Refl:  Komunal komunitas adat Jawa melemah disebabkan karena masalahnya seperti 
Adam dan Hawa di taman firdaus yang ditipu oleh ular untuk makan buah beracun. 
Komunitas Jawa melupakan bahwa ada segala macam buah seperti duku, durian, 
kecapi, nanas, jeruk, berbagai macam pisang etc yang sangat berguna untuk 
kesehatan jasmaniah dan ketabahan rohaniah. Mau dicekokin dengan korma. Monoton 
memakan satu jenis saja mempunyai segi negatif bagi keshetan jasmaniah dan 
rohaniah.  Bukan itu saja malah pakain pun diganti dengan baju polos tutup 
tumit kaki, orang laki tidak mau pakai belangkong tapi sorban atau kopiah 
putih, wanita tinggalkan pakaian tradisional kain kebaya ketat  melekat  badan 
dan berlengang gesit. Dganti pakain gendrwo, ikut aturan gurun pasir sekalipun 
tidak ada  angin debu pasir dan  tidak susah air untuk mandi. Suara gamelang 
yang menenangkan jiwa raga mulai dibilang itu bunyi-bunyian iblis.. Jadi tentu 
saja adat Jawa untuk gotong royong, holopiskuntul baris melemah-hilang ditelan 
politik pembodohan penguasa..


http://www.sinarharapan.co.id/content/read/solidaritas-komunal-komunitas-adat-jawa-melemah/

5.02.2012 12:05

Solidaritas Komunal Komunitas Adat Jawa Melemah
Penulis : Retno Manuhoro   

 (foto:dok/ist)
SEMARANG – Munculnya kasus yang terjadi di tanah Dayak dalam menyikapi pengaruh 
dari luar akhir-akhir ini menjadi bukti bahwa ikatan adat di tempat itu masih 
dipertahankan. 

Ini pun telah menjadi kekuatan untuk menjaga kebijakan daerah. Meskipun 
demikian, kondisi kesadaran komunal yang kuat itu tidak seluruhnya ditemukan 
pada masyarakat adat yang lain, seperti masyarakat adat yang hidup di Jawa 
Tengah.

Sosiolog dari Universitas Soegijapranata, Hermawan Pancasiwi, menilai, 
akhir-akhir ini kesadaran komunal masyarakat melemah karena tekanan kebutuhan 
hidup keseharian dan kepadatan populasi penduduk. Hal ini menyebabkan kepadatan 
mental (mental density) yang tinggi. Kondisi ini dinilai berbahaya bagi 
kepekaan sosial yang semakin melemah. 

”Dalam hidup keseharian, masyarakat sering hidup dalam ketergesaan, sehingga 
membuat mereka tidak lagi peduli dengan sesamanya,” kata Hermawan.

Hermawan memberi contoh kasus pro-kontra pembangunan pabrik semen yang 
menyangkut kelangsungan hidup kaum Samin di daerah Sukolilo, Pati, yang 
seolah-olah juga tidak menjadi persoalan serius karena kesadaran sosial yang 
menurun. 

”Untuk mengatasi kesadaran solidaritas komunal yang menurun itu, seharusnya 
pemerintah membuat kebijakan yang pro rakyat. Selain itu, media massa juga 
tidak terus-menerus memprovokasi masyarakat lewat iklan-iklan yang kapitalis,” 
ujarnya.

Sementara itu, menghadapi tantangan dan pengaruh yang datang bukan dari 
kebudayaan asli Jawa, Hermawan menilai masyarakat Jawa pada dasarnya adalah 
sebuah komunitas asertif yang menghargai keberagaman. 

Namun, jika sikap akomodatif sebagai modalitas utamanya disalahgunakan kalangan 
tertentu, orang Jawa akan membentuk sebuah sistem perlawanan tersendiri yang 
dilakukan dengan simpatik.

Hal senada juga diungkapkan Sucipto Hadi Purnomo, pegiat sastra Jawa sekaligus 
dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang. Ia 
menyatakan, kunci utama kehidupan masyarakat adat Jawa adalah sikap tepa 
selira, yang merupakan pengejawantahan dari hormat dan rukun. Kedua nilai itu 
adalah nilai dasar masyarakat Jawa.

”Sulit dimungkiri bahwa memang ada kelompok tertentu yang intoleran terhadap 
kehidupan berkebudayaan Jawa. Apalagi belakangan ini ada juga yang mengaduknya 
dengan kepentingan agama. Namun jika itu terjadi, yang bersangkutan tentu akan 
ngunduh wohing pakarti atau menuai apa yang telah dikerjakannya sendiri,” kata 
Sucipto. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke