Dear Ulfha,

Perjuangan kawan-kawan sekarang belum tentu lebih ringan dari perjuangan tahun 
1945.

Tahun 45 musuhnya jelas, kolonialis Belanda, seluruh Rakyat melihatnya dengan 
mata sendiri.  Pemerintahnya orang-orang Belanda, dijaga oleh tentara dan 
polisi Belanda (dan serdadu-serdadu bayaran).

Sekarang Indonesia pada hakekatnya masih sebuah negeri kolonial, tepatnya 
neo-kolonial. Bedanya, sekarang kepentingan asing dikawal oleh Pemerintah 
Indonesia sendiri yang diasumsikan mewakili kepentingan Bangsa Indonesia. 
Perusahan-perusahaan asing dijaga oleh tentara dan polisi bangsa Indonesia 
sendiri yang berperan sebagai centeng. Tak mudah bagi orang awan memahaminya.



Berdikari Online telah memberikan kontribusi yang besar dalam usaha 
meningkatkan kesadaran masyarakat, dan jalan ”mengetok pintu rumah-rumah 
Rakyat” adalah jalan yang paling tepat menjawab situasi akibat 40 tahun di 
depolitisasi.



Salam juang!



//Tom Iljas



>From : ulfha Ilyas
Skickat: den 18 februari 2012 08:13
Ämne: Bls:



Pak Trikoyo dan semuanya,



Tulisan yang sering saya sebar di milis ini adalah editorial Berdikari Online. 
Sedangkan Berdikari Online merupakan media yang dibangun oleh banyak aktivis 
kiri, khususnya PRD. Saya sendiri anggota PRD. Saya dan partai saya hampir 
setiap hari turun ke bawah, mengorganisir massa, sambil memperkenalkan politik 
"Soekarno" dan Marxisme. Kami memang masih partai kecil: 300 kader dan ribuan 
anggota.



Kami bekerja dengan kekuatan kami sendiri. Kami bukan seperti LSM yang didanai 
oleh funding tertentu. Saya rasa, perjuangan di era sekarang tentu sangat 
berbeda dengan perjuangan di tahun 1945. Memang, perjuangan saat itu sangat 
berat, karena harus mengangkat senjata dan mengarahkan pada musuh. Sedangkan 
sekarang kami hanya mengetok pintu rumah2 rakyat. Akan tetapi, harus disadari 
pula bahwa pada tahun 1945 ada situasi revolusioner, sehingga propaganda untuk 
bangkit melawan agak relatif gampang. Sangat beda dnegan sekarang, dimana 
rakyat hampir 40-an tahun didepolitisasi. Neoliberalisme tidak hanya 
memiskinkan mereka, tetapi juga menghancurkan mental dan kesadaran ideologis 
mereka.



Tujuan Editorial ini sebetulnya luas. Untuk propaganda ke semua orang di dunia 
online. Bahkan, jika memungkinkan, dicetak oleh aktivis2 lain di berbagai 
daerah. tentu saja, propaganda media online hanya satu aspek dari perjuangan 
kami.



Itu saja. terima kasih. Kami banyak belajar dari generasi terdahulu!



Salam merdeka!


Kirim email ke