Refl: NKRI ini harus segera dibikin seperti India pada tahun 1947,  agar dengan 
begitu masing-masing bisa pilih tempat tinggal dan kemajuan kehidupan memada  
sebagai manusia beradab  bisa diciptakan kepada masyarakat masing-masing dalam 
susana aman dan damai, dari pada terus-terus hidup dengan koyokan harga mati 
yang berarti maut merongrong kehidupan dengan pembodohan dan kemiskinan yang 
dijalankan oleh rezim berkuasa.  


http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/02/18/ArticleHtmls/Masjid-Ahmadiyah-di-Cianjur-Dirusak-Massa-18022012005015.shtml?Mode=0


Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dirusak Massa 
CIANJUR 

            
     
             
     
                 
            Masjid Nurhidayah milik jemaah Ahmadiyah di kampung Cisaat, Desa 
Cipeuyeum, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dirusak sekitar 200 orang kemarin. 
Diduga, perusak kesal karena masjid masih digunakan untuk aktivitas jemaah 
Ahmadiyah meski sudah ada kesepakatan untuk menghentikan segala aktivitas. 
            Hasan, 63 tahun, petugas penunggu masjid, mengatakan aksi perusakan 
terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. 

            Massa meruntuhkan dinding bagian belakang masjid. 

            Meski tak ada korban, bangunan masjid rusak berat. 

            Hampir seluruh genting hancur dilempari batu. Kacakaca jendela dan 
pintu pecah. 

            Hasan memilih lari bersama cucunya begitu mengetahui ada ratusan 
orang merusak masjid. 

            “Kalau saya terus berada di sana, ada kemungkinan diamuk massa. 
Jadi, saya memilih kabur saja,” katanya. 

            Masjid ini pernah diserbu massa pada Maret tahun lalu. Akibatnya, 
bangunan rusak. Penyerbu juga membakar kitab dan buku Ahmadiyah. 

            Kepala Kepolisian Resor Cianjur Ajun Komisaris Besar Agus Tri 
Heriyanto mengaku baru akan mendatangi masjid untuk mengingatkan agar masjid 
tidak digunakan untuk kegiatan Ahmadiyah. Namun masjid sudah hancur dirusak 
massa. 

            “Selain bersilaturahmi, kami mensosialisasi kembali SKB (Surat 
Keputusan Bersama) Tiga Menteri,” ujar Agus di Cianjur kemarin. “Kami masih 
memintai keterangan saksi-saksi.” Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan 
Reformasi Islam (Garis) Chep Hermawan membantah organisasinya dan Front Pembela 
Islam (FPI) terlibat dalam aksi perusakan. Ia khawatir, aksi itu dilakukan 
provokator yang sengaja mengambil momen saat berkembang wacana pembubaran FPI. 

            “Kami menyesal dan kecolongan,” kata dia di sela aksi unjuk rasa 
penolakan pembubaran FPI di Bandung kemarin. ”Ada yang mencuri situasi, ada 
yang mengambil momen.” Menurut dia, di daerah itu sedikitnya ada tiga keluarga 
pendatang yang menjadi penganut Ahmadiyah
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke