangan hidup seperti saya.” 
Saya tak pernah lupa kata-kata itu.
 
Ketika saya singgah di kediaman Ismail di Singapura, saya 
menemukan jawaban mengapa Ismail tak mau nasib saya seperti dia. Ismail 
ternyata hidup dalam kemiskinan. Rumahnya terletak di perkampungan kumuh 
di dekat kali yang hitam dan berbau. Maklum, Singapura kala itu belum 
seperti sekarang. Untuk menyambung hidup, dia bekerja sebagai anggota 
satpam. Melihat kondisi Ismail, saya langsung bertekad tak mau jadi 
pemain bulu tangkis selamanya. Saya ingin hidup lebih layak.
 
Setelah berturut-turut meraih kemenangan di kejuaraan All 
England, Kanada, dan Amerika Serikat, saya memutuskan menggantung raket. 
Saya tak kembali ke Tanah Air, tapi langsung menuju Texas, Amerika. Saya 
mendapat beasiswa untuk kuliah di Baylor University, jurusan Premedical 
Major in Chemistry and Biology. Untuk biaya hidup sehari-hari, saya 
bekerja serabutan. Apa saja saya kerjakan, termasuk menjadi petugas 
pembersih kampus yang dibayar satu jam 50 sen dolar. Saya bekerja delapan 
jam agar bisa menyambung hidup. Saat itu untuk makan sekitar satu dolar. 
Saya mau menjalani pekerjaan itu demi selesainya studi saya. Saya tak 
ingin nasib saya seperti Ismail.
 
Tapi rupanya panggilan untuk terus bermain bulu tangkis tak bisa 
diredam. Saat menjalankan studi di Baylor (1959-1963), saya 
masih sempat pulang untuk mempertahankan Piala Thomas di Jakarta pada 1961 
dan di Tokyo pada 1964.. Bahkan, pada 1962, saya juga pulang untuk 
Asian Games dan menjadi atlet bulu tangkis pertama yang meraih medali emas 
di arena Asian Games.
 
Saya akhirnya memilih tinggal di Tanah Air dan mengurungkan niat 
kembali ke Amerika meneruskan studi S-2 saat Presiden Soekarno 
mencanangkan ”Ganyang Malaysia” dan ”Ganyang Antek Imperialis”. Saya malah 
sempat main di perbatasan Kalimantan sampai Mempawah, menghibur 
sukarelawan kita di medan perang. Saya lebih cinta Tanah Air. Saya memilih 
mengabdi untuk negara saya, Indonesia.
 
Peristiwa Gerakan 30 September mengubah segalanya. Sebagai warga 
keturunan, saya dan teman-teman mulai mendapat perlakuan 
berbeda. Kami seperti dianggap bukan bagian dari bangsa ini. Saya bahkan harus 
mengubah nama saya menjadi Hendra Kartanegara. Saya yang dulu 
dijunjung tinggi setinggi langit di bawah bendera Merah-Putih harus antre 
berjam-jam membaur dengan warga Glodok dan daerah lain demi 
mendapat surat bukti bahwa saya orang Indonesia.
 
Namun saya tak mau larut dalam dendam. Pada 1969, bersama istri 
dan dua anak, saya meninggalkan Indonesia untuk menjadi pelatih bulu 
tangkis di Meksiko dan Hong Kong. Saya kembali ke Jakarta pada 1972 dan 
mendirikan usaha di bidang pest control, jasa pengendalian hama.
 
Toh, panggilan untuk bergelut di bulu tangkis tak pernah hilang. 
Bersama Tahir Djide, saya menjadi pelatih pelatnas tim Piala Thomas 1984 
Di final perebutan Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia, tim 
Indonesia, yang terdiri atas Liem Swie King, Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto, 
Christian Hadinata, Hadibowo, dan Kartono, akhirnya sukses mengalahkan Han 
Jian dan kawan-kawan dari Cina.
 
 
Sekarang prestasi Indonesia benar-benar memprihatinkan. Saya 
tidak menyalahkan atlet. Banyak hal yang harus dibenahi. Dulu kami 
bermain hanya demi kepentingan nasional, tak memikirkan masalah materi. 
Yang penting bisa membawa nama harum negara. Tapi zaman sudah 
berubah. 
Kesejahteraan atlet harus diperhatikan.
 
Kini kita kalah oleh Cina. Mereka memiliki sistem pembinaan yang 
baku. Kesejahteraan atlet benar-benar diperhatikan sehingga orang tua 
berbondong-bondong ingin anaknya jadi atlet. Atlet yang sudah 
tak aktif juga disekolahkan oleh pemerintah. Tidak seperti di Indonesia: 
setelah tak lagi berprestasi, tak diperhatikan. Banyak yang menjalani 
hari tua susah dan sakit-sakitan.
 
Saya ingin atlet bulu tangkis memiliki sponsor pribadi. Misalnya 
dia jadi bintang iklan, maka kontrak iklan itu seluruhnzya buat dia, 
bukan dibagi-bagi dengan alasan untuk pembinaan. Dulu hal ini 
dilaksanakan betul. Liem Swie King mengalaminya. Ini memicu para atlet 
menjadi yang terbaik. Atlet mendapat penghargaan sesuai dengan prestasi yang 
diraihnya.




------------------------------------------------------------------------
 



*  TAN JOE HOK (HENDRA KARTANEGARA)*
 
*  Lahir:  * Bandung, 11 Agustus 1937
 
*  Istri:    * Goei Kiok Nio (almarhum)
 
*  Anak:  * Mariana Kartanegara 
               * Didik Kartanegara
 
Pendidikan: 

#  SD, SMP, SMA di Bandung
#  Premedical Major in Chemistry & Biologi, Baylor University, 
    Texas, AS (1959-1963)
 
Prestasi :

#  Juara Kejurnas Surabaya 1956
#  Juara Piala Thomas 1958, 1961, dan 1964
#  Juara All England 1959
#  Juara Kanada Terbuka 1959
#  Juara Amerika Serikat Terbuka 1959
#  Juara Asian Games 1962
 
Karier Pelatih: 

#  Pelatih Meksiko 1969-1970
#  Pelatih Hong Kong 1971
#  Pelatih Tim Thomas Indonesia di Kuala Lumpur 1984
#  Pelatih PB Jarum Kudus
 
Penghargaan: 

#  Pelatih Olahraga Terbaik Siwo/PWI Jaya 1984
#  Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atas prestasi menjadi 
    juara di tiga event selama dua pekan, yakni All England, Kanada Terbuka, 
   dan Amerika Serikat Terbuka pada Oktober 2007

#  
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/MEM/mbm.20090914.MEM131359.id.html
 
 
Sang Pembunuh Raksasa
 
Di lapangan bulu tangkis, Tan Joe Hok adalah sang penakluk. Dia 
datang dan langsung menang.
 
PIALA Thomas ibarat puncak karier bagi seorang pemain bulu 
tangkis. Segala usaha dan latihan keras yang kami rintis bertahun-tahun 
terbalaskan begitu meraih piala lambang supremasi dunia beregu 
putra itu. Saya, Olich Solihin, Njoo Kim Bie, Lie Po Djian, dan Tan 
King Gwan merupakan pemain peringkat atas nasional saat itu.
 
Dalam babak penyisihan Piala Thomas 1957 di Selandia Baru, saya 
dan Njoo Kim menjadi penentu kemenangan. Kami sama sekali tak mengira 
bisa lolos ke putaran final di Singapura. Sebab, lawan-lawan kami sudah 
berpengalaman. Menjelang putaran final, Ferry Sonneville dan 
Eddy Yusuf datang menambah kekuatan kami.
 
Indonesia sebagai negara baru di bulu tangkis dunia sama sekali 
tak dipandang. Tapi itu tak membuat semangat kami berkurang. Umur 
saya waktu itu masih 20 tahun. Njoo Kim adalah pemain senior dan menjadi 
tumpuan kami. Pertandingan mulai terasa berat saat menghadapi tim 
tangguh Denmark. Mereka diperkuat jago-jago dunia, seperti Erland Kops, 
Hammergard Hansen, dan Finn Kobbero. Tapi kami akhirnya menang 6- 3. 
Dan saya berhasil mengalahkan Erland Kops. Dia itu juara All England 
tujuh kali.
 
Lantas, di final, kami bertemu dengan tuan rumah sekaligus juara 
bertahan Malaya. Waktu itu pertandingan berlangsung di Singapore 
Badminton Hall. Dukungan penonton untuk tim Malaya sangat luar 
biasa. Kami bertujuh hanya berusaha tampil sebagus mungkin. Tanpa 
diduga, kami berhasil mengalahkan mereka 6-3. Padahal tim ini memiliki pemain 
kaliber dunia, seperti Eddy Choong dan Wong Peng Soon.
 
Kemenangan itu merupakan prestasi spektakuler. Kami sama sekali 
tak menyangka. Itulah titik awal kebangkitan bulu tangkis kita. Saya 
ingat betul kami hanya punya waktu enam bulan untuk mempersiapkan diri 
secara tim terhitung mulai dibentuknya Persatuan Bulu Tangkis Seluruh 
Indonesia di Bandung pada 5 Mei 1951.
 
Kami bertujuh kemudian dikenal sebagai ”The Seven Magnificent”. 
Setelah Piala Thomas bisa kami bawa pulang ke Jakarta, sambutan yang 
kami terima sangat meriah. Kami diarak keliling Kota Jakarta. Itu pengalaman 
yang tak terlupakan. Padahal, saat kami akan berangkat ke Singapura, 
seperti tak ada yang peduli. Bagi kami saat itu, ideologi nasionalisme 
adalah modal untuk berjuang. Itu sudah cukup.
 
Keberhasilan saya menundukkan jago-jago dunia ternyata membuat 
media asing menjuluki saya ”The Giants Killer” atau Pembunuh Raksasa. 
Ini menambah motivasi saya untuk terus mengukir prestasi. Status 
saya sebagai pemain tunggal yang tak terkalahkan membuat saya 
diundang mengikuti turnamen paling bergengsi: All England, pada 1959.
 
Kejuaraan ini memiliki arti penting dalam karier bulu tangkis 
saya. Inilah untuk pertama kalinya pemain Indonesia juara tunggal 
putra di turnamen perorangan tertua di dunia. Sebenarnya siapa pun yang 
menjadi juara saat itu pastilah dari Indonesia. Sebab, lawan saya di 
final adalah Ferry Sonneville.
 
Setelah menjuarai All England, berturut-turut selama dua pekan 
saya ikut kejuaraan Kanada Terbuka dan Amerika Serikat Terbuka. Di dua 
pertandingan itu, lagi-lagi saya menang. Gambar saya menjadi 
sampul majalah olahraga Canadian Sport. Nama saya dan Indonesia juga 
diulas dua halaman di majalah Sport Illustrated. ”Wonderful World of 
Sports. Tan Joe Hok Takes Detroit,” tulis majalah terbitan 13 April 1959 itu.
 
Sukses mempertahankan Piala Thomas pada 1961, saya mendapat 
tanda jasa Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soekarno. Bung Karno 
berkata kepada saya, ”Saya bangga, banyak doktor, insinyur, tapi manusia 
seperti kamu yang mewakili bangsa dan negaramu hanya bisa dihitung 
dengan jari.” Sambil menunjuk-nunjuk, beliau melanjutkan, ”I will give you a 
scholarship.”
 
Ketika saya kembali ke Amerika untuk kuliah, saya kaget menerima 
surat dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Surat itu berisi cek 
senilai US$ 1.000. Ini jumlah yang sangat besar saat itu, setara dengan 
setengah harga mobil Impala terbaru. Saya bingung uang itu mau diapakan. 
Saya merasa tak berhak menerima karena saya sudah kuliah di Baylor 
University, Texas, lewat program beasiswa. Saya juga bisa 
mencari uang dengan bekerja di kampus. Akhirnya uang itu saya kembalikan. 
Bagi saya, menjadi putra Indonesia yang dibanggakan lebih berharga daripada 
sejumlah uang.
 
 
 
 #   
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/MEM/mbm.20090914.MEM131360.id.html
 
 
 
Terasing di Negeri Sendiri
 
Peristiwa G30S mengubah hidup Tan Joe Hok. Ia harus berganti 
nama, mengurus kewarganegaraan, bahkan diusir.
 
SUATU siang pada 1967. Kolonel Mulyono dari CPM Guntur, Jakarta 
Pusat, mengumpulkan semua anggota tim Piala Thomas di flat atlet 
Senayan. Di gedung yang kini sudah berganti rupa menjadi pertokoan Plaza 
Senayan itu, para atlet yang menggunakan nama berbau Tionghoa 
diperintahkan mengganti nama. Kolonel Mulyono sudah menyiapkan nama pengganti 
masing-masing. Kami semua tak dapat menolak..
 
Hari itu juga, anggota tim Piala Thomas menyandang nama baru. 
Ang Tjing Siang menjadi Mulyadi, Tan King Gwan menjadi Dharmawan Saputra, 
Lie Po Djian menjadi Pujianto, Lie Tjuan Sien menjadi Indra Gunawan, 
Wong Peks Sen menjadi Darmadi, Tjong Kie Nyan menjadi Mintarya, dan Tjia 
Kian Sien menjadi Indratno.
 
Hanya saya yang tak diberi nama baru karena saya sudah mendapat 
nama Hendra dari Panglima Kodam Siliwangi H.R. Dharsono. Kartanegara 
saya karang sendiri. Pokoknya, nama ”Tan” tidak hilang. Jadilah nama 
saya Hendra Kartanegara. Pergantian nama itu bagi saya amat 
menyakitkan. 
Apalagi yang diminta berganti nama hanya kami yang keturunan 
Tionghoa. Ferry Sonneville, yang namanya berbau Belanda, terbebas dari 
aturan ini.
 
Sejak meletusnya G30S pada 30 September 1965, kami mulai 
merasakan perbedaan perlakuan. Banyak peraturan pemerintah Orde Baru yang 
tak masuk akal. Pemerintah Orde Baru misalnya mengeluarkan Keputusan 
Presidium Nomor 127/U/Kep/12/1966 tentang peraturan ganti nama 
bagi warga negara Indonesia yang memakai nama Tionghoa. Keputusan 
ganti nama itu dikuatkan Soeharto dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 
1967 yang melarang semua hal berbau Tionghoa.
 
Setelah mendukung tim Thomas pada 1967, saya gantung raket. 
Saya, yang saat itu sudah menikah dengan Goei Kiok Nio—bekas pemain 
Uber—dan dikaruniai dua anak, bingung mau melakukan apa. Kembali ke 
Amerika untuk melanjutkan kuliah yang terbengkalai rasanya sudah tak mungkin. 
Saya bertahan dengan sisa-sisa uang yang ada. Kebetulan, pada 1964, 
atas kebaikan Jenderal Ahmad Yani, saya ditempatkan di wisma milik 
Departemen Perdagangan di Jalan Budi Kemuliaan I, Jakarta Pusat.
 
Tapi, setelah pecah peristiwa 30 September, saya diusir dari 
tempat itu karena dianggap bukan pemain bulu tangkis lagi. Pagi-pagi sekali 
saya langsung pergi ke Jalan Cendana, tempat kediaman Soeharto, yang 
saat itu sudah jadi pejabat presiden. Melalui ajudannya, Suroso, saya 
ceritakan peristiwa pengusiran itu. Sekitar pukul sepuluh pagi, si tentara 
pengusir datang lagi memohon maaf. Rupanya, dia ditegur 
Soeharto.Saya pun tak jadi diusir.
 
Wisma itu akhirnya dijual juga oleh pemerintah pada 1969, dan 
saya diberi pesangon. Embrio diskriminasi terhadap warga keturunan 
Tionghoa saat itu makin berkembang. Berbekal uang pesangon itu, kami 
sekeluarga berangkat ke Meksiko. Saya menjadi pelatih di sana setahun. 
Setelah itu, saya hijrah ke Amerika Serikat.
 
Saya beruntung dikelilingi orang yang baik. Saya malah sempat 
menda-pat tawaran beasiswa untuk melanjutkan sekolah sekaligus melatih 
bulu tangkis. Mereka bilang keahlian saya sangat dibutuhkan. Tapi 
meninggalkan Tanah Air terlalu lama membuat istri saya kerap 
menangis. Istri dan anak-anak lalu pulang. Saya sendiri ke Hong Kong 
menjadi pelatih. Meski berat, demi keluarga, saya berusaha bertahan 
hidup di negara yang bahasanya pun amat asing bagi saya itu.
 
Pada 1972, saya kembali ke Indonesia dan membangun rumah di 
daerah Pancoran, Jakarta Selatan, yang saya tempati sampai sekarang. 
Ternyata diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa tak juga surut. Anak-
anak saya ditolak masuk sekolah yang letaknya dekat kediaman kami hanya 
karena mereka Cina. Padahal semua anak tetangga kami bisa bersekolah di 
sana. Saya sampai mengadu ke Yap Thiam Hien dan Ciputra. Berbekal 
surat rekomendasi dari Ciputra, anak-anak saya akhirnya dapat 
bersekolah di Sekolah Katolik Regina Pacis, Petamburan, Jakarta Barat.
 
Pengalaman lain yang tak kalah menyakitkan adalah saat mengurus 
kartu tanda penduduk Jakarta. Saya harus menyertakan dokumen K1 
sebagai bukti bahwa saya bukan orang asing, walaupun saya sudah memiliki surat 
bukti kewarganegaraan (SBKRI). Saya tak paham, kewarganegaraan apa 
lagi yang mesti saya lengkapi. Bukankah saya sudah punya surat bukti 
kewarganegaraan Indonesia ketika dulu bersekolah di Amerika?
 
Saya ingat pernah ditawari kewarganegaraan Republik Rakyat Tiong-
kok, tapi saya tolak. Tiba-tiba saya, istri, dan anak-anak harus 
berjuang lagi dari nol mengurus kewarganegaraan Indonesia. Ini ironis. 
Dulu, di zaman Soekarno, tak ada diskriminasi. Warga negara Indonesia, 
Yahudi, keturunan Cina, keturunan India, semua sama. Betul-betul luar 
biasa dahsyat waktu itu. Kami, baik yang keturunan maupun tidak, 
diarak-arak.. Itu membuat saya bangga.
 
Di zaman Orde Baru, segalanya berbeda.. Namun saya bertekad 
untuk tak dendam. Ini politik. Akan saya penuhi semua permintaan. 
Terbukti, setahun kemudian, saya berhasil mendapat dokumen K1. Proses 
memakan waktu setahun itu sudah terhitung beruntung. Susi Susanti baru 
mendapat status kewarganegaraan itu setelah 10 tahun.
 
Terakhir, yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika 
kerusuhan melanda Jakarta pada Mei 1998. Waktu itu, istri saya 
baru saja meninggal, Februari 1998. Saya pontang-panting mencari tiket 
untuk anak-anak saya. Saya ingin anak-anak segera meninggalkan Jakarta 
yang makin panas, terutama anak perempuan saya. Apalagi sebuah toko 
swalayan di dekat rumah sudah habis dibakar penjarah. Sampai pukul dua 
pagi, tiket tak juga saya dapat. Di ruang tamu, kami bertiga 
berkumpul, pasrah menunggu nasib. Untunglah tak terjadi apa-apa. Saya berharap 
kejadian pahit seperti itu tak akan terulang.
 
Saya bersyukur bisa hidup sampai sekarang melewati semua manis 
dan pahit kehidupan. Sekarang saya menghabiskan masa tua dengan berbagai 
kegiatan, menonton berita di televisi kabel, belajar bahasa asing, dan 
memotret. Saya aktif di Komunitas Bulu Tangkis Indonesia, kumpulan mantan 
atlet dan pengurus. Kami membantu teman-teman atlet yang masa tuanya 
kurang beruntung, sakit-sakitan dan kehabisan uang. Makanya saya selalu 
berdoa: Tuhan, jika waktunya tiba, janganlah saya dipersulit, bawalah 
saya dengan damai.
 
 
#    
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/MEM/mbm.20090914.MEM131361.id.html


     






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Untuk bergabung di milis INTI-net, kirim email ke : 
[email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke