From: H. M. Nur Abdurrahman
Sent: Sunday, January 29, 2012 12:04 PM
To: [email protected]
Subject: [wanita-muslimah] Ho Eng Djie
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
608. Ho Eng Djie
Pada halaman yang menjadi lembar persekutuan dengan halaman Kolom Serial ini
termaktub artikel: "Mengenang Karya-Karya Hong Eng Djie." Saya merasa
terpancing untuk menyambut artikel itu.
Waktu saya masih remaja biasa pergi ke rumah Ho Eng Djie bersama-sama kakak
sepupu saya Rukuq Dg Mappataq (seorang veteran yang tidak mau pusing mengurus
kartu veterannya, semua veteran dari Selayar tahu hal itu), biasanya
berbincang-bincang tentang filsafat. Di rumah Ho Eng Djie terdapat sebuah kotak
tanpa penutup berisi lembaran-lembaran kertas. Setiap lembar bertuliskan Kelong
Mangkasaraq hasil gubahannya dalam aksara Lontaraq. Menurut sejarah aksara
Lontaraq ini dikarang oleh Sabannaraq Daeng Pammatte. Sabannaraq artinya
syahbandar, karena Daeng Pammatte ini adalah syahbandar Kerajaan Gowa dahulu.
Suatu waktu tatkala kami berdua berkunjung ke rumah Ho Eng Djie, ia menyodorkan
lembaran kertas: "E turungka niassedeng ribangngiya kelong leqbaq kupareq,
apanne (hai anak muda, tadi malam saya berhasil menggubah kelong, ini dia)",
sambil mengambil lembaran yang bertuliskan Kelong Mangkasaraq seperti yang
dikutip di bawah ini.
Kamma memangiq linoa,
tena tojeng kabajikang.
Kodi nicalla,
Bajika nikimburui.
Begitulah adat di dunia
Tak dibiarkan berlalu mulus
Kalau buruk dicela
Yang baik merangsang cemburu
"Tena kussituruq kelongta Babaq, nasabaq tena nakamma ngaseng tauwa ri lino,
sipaqgangji kammanjo. Napunna niyaq ancallaki iyareka nasere ati rikalenta, nia
baca-bacana ilalang ri Koranga (saya tidak sependapat dengan isi kelong yang
Baba gubah, sebab tidak semua orang dalam dunia demikian sikapnya, hanya
sebagian saja yang demikian. Namun jikalau ada yang mencela ataupun dengki
kepada kita ada baca-bacanya di dalam Al Quran)". "Ha, niya baca-bacana?
Antekamma! (Oh ya, ada baca-bacanya? Bagaimana!). Maka saya bacakanlah S. Al
Falaq:
Qul A'uwdzu bi Rabbi lFalaqi.
Min Syarri maa Khalaqa.
Wa min SYarri Ghasiqin Idzaa Waqaba.
Wamin SYarri nNafFaatsaati fi l'Uqadi.
Wamin SYarri Haasidin idzaa Hasada.
Katakan, saya berlindung kepada Yang Maha Pengatur falak.
Dari kejahatan makhluk.
Dan dari kejahatan malam bila telah gelap.
Dan dari kejahatan penyihir yang meniup dengan air ludahnya pada buhul tali.
Dan dari kejahatan orang yang iri-hati bila ia melahirkan dengkinya.
Sejenak Ho Eng Djie tertegun, kemudian berkata: "Bajiq sikali antu
baca-bacayya, mingka sitojeng-tojengna niyaq ilalanganna anjo kelonga (baik
benar itu baca-baca, namun sebenarnya ada yang tersirat dalam syair itu)".
Kemudian Ho Eng Djie menjelaskan. Sikap warga asli pada umumnya terhadap warga
peranakan Cina tidak ada yang baik. Kalau warga peranakan buruk kelakuannya
mereka dicela, dan itu memang wajar. Yang tidak wajar ialah warga asli memukul
rata. Punna niya Cina kodi sipaqna, e, iya ngaseng Cinayya anggappa passepoloq
(Kalau ada warga Cina tidak baik sifatnya, buruk kelakuannya, maka semua Cina
yang kena semprot). Kalau baik dalam pengertian maju dalam usaha dagangnya
mereka dicemburui.
Kemudian Ho Eng Djie melanjutkan. Sikap warga asli yang demikian itu karena
kesalahan warga keturunan Cina juga dalam bersikap. Assingkammai sipaqna
Yahudiya ri Aropa, iyamintu naallei kalenna (seperti sikapnya orang Yahudi di
Eropa, yaitu eksklusif). Itulah latar belakangnya saya mendirikan Orkes
Kullu-Kulluwa. (Orkes Kullu-Kulluwa, adalah orkes lagu-lagu daerah Makassar,
beberapa yang direkam di atas piring hitam. Dahulu belum ada pita kaset). Ho
Eng Djie berupaya a'bengkoro' (membaur) dengan warga asli melalui seni suara,
karena dalam Orkes Kullu-Kulluwa kedua warga yang seperti air dengan minyak itu
dibaurkan bersama. (Dikutip dari: Seri 328. Warga Keturunan Cina, 28 Juni 1998).
***
Dalam artikel "Mengenang Karya-Karya Hong Eng Djie" hanya gubahan Ho Eng Djie
saja yang disebut, sedangkan lagu-lagu lain yang bukan gubahannya hanya
disebutkan secara umum: lagu-lagu Makassar, Bugis, Mandar dan Selayar. Mestinya
disebutkan pula lagu-lagu itu seperti misalnya: Mas Bangung, Mas Mera, Air
Mawar, Rambang-Rambang dll. Walaupun bukan gubahan Ho Eng Djie, tetapi termasuk
karya-karya Ho Eng Djie juga dalam hal aransemen (arrangement).
Saya pribadi mempunyai nostalgia lagu Rambang-Rambang. Ini pernah saya tulis.
Malam Jumat, 4 Agustus 1994, di lantai 3 Gedung Harian Fajar itu tatkala
mendengarkan alunan suara budayawan Mappaseleng Dg Maqgauq, menyanyikan "Minasa
ri Boritta", saya bernostalgia, ingat tempo doeloe, ketika saya masih kecil di
kampung halaman, sewaktu lagu-lagu daerah masih sangat dominan, oleh karena
belum terjadi akulturasi budaya kita dengan budaya luar. Waktu itu setiap ada
"paqgaukang", pesta kenduri, tidak pernah ketinggalan acara kesenian
Rambang-Rambang, yaitu nyanyian solo diiringi oleh empat atau lima biola dan
rabbana (rebana). Sebelum Perang Dunia kedua kalau ada Pasar Malam di Makassar,
Parambang-Rambang Silayaraq tidak pernah absen. Mengapa nyanyian solo yang
diiingi dengan perangkat bunyi-bunyian biola dan rebana itu dinamakan
apparambang-rambang, menggelar rambang-rambang, oleh karena senantiasa lagu
pertama yang dinyanyikan ialah lagu Rambang-Rambang. (dari Seri 139.
Rambang-Rambang, Nostalgia Tempo Doeloe, 7 Agustus 1994).
Apa itu Rambang-Rambang? Aq-rambang-ang? Itu adalah istilah dalam kalangan
pelaut, artinya berlayar beriring.
Pakabajiki boritta
Kimassing assamaturuq
Nakiqrambangang
Assombali mateqneya
Benahilah negeri kita
Masing-masing bersepakat
Berlayar beriring
Mencapai idaman manis
Mencapai idaman manis, kalau meminjam gaya Ambon: "Menuju Ambong manise".
Karena judul seri ini nama orang, maka marilah pada awal tahun 2004 kita tutup
perbincangan ringan ini, dengan tiga daur (siklus) nama orang: Bram Aceh orang
Ambong, Ibrahim Ambong orang Bugis, Isa Bugis orang Aceh. Maaarikiiii. WaLlahu
a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 4 Januari 2004
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2004/01/608-ho-eng-djie.html
[Non-text portions of this message have been removed]