Majalah Inilah REVIEW Edisi Ke-24
Siapa Yang Memainkan Bank Mutiara?
inilah.com
Ekonomi - Senin, 13 Februari 2012 | 14:00 WIB
 
BANK Mutiara yang sudah lama ditawarkan ke publik, tiba-tiba ditawar Rp 6,75 
triliun oleh Yawadwipa Companies. Salah satu tokoh Yawadwipa ternyata kerabat 
almarhum mantan Presiden Soeharto.

Inilah babak lanjutan dari kisah skandal Bank Century. Bank yang kini telah 
menjema menjadi PT Bank Mutiara Tbk dan masih dalam naungan Lembaga Penjamin 
Simpanan (LPS) itu, tiba-tiba saja ditawar oleh sebuah perusahaan private 
equity fund bernama Yawadwipa Companies. Bank Mutiara, yang sebelumnya takada 
yang melirik, kini seolah menjadi mutiara sejati--sesuai namanya yang sangat 
berharga.

Bagaimana tidak, begitu LPS mulai membuka periode kedua penjualan Bank 
Mutiara—mulai1 Februari 2012 hingga April 2012—tiba-tiba saja Yawadwipa secara 
terbuka menyatakan siap membeli dengan harga US$ 750 juta atau sekitar Rp 6,75 
triliun. Ini nilai yang sama dengan dana yang disuntikkan pemerintah, ketika 
bank ini sudah dalam posisi bangkrut.

Apabila benar seperti itu, Yawadwipa agaknya bakal melakukan akuisisi 100% 
terhadap Bank Mutiara. Dan negara melalui LPS bakal mendapatkan kembali dana Rp 
6,75 triliun yang dulu digunakan untuk `memperbaiki' Bank Century pada 2008. 
Dengan kata lain, skandal bail-out Bank Century pun, kelihatannya, harus tutup 
buku karena dana talangan sudah kembali ke kocek negara. Jadi, benar-benar tak 
ada kerugian negara seperti yang disebutkanoleh Badan Pemeriksa Keuangan(BPK).

Adanya skenario seperti ini, tentu membuat Yawadwipa Companies segera menjadi 
perhatian. Dan ternyata memang muncul sejumlah kejanggalan. Pertama, perusahaan 
yang luar biasa itu, baru berdiri per 9 Januari 2012 atau sekitar 3 pekan 
sebelum LPS mulai membuka penawaran tahap kedua untuk penjualan Bank Mutiara.

Kedua, Yawadwipa merupakan investor pertama yang mengklaim bakal mengajukan 
penawaran kepada LPS. Keganjilan ketiga, ekuitas Bank Mutiara per 30 September 
2011 senilai Rp 998,8 miliar. Itu berarti tawaran Yawadwipa bernilai 7 kali 
lipat nilai ekuitas. Sebuah tawaran sangat berani.

Niat Yawadwipa membeli Bank Mutiara dilansir secara resmi sejak Senin pekan 
lalu. Dalam siaran persnya, Yawadwipa bakal membeli Bank Mutiara melalui 
Danareksa –selaku agen penjual-- sesuai dengan harga minimal yang ditetapkan 
pemerintah sebesar Rp 6,75 triliun.

Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan Yawadwipa, kondisi Bank Mutiara 
terus membaik. Antara lain bisa dilihat dari perolehan laba yang terus-menerus 
meningkat selama dua tahun terakhir. Dari laba Rp 69,8 miliar per September 
2010, menjadi Rp 285 miliar pada September 2011. Apalagi aset Bank Mutiara juga 
terus tumbuh dari Rp 10,8 triliun per Desember 2010 menjadi Rp 12,6 triliun. 
Itu terjadi hanya dalam waktu 9 bulan.

Kerabat Soeharto

Benarkah Yawadwipa bakal benar-benar mengakuisisi Bank Mutiara? Menurut Ketua 
Dewan Komisioner LPS, Heru Budiargo, seluruh calon investor yang berniat 
membeli Bank Mutiara harus mengikuti prosedur resmi yang ditetapkan. Termasuk 
Yawadwipa Companies.

Selain itu, calon pemegang saham pengendali sebuah bank harus lolos 
syarat-syarat Bank Indonesia. Diantaranya, sebelum mengakuisisi sebuah bank, 
investor harus punya modal yang diambil dari kocek pribadi.

Masalahnya, belum jelas benar siapa investor di balik Yawadwipa. Dalam laman 
resminya www.yawacompanies.com,hanya disebutkan bahwa perusahaan bergerak di 
bidang jasa keuangan yang terdiversifikasi dengan perusahaan konsultasi dan 
jasa manajemen investasi. Kantor Yawadwipa tersebar di 4 kota yakni Jakarta, 
Singapura, Hongkong, dan Kuala Lumpur.

Hal yang agak benderang adalah penjelasan bahwa Yawadwipa didirikan oleh C. 
Cristopher Holm, seorang eks bankir dari Bank of America Merrill Lynch. Holm 
–yang akrab disapa Chad-- menjadi Presiden Direktur Yawadwipa dan akan menjadi 
komisaris di Komite Investasi Java Fund. Holm mengaku sudah menyertakan modal 
senilai US$ 25 juta di perusahaan tersebut. Prestasi Holm adalah menangani 
lebih dari 50 kesepakatan finansial dengan nilai lebih dari US$ 150 miliar atau 
setara Rp 1.350 triliun.

Saat peresmian Yawadwipa 9 Januari lalu, Holm menyebut nantinya perusahaannya 
akan dinamai Java Fund. Rencana besar perusahaan adalah menghimpun dana US$1 
miliar untuk diinvestasikan ke Indonesia.

Sayang, Holm masih enggan menyebutkan siapa investor besar yang sudah berada di 
Java Fund. Alasannya, Yawadwipa belum mengantongi izin resmi dari regulator. 
Izin bakal keluar pada kuartal pertama 2012 ini. Toh dia menyebut, pengelola 
inti Java Fund nantinya sebagaian besar warga negara Indonesia.

Selain Holm, nama yang sudah terang-terangan muncul adalah Prasetyo PA Singgih 
yang menjabat Chief Operating Officer Yawadwipa. Prasetyo saat ini menjadi 
Ketua Departemen Hukum dan HAM Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar.

Pada Pemilu 2009 silam, dia tercatat sebagai calon anggota DPR dari daerah 
pemilihan Lampung II. Prasetyo ternyata juga salah satu Wakil Ketua Kamar 
Dagang dan Industri Indonesa (Kadin) Komite Tiongkok. Satu informasi penting 
lainnya, iakabarnya masih kerabat almarhum mantan Presiden Soeharto. Entah, 
kaitan persaudaraan dari sebelah mana.

Prasetyo inilah yang menegaskan bahwa Yawadwipa memang serius mengincar Bank 
Mutiara. "Ini bukan novel atau film.Kami bukan pengarang buku atau sutradara 
film, sehingga tidak ada yang misteriusatau yang ditutup-tutupi," ujar 
Prasetyo, Kamis pekan lalu.

Soal berbagai kecurigaan siapa investor besar di belakang Yawadwipa, Prasetyo 
mengatakan, tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Ini, kata dia, 
murnimerupakan private equity fund yang menghimpun dana dari dalam dan luar 
negeri, baik institusi dan individu. "Kemudian dana tersebut selanjutnya 
dikelola oleh sekelompok profesional. Jadi simpel dan clear!"katanya.

Sementara Holm mengatakan, Yawadwipa memiliki sumber pendanaan yang menarik 
untuk mengembangkan Bank Mutiara. Lalu darimana sumber pendanaan Rp 6,75 
triliun? "Kami tidak bisa membuka informasi semacam itu secara sembarangan," 
kata Holm.

Toh, Holm mengaku mendapat dukungan beroperasinya Yawadwipa dari Kepala Badan 
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan dan Ketua Umum Kadin Suryo B 
Sulisto. Apabila target dana US$1 miliar itu terealisasi, Yawadwipa praktis 
bakal menjadi lembaga private equity fund terbesar di Indonesia, mengalahkan 
lembaga yang sudah ada.

Yawadwipa melalui Java Fund akan mengungguli Northstar, Saratoga, Quvat, 
Ancora, Falcon atau Recapital yang dalam setahun terakhir diestimasi 
mengumpulkan dana US$200 juta-US$800 juta.

Lalu benarkah seperti klaim Yawadwipa bahwa Bank Mutiara memang layak untuk 
dibeli senilai Rp 6,75 triliun? Beberapa bankir papan atas yang dihubungi 
InilahREVIEWmengatakan, membeli Bank Mutiara sama saja mencari masalah. Maklum, 
selain kondisinya belum sehat benar, bank yang tak lain penjelmaan Bank Century 
ini sudah terlanjur carut-marut dengan cawe-cawe berbagai kepentingan politik.

Pada akhir Desember lalu, Direktur Utama PT Bank Mutiara Tbk, Maryono 
mengatakan, sepanjang tahun 2011, aset bermasalah yang berhasil diselesaikan 
mencapai Rp 750 miliar. Saat Bank Century diambil alih oleh LPS, total aset 
bermasalah mencapai Rp 6,5 triliun. "Jadi total aset yang berhasil diselesaikan 
sejak diambil alih hingga Desember 2011 senilai Rp 2,5 triliun atau 
diperkirakan sekitar 38 persen,"katanya.

Masih menurut Maryono, di antara aset bermasalah yang belum diselesaikan dalam 
bentuk surat berharga nilainya mencapai Rp 2,8 triliun. "Untuk menyelesaikan 
itu, kami menggunakan langkah-langkah hukum,"kata Maryono.

Sementara aset bermasalah lain seperti kredit dan letter of credit (L/C) 
penyelesaiannya sudah mencapai 50%. Kredit bermasalah misalnya, dari total 
Rp1,6 triliun, berhasil diselamatkan Rp 800 miliar. Sementara L/C bermasalah Rp 
1,7 triliun telah diselamatkan Rp 900 miliar. Terlepas dari keberhasilan versi 
Maryono ini, agaknya tunggakan-tunggakan inilah yang disebut para bankir tadi 
sebagai `cari masalah'.

Artikel selengkapnya bisa disimak di majalah Inilah REVIEW edisi ke-24 yang 
terbit Senin, 13 Februari 2012. (*)

Kirim email ke