http://www.analisadaily.com/news/read/2011/12/30/28213/kematian_demokrasi_kita/#.Tv6YDNWDqRI

Opini - Hari ini Pkl. 00:54 WIB

Kematian Demokrasi Kita
Oleh : Umbu TW Pariangu. 


Jika Soekarno menggugat Indonesia soal nasionalisme, Hatta dengan ekonomi 
berdikarinya serta Syahrir dengan filosofi ekonomi sosialis-nya. Mungkin kaum 
muda di era sekarang akan menggugat bangsa ini dengan fenomena kegagalan 
demokrasi yang sudah di titik meragukan. Apakah Indonesia bisa melanjutkan 
revolusi demokrasi hingga di titian akhir riwayatnya atau menjadi onggokan 
sejarah yang terkapar di tengah-tengah labirin perebutan kekuasaan.

Jared Diamond (Viking, 2005) pernah memotret salah satu indikator negara gagal 
yakni ketika parpol sudah terjebak dalam orientasi puritan, memperoleh 
kekuasaan politik (seize political power) semata ketimbang memberikan 
pendidikan budaya politik masyarakat. Senada dengan ini, ketiadaan kesadaran 
dan kritisisme parpol dalam menyingkap persoalan sosial mau tak mau telah 
mengekalkan doxa (ide absolute) parpol pada kekuasaan. Terkait ini, Paulo 
Freire mengutip Fransisco Weffers (2000) telah menggugat, bahwa kekuasaan tanpa 
kesadaran kritis mengungkap tabir penindasan yang dialami rakyat merupakan 
pertanda kematian sebuah bangsa.

Indonesia, merupakan sebuah etalase kekhawatiran paling telak untuk menjelaskan 
feneomena di atas ketika revolusi demokrasi sejak tumbangnya Orde Baru justeru 
menuai paradoks lanjutan. Kematian rezim Soeharto di satu sisi memberikan 
kepastian pada jalan baru demokrasi namun di sisi lain kapasitas untuk itu 
tidak tersedia bahkan kian meretas pesimisme baru berikut, apakah konsolidasi 
demokrasi yang ditempuh lewat pemilu yang sudah tiga kali di era reformasi bisa 
memberikan sebuah perubahan politik?

Kekecewaaan publik pada demokrasi yang dijalankan tidak secara matang memang 
bukan monopoli Indonesia. Negara-negara di Amerika Latin (Kolombia, Equador, 
Venezuela, Argentina) bahkan dengan politisi sayap kirinya pun, mempraktekkan 
demokrasi yang masih amat superficial (Ellen Wood, 1996; Hollinger, 1996; 
Bowles & Gintis, 1987). Demokrasi yang mempopulerkan keadilan, kesejahteraan 
dan kesetaraan cumalah sloganisme siang bolong yang mengisi ruang hampa 
fatalisme rakyat setelah dilibas krisis sebelumnya.

Politik Titular

Apa pun bentuk dan kekurangannya, demokrasi dalam perspektif konsolidasi yang 
sedang kita jalani setidaknya diharapkan memberi solusi bagi kedangkalan 
demokrasi yang menempatkan siprit dan visi bangsa sebagai kekuatan moral. Hanya 
saja sebelum itu tercapai, kita sekonyong-konyong diperhadapkan musim semi 
pengelolaan politik-kekuasaan titular. 

Istilah ini penulis pakai untuk disandangkan di bahu elit-elit politik kita 
yang pintar memanfaatkan kata demokrasi dan kebebasan untuk membereskan 
kepentingan pribadinya dan kelompoknya, jauh dari langgam demokrat tulen.

Bayangkan, dalam dalam satu dekade lebih otonomi daerah ini, kita asyik mengisi 
kognisi publik dengan logika, kita tak kekurangan demokrat. Dengan 
desentralisasi kekuasaan diniscayakan munculnya para elit lokal yang memahami 
dan mampu menjelaskan otonomi politik secara nyata ke tengah masyarakat. 
Nyatanya sejumlah friksilah yang dituai baik itu dalam rupa otonomi yang 
kebablasan dan makin banalnya praktek korupsi. 

Kita menyaksikan bagaimana NKRI ini perlahan-lahan dikoyaki hasrat binal 
korupsi yang melanda hampir seluruh pejabat di berbagai institusi yang gagal 
menempatkan aspirasi masyarakat sebagai dasar konstitusi. Belum lagi ritual 
kekerasan bertameng etnis, agama, bisnis-kepentingan di daerah yang 
mengangkangi prinsip Indonesia yang satu. 

Pada dasarnya, demokrasi bukan saja dijadikan sebagai sesuatu yang bebas nilai 
namun juga telah diterjemahkan menjadi proyek pragmatis yang bisa mematikan 
seluruh harapan substansial berdemokrasi di tangan para politisi titular 
tersebut.

Pada kerisauan ini, kita patut menyesalkan bahwa ada yang terpenggal dan 
tertunggak dari pelaksanaan tahap dua revolusi demokrasi ini. Meminjam istilah 
Fadjroel Rachman, tahap pertama revolusi demokrasi adalah saat tumbangnya 
kekuatan orde baru dan tahap revolusi kedua merupakan momentum paling strategis 
dalam mengonsolidasikan politik kekuasaan ke dalam agenda dan praksis yang 
terinternalisasi sebagai budaya kekuasaan yang terukur. Baik dalam komitmen 
maupun cita-cita hingga kinerja nyata.

Defisit Demokrasi

Sayangnya di revolusi terakhir ini, pelaksanaan demokrasi telah melewatkan 
koridor penting dalam institusionalisasi kepemimpinan nasional yakni, Pertama, 
tidak terakomodirnya alternatif kepemimpinan menjelang pemilu 2014 selain diisi 
wajah-wajah politisi lama yang terbebani sejarah silam yang pahit. 

Ini sama fenomenanya dengan pemilu 2009 lalu di mana Mahkamah Konsitusi 
menetapkan parpol sebagai satu-satunya embrio organik politisi. Itu sebabnya 
out put pemilu 2009 gagal menunjukkan profetisme politiknya, di mana 
pemain-pemain politik hanyalah hasil political laundry dari sisa-sisa elit lama 
yang mereinkarnasi dirinya secara lebih populis. Termasuk diuntungkan oleh 
modernya pencitraan politik yang dikemas dengan berbagai survei.

Kedua, gagalnya bagi kepemimpinan muda (main political leadhersihip) untuk 
mengisi kognisi kepemimpinan nasional yang ditandai maraknya korupsi seperti 
kasus gayus, Nazaruddin maupun rekening gendut PNS Muda yang setidaknya 
didukung oleh dua kekuatan konspiratif-pragmatis yakni jaringan dan finansial. 
Ironisnya kekuatan tersebut terinstitusionalisasi dalam riwayat partai politik 
yang dis-orientasi dan mengalami kelumpuhan ideologi. 

Maka meski Indonesia sudah berada di panggung demokrasi terbuka selama belasan 
tahun namun karakter ideologi demokrasi kita masih tertutup (closed ideology) 
sehingga gagal membuka kemungkinan dan alternatif mengelola sirkulasi 
kepemimpinan yang bertanggung jawab. 

Dua hal inilah yang mendefisitkan seluruh pekerjaan demokrasi bangsa ini di 
tengah maraknya para politisi mencari dan menumpang ‘gelar dan identitasnya’.

Semoga gugatan itu terus menginspirasi kepemimpinan saat ini untuk memelihara 
komitmen dan pengorbanan memajukan kepentingan rakyat yang salah satunya dengan 
berani mati untuk melawan musuh bersama: korupsi.***

Penulis, Dosen FISIP, Universitas Nusa Cendana, Kupang.

 
Baca Juga Artikel Berita Terkait 
Senin, 05 Des 2011 07:55 WIB
Demokrasi Arab-Turki
Kamis, 01 Des 2011 16:31 WIB
Demokrasi Indonesia masih politis
Sabtu, 26 Nov 2011 06:37 WIB
Prof Seoungwon Lee: Bila Masyarakat Tak Bahagia, Itu Bukan Demokrasi
Selasa, 25 Okt 2011 00:49 WIB
Demokrasi Makan Hati
Minggu, 09 Okt 2011 04:00 WIB
Etnisitas dalam Demokrasi
Sabtu, 17 Sep 2011 06:46 WIB
Myanmar BerikrarLakukan Reformasi Demokrasi

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke