http://www.sinarharapan.co.id/content/read/tionghoa-indonesia-berhenti-meratapi-masa-lalu/

07.02.2012 12:24

Tionghoa Indonesia, Berhenti Meratapi Masa Lalu 
Penulis : Ruhut Ambarita/Daniel Tagukawi  

 JAKARTA - Generasi telah berganti, namun warga negara keturunan Tionghoa masih 
terus dihantui sejarah kelam. 
Perlakuan diskriminasi hingga penistaan puluhan tahun lamanya seolah sulit 
pudar dilekang zaman. Bukan ingin melupakan, namun jangan sampai duka itu terus 
mengungkung sebagai anak bangsa Indonesia.

Demikian benang merah diskusi "Anatomi Politik Tionghoa" yang digelar harian 
umum Sinar Harapan di Jakarta, Senin (6/2). Diskusi ini menghadirkan sejumlah 
tokoh, akademikus, politikus, birokrat, dan pengusaha keturunan Tionghoa.

“Jangan menangis, jangan meratapi masa lalu. Masalah Indonesia ini masalah kita 
semua. Sekarang tergantung kita. Mau sama-sama berbuat atau tidak untuk 
Indonesia?" kata Hermawi F Taslim dari Komunitas Glodok.

Menurutnya, sekarang ini keturunan Tionghoa Indonesia sama dengan warga negara 
lain. Kalau ada hak sebagai warga negara yang tidak dipenuhi harus 
diperjuangkan, bukan meratapi masa lalu. 

"Sekarang ini tidak ada satu pun partai yang tidak ada keturunan Tionghoa. 
Kalau ada masalah satu dua kasus soal SKBRI di lapangan, misalnya, itu bukan 
kebijakan tapi karena ketidaktahuan petugas saja," tegasnya.

Peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Thung Ju Lan 
mengatakan, bangsa Indonesia, terutama warga Tionghoa, secara intelektualitas 
memiliki persoalan keterputusan generasi akibat penyingkiran terhadap anak-anak 
bangsa yang terjadi selama rezim Soeharto.

Keterputusan hubungan antara generasi tua-muda akibatnya menimbulkan krisis 
identitas di generasi muda yang sulit dihindarkan. Itu mengapa, kata dia, 
langkah bersama membangun masa depan bangsa masih sulit dilakukan. Generasi 
muda keturunan Tionghoa, utamanya, masih sulit melihat dirinya sebagai bagian 
dari Indonesia.

"Keterputusan ini jika tidak diselesaikan maka akan terus menimbulkan trauma. 
Kita harus mencari jalan keluar dari keterputusan ini," katanya.

Oleh karena itu, ia mengatakan, bangsa ini harus melahirkan orang-orang baru 
karena membutuhkan generasi muda yang berpikir holistik dan plural.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat China, Sudrajat memandang 
orang Tionghoa di Indonesia belum berhasil berbaur dengan warga Indonesia dari 
etnis lainnya yang beraneka ragam. Warga keturunan Tionghoa yang utamanya 
tinggal di perkotaan masih mengasingkan diri dalam bingkai eksklusivisme.

Situasi hubungan sosial seperti itu, menurutnya, terjadi akibat politik dan 
kekuasaan pada masa lalu yang mengucilkan warga Tionghoa selama puluhan tahun 
lamanya, sehingga tak ada banyak pilihan selain berdagang dan membangun 
komunitas sendiri. Bangsa ini gagal membangun integritas yang multimajemuk, 
katanya.

Pencabutan aturan yang tercipta semasa rezim Soeharto untuk mengucilkan warga 
Tionghoa di Indonesia pun belum mampu mengembalikan kepercayaan. Karena itu 
Sudrajat berharap, "(Mari) kita melupakan peristiwa masa lalu untuk 
mengantarkan (bangsa) seperti situasi pada saat ini."

Bukan Seragam

Hal senada dikatakan Harry Tjan Silalahi dari Centre for Strategic and 
International Studies (CSIS). Ia mengatakan, warga Tionghoa di Indonesia harus 
berhenti meratapi luka pada masa lalu. Krisis kebangsaan dan kemiskinan saat 
ini merupakan ancaman nyata yang terus menggerus nilai-nilai kebangsaan dan 
kebhinekaan.

Warga Tionghoa, kata Harry, harus mengambil kesempatan memperkuat nilai-nilai 
kebangsaan dan kebhinekaan, serta menjawab keterpurukan ekonomi yang tengah 
dialami bangsa. "Kita harus menjadi bagian dari penyelesaian problem bangsa 
ini," kata pria bernama asli Tjan Tjoen Hok itu.

Namun, kata Harry, ada tiga faktor yang dapat membuat hal itu terjadi. Pertama 
adalah meninggalkan nilai-nilai primodialisme primer dengan menegakkan keadilan 
sosial. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan harus dikedepankan, bukan 
keseragaman. "Unity not uniformity," ujarnya.

Faktor terakhir, kata Harry, warga Tionghoa harus menularkan secara nyata 
nilai-nilai luhur Tionghoa, seperti rajin, tekun, setia kawan, dan melayani 
orang lain. "Hal itu yang kini dilupakan," ujarnya. Menurutnya, kontribusi 
warga Tionghoa terhadap bangsa ini harus dibuktikan dan kemudian ditunjukkan 
kepada warga Indonesia lainnya.

Senada dengan Harry, CEO Global Nexus Institute, Christianto Wibisiono 
mengatakan, warga Tionghoa sebaiknya berhenti atau jangan lagi mempersoalkan 
masa lalu. Bangsa Indonesia harus dapat memberi contoh kepada bangsa-bangsa di 
seluruh dunia.

Di sisi lain, kata Christianto, presiden Indonesia pada masa mendatang harus 
dapat mengantarkan proses rekonsiliasi bangsa ini dengan sejarah masa lalunya 
yang kelam sebagai bangsa yang bermartabat dan berjiwa besar. 

Menurutnya, dari presiden pertama sampai keenam tentu memiliki kelebihan dan 
kekurangan. Jadi, tidak ada presiden yang baik semua atau buruk semua. Presiden 
ketujuh nanti, katanya, harus figur yang memiliki visi menuju Indonesia 
bermartabat.

"Tidak bisa dengan politik dinasti, oligarki, dan kartel politik. Tapi, kita 
butuh figur yang mampu memimpin Indonesia dan memimpin Asia Tenggara," tegasnya.

Aimee Dawis dari FISIP UI menuturkan, setelah 1998 ada banyak kemajuan di 
berbagai bidang yang dialami warga Indonesia keturunan Tionghoa. Misalnya, 
organisasi keturunan Tionghoa tumbuh sangat pesat karena mencapai 300-500 
organisasi.

Organisasi itu bergerak di bidang sosial, seni, dan sebagainya. "Tidak ada lagi 
persoalan untuk berekspresi, misalnya melalui musik, seni, serta usaha. Begitu 
juga dengan pendidikan yang berkembang sangat pesat," ia menjelaskan.

Namun, Aimee melihat peranan kaum perempuan keturunan Tionghoa dalam 
pembangunan bangsa perlu mendapat perhatian. "Namun, ada sejumlah tokoh perlu 
menjadi teladan, seperti Mari Elka Pangestu dan Susi Susanti," katanya. 



07.02.2012 09:49

Capgome, Sugesti Positif dan Kritik
Penulis : Tom Saptaatmaja*  

Tahun baru Imlek adalah tahun yang paling unik dibanding sistem kalender yang 
lain, karena dirayakan selama 15 hari, bukan cuma satu hari atau sekadar satu 
malam seperti tahun baru Masehi. Pada Senin (23/1) lalu, masyarakat Tionghoa di 
seluruh dunia merayakan Tahun Baru China yang biasa disebut Imlek. Seluruh 
rangkaian kegiatan Imlek ditutup secara lebih meriah pada hari ke-15 yang biasa 
disebut Capgome. Capgome jatuh pada Senin (6/2).
Di beberapa kota besar kita, perayaan Capgome malah lebih meriah. Di 
Singkawang, Kalimantan Barat, pawai Capgome malah menjadi agenda pariwisata 
internasional. Dengan atraksi tatung yang berasal dari etnis Tionghoa, Dayak, 
dan Melayu, ritual pembersihan kota di Singkawang sungguh mengundang decak 
kagum.

Kemudian, sudah menjadi kelaziman, menjelang Imlek sampai Capgome, muncul 
beragam ramalan. Buku-buku ramalan banyak beredar dan laris manis di pasar. 
Omzetnya bisa miliaran rupiah.Tidak heran penghasilan para peramal, astrolog 
atau ahli nujum juga sangat terdongkrak. Maklum, banyak yang percaya ramalan. 

Seolah seluruh hidup dalam satu tahun, mereka begitu bergantung pada ramalan. 
Padahal menurut tradisi awal di China, ramalan hanya upaya manusia untuk 
mengintip masa depan. Mengingat manusia tidak bisa melihat masa depan, ramalan 
diperlukan sebagai semacam penunjuk arah.

Bila mau percaya ramalan, silakan. Karena itu tulisan ini tidak bermaksud 
melarang ramalan. Hanya perlu diingat, ramalan bisa bermasalah, terlebih bila 
ramalan buruk 100 persen dipercaya. Namun bila ramalan tentang hal buruk 
disikapi sebagai peringatan, kita mungkin bisa bersikap hati-hati.

Tapi ramalan tentang hal-hal buruk perlu dikritisi. Kita tahu jangankan dalam 
ramalan, dalam kenyataan sehari-hari, sudah banyak kita saksikan atau bahkan 
keburukan yang menyengsarakan itu kita alami sendiri. 

Melihat hal-hal buruk, ditambah ramalan buruk, hanya akan membuat keburukan 
seolah mendominasi. Apalagi, kalau kita sudah punya cara pandang buruk, 
segalanya bisa tampak sangat hitam tanpa harapan.

Karena itu, berbagai ajaran agama samawi, seperti Islam atau Kristen, 
mengajarkan ramalan astrologi atau shio adalah haram. Percaya pada ramalan ahli 
nujum atau peramal adalah kemusyrikan, karena mengambil alih peran Sang 
Pencipta sendiri. 

Terlebih kalau kita kaitkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, rasanya 
ingar bingar yang ada hanya mengesankan satu hal, bahwa seolah sudah tidak ada 
lagi kebaikan di negeri ini. Afirmasi atau sugesti negatif yang terakumulasi 
dan tiap hari disuarakan di mana-mana bisa sangat berbahaya bagi kehidupan kita.

Sugesti Positif

Padahal untuk meraih kemajuan dan keberhasilan, kita semua sangat membutuhkan 
afirmasi positif, semisal “Masih ada hal yang baik, kemajuan bisa diraih, aku 
bisa bersaing, aku bisa menang, dan sebagainya”. Dalam konteks inilah penulis 
sependapat dengan ajakan Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk selalu mempunyai 
harapan. 

Kebetulan pula, sebuah ramalan menyebutkan 2012 adalah tahun pencerahan dan 
perbaikan, karena karakter naga air yang sifatnya menjernihkan dan mendinginkan 
sehingga yang bergejolak panas pada 2011 akan menjadi tenang pada 2012.

Afirmasi-afirmasi yang baik dan penuh harapan serta mencerahkan atau 
menjernihkan ini jelas positif dan perlu bagi kita untuk bisa bangkit, tetap 
bersemangat, memiliki harapan, dan akhirnya berhasil meraih kemajuan.

Sebenarnya, baik agama atau psikologi sudah mengajarkan betapa pentingnya 
sugesti atau afirmasi positif itu. Raja dan Nabi Sulaiman sudah sejak lama 
mengajarkan, manusia akan menjadi seperti yang dipikirkan.

Demikian juga sebuah bangsa atau negara. Kalau kita memikirkan kebaikan dan 
harapan-harapan yang memberi semangat untuk melakukan perubahan, kebaikan dan 
perubahan pasti akan terjadi.

Tanda-tanda yang memberi harapan itu sebenarnya cukup banyak. Salah satunya, 
lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings pada Desember 2011 yang telah 
menaikkan peringkat Indonesia ke level investment grade. Fitch telah menaikkan 
Long-Term Foreign-and Local-Currency Issuer Default Ratings (IDR) Indonesia 
menjadi BBB- dari BB+ dengan outlook atas kedua peringkat tersebut stabil.

Sebaliknya, kalau kita hanya memikirkan keburukan atau kegagalan, hal-hal ini 
juga akan terjadi. Di sinilah pentingnya kita memiliki visi. Terkait ini, kita 
butuh pemimpin visioner yang mempunyai visi negeri ini mau dibawa ke mana. 

Visi beda dengan ramalan, karena visi didukung perhitungan tentang risiko dan 
kendala secara umum. Visi tak boleh absurd. Visi lalu dikomunikasikan dengan 
rakyat sehingga semua akhirnya mempunyai visi yang sama.

Untuk menghidupi visi itu diperlukan pemimpin berkarakter, bukan pemimpin 
reaktif yang mudah terjebak dalam isu tertentu dan hanya sibuk membangun citra 
demi kepentingan sesaat. 

Kita mungkin bisa belajar dari China. Ketika China berdiri pada 1 Oktober 1949, 
Mao Zedong mengkritik Amerika Serikat sebagai kapitalis terbesar. Tapi Mao juga 
kagum pada AS. Ketika melancarkan program “Lompatan Jauh ke Depan” pada 1959, 
Mao mempunyai obsesi, 15 tahun lagi atau suatu saat China harus menjadi seperti 
AS. 

Visi Mao lalu diteruskan Deng Xiaoping dan hari-hari ini, semua orang tahu 
China sudah nyaris menyamai AS. China bukan hanya menjadi macan Asia, tetapi 
sudah macan di level dunia. Kemajuan China tidak lepas dari adanya pemimpin 
yang visioner dan kuat.

Kritik untuk Penyeimbang

Indonesia juga bisa setara dengan China, bila Indonesia memiliki pemimpin yang 
tepat dan tidak lembek. Dalam berbagai perbincangan penulis dengan banyak 
kalangan, rata-rata muncul pendapat senada, salah satu kelemahan terbesar 
Indonesia saat ini adalah kepemimpinan. 

Mantan Menteri Ekonomi Rizal Ramli pernah mengungkapkan negeri kita begitu 
melimpah ruah dengan sumber daya alam dan SDM hebat. Hanya satu kekurangan yang 
menonjol, yakni pemimpin negeri ini. 

Akhirnya tulisan ini tidak bermaksud mengesampingkan kritik atau kontrol. Sebab 
jangan lupa, untuk meraih kejayaan dan demi kebaikan bersama, kita jangan 
sekali-kali alergi kritik. Seorang pemimpin yang ingin berhasil dalam 
kepemimpinannya, membutuhkan “second opinion”.

Lagi pula kritik adalah tanda utama adanya dinamika demokrasi. Kritik hanya 
haram pada pemerintahan oligarki atau otoriter seperti di era Orba dulu. Media 
mempunyai peran penting dalam mengemban kontrol atas kehidupan berbangsa dan 
negara. 

Para tokoh agama atau orang-orang cerdik pandai berperan dalam memberikan 
kritik konstruktif. Kritik dibutuhkan agar ada keseimbangan sehingga kekuasaan 
tidak menjadi semena-mena atau korup, tapi demi kebaikan bersama.

*Penulis adalah alumnus STFT Widya Sasana Malang dan Semianri St Vincent de 
Paul.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke