Belanda Khianati Orang Papua

Koran Belanda De Volkskrant menampilkan berita tentang gejolak di Papua, soal 
tuntutan merdeka warga Papua serta tindaka pihak keamanan Indonesia di sana 
secara panjang lebar. Setelah lima puluh tahun, tulis koran itu, sebagai 
dikutip Radio Nederland, Senin (16/1/2012), orang Papua juga masih merasa 
dikhianati Belanda. Kemerdekaan yang dijanjikan Belanda kepada rakyat Papua, 
tak kunjung datang. 

Cita-cita kemerdekaan itu masih hidup di hati orang Papua. Namun cita-cita itu 
ditindas dengan keras oleh pemerintah Indonesia, demikian De Volkskrant 
mengawali laporannya. 

Ketika Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Indonesia pada 1949, Nieuw-Guinea, 
nama Papua di zaman Belanda, tetap dipertahankan sebagai wilayah jajahan 
Belanda. Alasannya apa, tidak jelas. Mungkin karena Belanda masih mau 
mempertahankan pengaruhnya di kawasan, tulis De Volkskrant.

Lalu Belanda pun membangun kawasan itu dan berupaya untuk menjadikannya sebagai 
kawasan jajahan teladan. Mungkin tujuannya untuk menunjukkan ke mata dunia, 
bahwa penjajahan itu tidak selalu buruk.

Namun Indonesia tetap menuntut kawasan itu dan mengancam perang. Malah 
Indonesia beberapa kali mencoba melakukan invasi. Dunia internasional semakin 
mendesak Belanda untuk melepas daerah jajahannya itu, untuk mencegah bertambah 
parahnya kondisi.

Cikal bakal 

Namun Belanda tidak mau sama sekali menyerahkan Papua kepada Indonesia. Belanda 
malah menyiapkan kemerdekaan kawasan itu. Maka pada 1 Desember 1961 Nicolaas 
Jouwe memperkenalkan bendera Bintang Kejora. Lalu dibentuklah Dewan 
Nieuw-Guinea, yang berfungsi sebagai cikal bakal pemerintah Papua Merdeka.

Indonesia menentang dengan sengit dan akhirnya tercapai kompromi di PBB. 
Kawasan itu akan dimasukkan di bawah naungan PBB dan lama kelamaan akan digelar 
"act of free choice", semacam referendum, supaya rakyat Papua bisa menentukan 
pilihan merdeka atau tidak.

Namun Indonesia cepat-cepat menginvasi kawasan itu sebelum Belanda hengkang 
dari sana. Pada 1969 "referendum" yang kontroversial itu digelar. Sekelompok 
orang Papua yang sudah dipilih lebih dahulu dipaksa memilih untuk bergabung 
dengan Republik Indonesia.

Dunia internasional sempat memprotes, tapi akhirnya pasrah juga. Sejak itulah 
Nieuw-Guinea menjadi provinsi Indonesia dan diberi nama Irian Jaya. Ibu kota 
Holandia diganti dengan Jayapura.

Dari cerita di atas jelas sekali orang Papua saat itu dijanjikan oleh Belanda 
untuk merdeka. Tapi janji itu tak terpenuhi Belanda. Karena janji Belanda 
itulah, orang Papua kecewa."Orang Papua dikhianati politisi," demikian bunyi 
judul berita di De Volkskrant. 

Kirim email ke