Refl:  Wah! Pada gambar artikel di bawah ini tidak  terlihat diantara para 
ibu-ibu tidak ada yang memakai jilbab. Apakah mereka yang memakai jilbab tidak 
ikutsertakan untuk potret bersama ataukah sengaja disuruh untuk tidak memakai 
jilbab ataukah mereka yang dipotretkan ini belum begitu beragama?

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mengindonesiakan-sejarah-ibu/

22.12.2011 12:04

Mengindonesiakan Sejarah Ibu 
Penulis : Fransisca Ria Susanti









(foto:dok/ist)
Begitu matahari pecah di timur hari ini, jaringan sosial media yang ber-account 
Indonesia “riuh rendah” dengan ucapan atau ingatan terhadap para ibu. Status 
Facebook, Twitter, dan Friendster penuh dengan kalimat yang berisi ucapan dan 
penghargaan terhadap jasa para ibu.

Suasananya mirip dengan Mother's Day yang dirayakan warga Amerika dan sejumlah 
warga negara lain yang mengadopsi tradisi Amerika pada minggu kedua bulan Mei 
setiap tahunnya. 

Mother's Day, dalam tradisi Amerika, memang merupakan penghormatan terhadap 
ibu, fungsi keibuan, dan tugas-tugas keibuan secara umum, serta kontribusi 
mereka untuk masyarakat.

Ritual perayaannya akan sama dari tahun ke tahun, mengirimkan ucapan selamat 
kepada ibu, menghadiahkan bunga, atau sesuatu yang indah, dan ditutup dengan 
makan malam bersama keluarga. 

Padahal sejarah Mother's Day di Amerika sama “heroik”-nya dengan di Indonesia. 
Di Amerika, adalah Julia Ward Howe, seorang aktivis feminis, yang menginspirasi 
peringatan Mother's Day lewat tulisannya “Mother's Day Proclamation”. 

Ditulis pada 1870, Proklamasi Hari Ibu tersebut adalah reaksi kaum pasifis 
(pencinta damai-red) terhadap pembantaian besar-besaran yang terjadi dalam 
Perang Sipil Amerika dan Perang antara Jerman-Prancis pada 1870-an.

Di Indonesia, kongres perempuan pertama yang digelar di Yogya dan dihadiri 30 
perwakilan organisasi perempuan merupakan tonggak Hari Ibu yang kita peringati 
saat ini. 

Erwiza Erman, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 
menyebutkan, politik masih barang tabu bagi perempuan saat itu. Jadi, kongres 
perempuan pertama yang digelar dua bulan setelah ikrar Sumpah Pemuda masih 
bersifat kooperatif dan tidak bersuara keras terhadap pemerintah kolonial. 

Sejumlah isu yang dibahas dalam kongres ini antara lain soal kedudukan 
perempuan dalam perkawinan; pendidikan bagi anak perempuan; dan upaya 
mengaktifkan pemberantasan perkawinan anak-anak. 

Meski isu yang diangkat tidak “politis”, sejarawan Asvi Warman Adam mencatat 
bahwa spirit persatuan yang didengungkan para pemuda dua bulan sebulannya dalam 
Kongres Pemuda Oktober 1928, bergaung di kongres perempuan.

Buktinya, para perempuan yang hadir dalam kongres merupakan delegasi dari 30 
organisasi dengan latar belakang suku, agama, kelas, dan ras yang berbeda.

Organisasi perempuan contohnya adalah Putri Indonesia, Wanito Tomo, Wanito 
Muljo, Wanita Katolik, Aisjiah, Ina Tuni dari Ambon, Jong Islamieten Bond 
bagian Wanita, Jong Java Meisjeskring, Poetri Boedi Sedjati, Poetri Mardika, 
dan Wanita Taman Siswa. 

Asvi juga mencatat bahwa dua tahun setelah kongres tersebut, kongres yang 
menjadi cikal bakal Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) digelar oleh 
Soeratin Sosrosoegondo. “Kongres tersebut juga disemangati spirit Sumpah 
Pemuda,” ujar Asvi. Semangat nasionalisme merebak di banyak tempat. 

Organisasi-organisasi perempuan pun meski terkesan kooperatif dengan 
kolonialisme Belanda dalam kongres perempuan pertama, dalam perjalanan 
selanjutnya mulai menunjukkan sikap jelasnya terhadap perjuangan nasionalisme 
Indonesia. 

Bahkan dalam kongresnya yang kedua di Jakarta pada Desember 1929, yel-yel 
“Merdeka” mulai diteriakkan dalam kongres.

Perjalanan selanjutnya, organisasi-organisasi perempuan ini mulai 
terang-terangan bicara politik, selain lantang dalam menyuarakan penentangan 
terhadap poligami dan perdagangan perempuan serta anak. Mereka juga mendesak 
pembentukan badan penyelidikan terhadap kasus-kasus perburuhan. 

Dalam kongres 1938, diputuskan menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu dalam 
konteks yang disepakati di kongres 1935 bahwa perempuan Indonesia harus sadar 
akan kewajiban sebagai “Ibu Bangsa.” 

Marginalisasi Perempuan

Namun kewajiban sebagai “Ibu Bangsa” tersebut saat ini tampak ironis saat deru 
liberalisme pasar makin memarginalisasi perempuan kelas bawah yang ada di 
sektor industri, pertambangan, dan pertanian. 

Erwiza Erman yang melakukan studi terkait perempuan dan pertambangan 
mengatakan, masuknya industri-industri tambang ke kawasan Indonesia dengan 
sangat massif dan serampangan, membuat sungai dan sumber-sumber mata air 
tercemar.

Perempuan, yang menggunakan air lebih banyak dari laki-laki untuk urusan 
memasak dan mencuci, terpaksa harus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya untuk 
bisa mengakses air bersih. 

Sementara itu, di sektor mata pencaharian, perempuan di desa juga tidak bisa 
lagi menggantungkan diri pada hasil kebun atau pertanian, karena tanah diambil 
untuk pertambangan atau perkebunan multinasional. Mereka terpaksa menjadi buruh 
upahan.

Khusus untuk kawasan pertambangan, para laki-laki yang bekerja di sektor ini, 
namun perempuan yang terkena dampak negatifnya. “Ada tiga penyakit yang 
menyertai buruh upahan yang bekerja di pertambangan, yakni mabuk, prostitusi, 
dan judi,” kata Erwiza. 

Dampaknya, konflik rumah tangga meningkat dan perempuan menjadi korban, bukan 
hanya kekerasaan fisik, tapi juga psikis. Ini belum bicara soal bagaimana 
ringkihnya posisi buruh tambang di hadapan perusahaan.

“Tambang ini kan mengikuti harga komoditas. Jadi kalau harga lagi tak bagus, 
para buruh upahan ini bisa dipecat,” ujar Erwiza. Kemudian skenario berulang, 
perempuan yang adalah istri dan ibu dipaksa menanggung beban, dua kali lipat 
lebih berat dari laki-laki.

Namun inisiatif-inisiatif para perempuan di berbagai komunitas di Indonesia 
untuk bangkit dan melawan situasi ekonomi yang melilit mereka, membuat kita 
merasa yakin bahwa ibu akan selalu memiliki cara dan kesabarannya untuk 
menanggung dukanya dan merawat Indonesia. Selamat Hari Ibu!



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke