Catatan Moderator :

Tulisan ini telah mengalami proses pengeditan - dengan menghilangkan alamat2 
email CC dan BCC yang banyak. Tidak ada penghilangan / pengeditan terhadap 
materi tulisan. Pengeditan tersebut sekedar ntuk mempermudah pembaca milis dan 
Blog semata. Tulisan ini diloloskan karena materi kontennya menarik untuk 
dibaca.
Demikian.

FJ
----------------------------------

Saya tidak ingin memusuhi PRD. Hanya kasihan. Tapi karena PRD menyebut-nyebut 
Marxisme, saya merasa setiap orang terutama kaum Marxis berhak memberikan 
pendapat. Apa yang sedang ditempuh oleh PRD sekarang, tidak banyak bedanya 
dengan apa yang pernah ditempuh oleh PKI 51/65: jalan damai, bekerja legal, 
ikut Pemilu( katanya sesudah Pemilu 2014). Bedanya, PKI pada masanya adalah 
"Partai Besar" sedangkan PRD sekarang cuma sebuah Partai kecil dan bahkan 
sangat kecil(meskipun selalu dilihat oleh musuh dengan kaca pembesar 10x).
Apapun yang sedang dilakukan oleh PRD sekarang yang tampaknya memang 
revolusioner dan juga tampak sesuai dengan Marxisme namun PRD harus menjawab 
pertanyaan taktis dan strategis: Apakah PRD bermaksud merebut kekuasaan ke 
tangan rakyat dan membangun kekuasaan Rakyat?. Bagaimana cara PRD merebut 
kekuasaan negara: apakah dengan jalan damai (Parlemen) atau dengan jalan 
revolusi kekerasan?
Dalam menjawab pertanyaan pertama, PRD tidak boleh berbohong kepada rakyat dan 
harus menjawabnya dengan jelas: MEREBUT KEKUASAAN ATAU HANYA INGIN TURUT DALAM 
KEKUASAAN PEMERINTAHAN BORJUIS KAPITALIS (NEOLIBERALISME).
Pertanyaan kedua, setengahnya sudah otomatis terjawab: dari luar jelas PRD 
menempuh jalan damai. Dari dalam, kita tidak tahu, mungkin PRD masih punya 
taktik tertentu. Namun di hadapan rakyat, PRD tidak boleh main kong kalikong 
jalan apa yang akan mereka tempuh: jalan damai sepenuhnya atau jalan revolusi 
kekerasan. Rakyat harus jelas dan tidak boleh ragu jalan yang mana yang akan 
ditempuh PRD.

Tapi bila kita mengikuti tindak tanduk PRD sekarang, sangatlah sulit bagi 
mereka untuk memberikan jawaban tegas kepada rakyat. PRD berjuang dalam 
kontradiksi ideologi dan politik yang bagaikan lingkaran setan: setengah 
Marxis, setengah sosial demokrat. Namun dalam tindakan, tidak ada yang 
sungguh-sungguh Marxis sedangkan inti sarinya adalah Sosial Demokrat (Sosdem) 
meskipun terselubung di sana sini.(atau mungkin sudah terang-terangan)
Tapi bahwa PRD pada hakekatnya mengikuti garis jalan damai PKI 51/65, bukan 
hanya patut diwaspadai dan dikontrol terus namun harus dicegah agar rakyat 
tidak dihanyutkan oleh PRD ke mala petaka seperti ketika peristiwa G30S. 
Malapetaka besar salah jalan yang dialami PKI 51/65  tidak boleh terulang dan 
sekarang juga  harus dicegah secara aktif. Mereka  dengan bangganya 
menceritakan kegiatan mereka "mendatangi dan mengetuk rumah rakyat, membagikan 
selebaran".......dsb,dsb,dsb .Apakah aksi-aksi mereka itu tidak diketahui oleh 
musuh? Kalau tidak, itu baik sekali, tapi kalau diketahui musuh karna tidak 
dilakukan secara rahasia itu adalah aksi kekanak-kanakan (kinder achtig) dan 
juga kekiri kirian seperti yang telah historis dilakukan PRD di masa-masa lalu. 
Pengalaman revolusi di Vietnam Selatan  mencatat bahwa untuk menghubungi  dan 
mendatangi rumah rakyat sebagai kegitan revolusioner , para kader harus 
menggali lubang perlindungan  rahasia di bawah tanah atau mengubur diri dalam 
pasir di siang hari di pantai-pantai untuk pada malam harinya mendatangi rumah 
rakyat untuk merekrut rakyat. Tentu saja situasi kongkrit di Indonesia adalah 
lain tapi prinsip rahasia adalah sama dan universil bila ingin merebut hati 
rakyat yang masih dikuasai musuh. Karena itu saya katakan -kasihan-. Cara-cara 
yang dilakukan PRD sekarang disamping membuang energi percuma tapi juga sangat 
berbahaya dan akan mecelakakan rakyat itu sendiri. Ada pepatah Nusantara yang 
sering saya ulang-ulangi dalam setiap kesempatan yang sesuai:

"TIKUS MELUPAKAN PERANGKAP, TAPI PERANGKAP TIDAK PERNAH MELUPAKAN TIKUS"

Perangkap yang paling besar dan paling berbahaya di abad ini adalah perangkap 
yang bernama "demokrasi Neoliberal". Sedangkan tikus yang paling rentan dan 
paling ketagihan umpan dalam perangkap"demokrasi Neoliberal" adalah tikus-tikus 
Oportunis kanan kiri PKI (Oporkaki) yang masih tersisa yang meninggalkan dan 
berlari dari ideologi Marxis dan melompat ke Partai-Partai Sosdem sambil 
meracuni generasi muda agar mengikuti garis jalan damai yang mengalirkan lautan 
darah dan melahirkan "pahlawan algojo "yang bernama suharto. Apakah PRD juga 
punya niat demikian?
ASAHAN.


----- Original Message -----
  From: ulfha Ilyas
  To:

  Bung Alexander Tjaniago,

  Ada baiknya setiap pendapat, apalagi tuduhan,  disertai dengan fakta dan 
pemahaman yang lengkap. Saya melihat pendapat anda sama sekali tidak memahami 
situasi di Indonesia, apalagi perkembangan gerakan kiri-nya. Saya melihat, anda 
cuma mendengar isu-isu yang sebar-luaskan oleh satu pihak (mungkin barisan yang 
sakit hati dengan PRD, atau mungkin kelompok anti-PRD).

  Baiklah, saya akan menjelaskan dengan singkat. PRD tidak pernah melebur 
bulat-bulat dalam PBR. Pada tahun 2009, Papernas (alat politik elektoral yang 
dibangun PRD dan sejumlah organisasi) sepakat membangun koalisi longgar dengan 
PBR untuk mengintervensi pemilu. Platform politik kersajama itu adalah 
anti-neoliberalisme. Pertimbangannya: Papernas menganggap perlu mengintervensi 
ruang demokrasi yang ada, khususnya pemilu, dalam kerangka memperluas sentimen 
anti-neoliberalisme dan memperkuat gerakan rakyat. Akan tetapi, seperti anda 
ketahui, perjuangan Papernas untuk ikut pemilu terhambat oleh banyak hal: 
represi, intimidasi, dan hambatan subjektif (internal). Sehingga, karena sulit 
untuk lolos sendiri, maka Papernas memutuskan untuk menunggangi kendaraan 
politik lain untuk mengajukan kader-kadernya mengintervensi pemilu.

  Saya rasa, apa yang dilakukan Papernas (juga PRD, tentunya) tidaklah salah. 
Pasalnya, PRD tidak sedikitpun mengikatkan diri atau subordinat dengan PBR. PRD 
tetap memegang prinsip: kemandirian dalam menjalankan politik dan kebebasan 
beragitasi-propaganda. PRD juga menggunakan metode-metode kampanye yang berbeda 
dengan partai pada umumnya: mendatangi rumah rakyat, membagikan selebaran, 
melakukan long-march, melakukan rapat akbar, menggelar aksi massa, melakukan 
advokasi persoalan rakyat, dan lain-lain. Pendek kata, metode yang dipergunakan 
PRD dalam pemilu 2009 adalah tetap metode-metode gerakan.

  Saya rasa, taktik kerjasama dengan partai lain, termasuk partai non-marxist, 
tidak diharamkan sepanjang dalam tujuan yang jelas dan tidak menhilangkan 
kemandirian politik kita. Dan, untuk anda ketahui, paska pemilu 2009, kerjasama 
Papernas (PRD)-PBR berakhir.

  Akan tetapi, pengalaman intervensi pemilu 2009 memperkaya pengetahuan PRD: 
(1) muncul perdebatan positif di tubuh PRD terkait penerapan Marxisme dalam 
konteks Indonesia. (2) PRD menyadari bahwa perjuangan anti-neoliberal hanya 
mungkin jikalau seluruh massa rakyat berhasil diorganisasikan kembali dalam 
organisasi-organisasi perjuangan revolusioner. (3) perjuangan di era neolibeal 
harus dilancarkan di berbagai arena dan ruang-ruang yang lebih luas; tidak 
sekedar aksi di jalanan, tetapi juga ruang-ruang politik formal.

  Perdebatan soal marxisme dalam konteks Indonesia memuncak hingga kongres PRD 
tahun 2010 lalu. Di situ, salah satu keputusannya adalah PRD kembali kepada 
ajaran-ajaran Bung Karno. Sebab, dalam pandangan peserta kongres, Bung Karnolah 
yang pernah berusaha merumuskan "Marxisme dalam konteks Indonesia: 
Marhaenisme". PRD juga memutuskan untuk memperkuat pembangunan partai dengan 
merekrut rakyat Indonesia seluas-luasnya.

  Meski agak lambat, PRD sekarang mulai berkembang kembali. Struktur PRD sudah 
berdiri di 22 provinsi, lebih dari 50-an kota. PRD juga baru saja melancarkan 
aksi massa besar-besaran di Jakarta, pada 10 Desember 2011 lalu, dengan seruan 
pokok: Hentikan Neoliberalisme, Laksanakan Pasal 33 UUD 1945! Aksi serentak 
juga terjadi di berbagai daerah dengan tema yang sama. PRD juga aktif memimpin 
perjuangan rakyat dalam sejumlah kasus agraria, seperti di Bima (NTB), Pulau 
Padang (Riau), Sumsel, Jambi, Lampung, dan berbagai tempat lainnya.

  Menurut saya, ada baiknya pak Tjaniago belajar melihat fakta, sebelum 
memuntahkan tuduhan secara membabi-buta. Marxisme mengajarkan kita untuk selalu 
menggunakan fakta objektif, bukan prasangka. Ada baiknya juga orang-orang tua 
memberikan semangat dan dukungan kepada anak-anak muda yang sedang berjuang di 
Indonesia. Jangan cuma bisa mengutuk dan menyalahkan. Perjuangan kami sudah 
sangat berat. Jangan lagi cuma "dikutuki" oleh orang-orang tua yang kami anggap 
panutan ideologis kami.

  Merdeka!

  ________________________________

Dari: DR. Alexander Tjaniago
  Dikirim: Sabtu, 18 Februari 2012 19:55
  Judul: Bls: #sastra-pembebasan# Re:



  Bung Ulfha Ilyas yth.,

  Adalah suatu surprise pernyataan Bung, dikutip"Berdikari Online merupakan 
media yang dibangun oleh banyak aktivis kiri,
  khususnya PRD. Saya sendiri anggota PRD. Saya dan partai saya hampir
  setiap hari turun ke bawah, mengorganisir massa, sambil memperkenalkan
  politik "Soekarno" dan Marxisme. Kami memang masih partai kecil: 300
  kader dan ribuan anggota".
  Sepengetuhuan saya PRD-PAPERNAS telah melebur diri tahun 2008 dan masuk 
sepenuhnya kedalam PBR, Partai burjuis neoliberal.
  PBR,  adalah
  pecahan dari Partai Persatuan Pembangunan (partai yang menunjukan
  loyalitas tinggi terhadap rezim Orde Baru-Suharto) dan
  ketika PBR terbentuk, tidak ada prestasi PBR dalam memperjuangkan
  demokrasi, kesejahteraan rakyat, dan KEMANDIRIAN BANGSA. Bahkan, dalam
  pemilu 2004, PBR adalah salah satu Partai yang mendukung pasangan
  SBY-JK, sehingga SBY-JK bisa menjadi Presiden-Wakil Presiden.
  Selanjutnya PBR berjalan seirama dengan garis politik Pemerintahan SBY.

  Bagian lain, dalam research Barisan Merahputih, diperoleh Informasi, setiap 
penggantian Pimpinan dalam PRD atau Pimpinan PRD yang "lari" ke Partai lain 
(telah beberapa kali),selamanya ada unsur TEKANANAN dari luar, dari aparat 
negara, tetapi peleburan PRD-PAPERNAS dan masuk kedalam PBR dilakukan secara 
sukarela.Semenjak itu terjadi kegoncangan dalam barisan kekuatan demokratis, 
termasuk dalam gerakan Klas Buruh, dan tedensi, kehilangan kepercayaan atas 
diri sendiri.
  Vonis pengkhianatan terhadap PRD-PAPERNAS dengan likwidatorisme tsb. tentu 
tidak akan dilakukan; "semua bergerak, semua mengalir dan berobah". Naif?, 
kurang tepat, yang tepat yalah BODOH/TOLOL atau Pembodohan diri sendiri!

  Tidak ada dalam kehidupan politik, Partai atau Organisasi lain, walaupun 
hampir seirama dalam gerakan, akan mau bersatu, berkerjasama, dengan Parpol 
yang tidak mempunyai kekuatan apapun. Inilah suatu sebab kenapa dalam gerakan 
demokratis di R.I. semenjak hampir Empat dasawarsa ini tidak bisa dipersatukan 
dalam Front Persatuan Nasional, karena ketiadaan Partai Pelopor yang kuat.
  Tadinya, diharapkan PRD-PAPERNAS,seluruh energi, dengan cara masing-masing, 
dikerahkan kesana, supaya PRD-PAPERNAS mempunyai bobot dalam skala Nasional, 
dan apa yang terjadi? Kaum Likwidatorisme memegang Pimpinan dalam Partai dan 
PRD-PAPERNAS lebur, lenyap, tanpa bekas dan tak kedengaran lagi.Kaum Buruh, 
Kaum Miskin Kota, Kaum tani, gigit jari. Dan terpaksa kemudian, dimunculkan 
Barisan Merahputi, tetapi tidak mengambil fungsi Partai, fungsi PRD-PAPERNAS, 
Barisan Merahputih mempunyai fungsi yang lain, Barisan Merahputih bukan Partai, 
dan tidak berusaha mencari anggota yang banyak.

  Setelah hampir empat Tahun berlalu, muncul pernyataan Bung seperti yang saya 
kutip diatas, dan logis,  muncul pertanyan, mengenai "PRD" yang mana, yang Bung 
tulis? PRD yang baru? atau PRD - Dita sari Indah (PBR)?

  Dengan segala harapan terbaik,

  A.Tjaniago

  --- Pada Sab, 18/2/12, ulfha Ilyas >
  Tanggal: Sabtu, 18 Februari, 2012, 12:32 PM



  Pak Trikoyo dan semuanya,

  Tulisan yang sering saya sebar di milis ini adalah editorial Berdikari 
Online. Sedangkan Berdikari Online merupakan media yang dibangun oleh banyak 
aktivis kiri, khususnya PRD. Saya sendiri anggota PRD. Saya dan partai saya 
hampir setiap hari turun ke bawah, mengorganisir massa, sambil memperkenalkan 
politik "Soekarno" dan Marxisme. Kami memang masih partai kecil: 300 kader dan 
ribuan anggota.

  Kami bekerja dengan kekuatan kami sendiri. Kami bukan seperti LSM yang 
didanai oleh funding tertentu. Saya rasa, perjuangan di era sekarang tentu 
sangat berbeda dengan perjuangan di tahun 1945. Memang, perjuangan saat itu 
sangat berat, karena harus mengangkat senjata dan mengarahkan pada musuh. 
Sedangkan sekarang kami hanya mengetok pintu rumah2 rakyat. Akan tetapi, harus 
disadari pula bahwa pada tahun 1945 ada situasi revolusioner, sehingga 
propaganda untuk bangkit melawan agak relatif gampang. Sangat beda dnegan 
sekarang, dimana rakyat hampir 40-an tahun didepolitisasi. Neoliberalisme tidak 
hanya memiskinkan mereka, tetapi juga menghancurkan mental dan kesadaran 
ideologis mereka.

  Tujuan Editorial ini sebetulnya luas. Untuk propaganda ke semua orang di 
dunia online. Bahkan, jika memungkinkan, dicetak oleh aktivis2 lain di berbagai 
daerah. tentu saja, propaganda media online hanya satu aspek dari perjuangan 
kami.

  Itu saja. terima kasih. Kami banyak belajar dari generasi terdahulu!

  Salam merdeka!

  ________________________________

  Dari: ASAHAN

  Kepada:
  Dikirim: Jumat, 17 Februari 2012 23:17

  Judul: #sastra-pembebasan# Re:



  Saya kira tekanan untuk melakukan pendidikan politik bagi rakyat adalah 
tindakan yang paling realistis untuk masa sekarang ini. Tapi pendidikan politik 
untuk membangunkan kesedaran rakyat atas hak-hak mereka bukan selalu harus 
mengumbar teori yang tinggi-tinggi atau yang berbunyi gegap gempita. Rakyat 
butuh organisasi rakyat yang mengurusi dan mendukung kebutuhan mereka serta 
memperjuangkann cita-cita mereka: MENEGAKKAN KEKUSAAN RAKYAT. Untuk itu rakyat 
harus punya kekuatan organisasi politik yang akan membangun people power atas 
kesedaran politik yang tinggi dan bukan semata perjuangan ekonomis dan mengemis 
"demokrasi rakyat" pemberian penguasa borjuasi yang sekarang ini. Kaum 
intelektuil yang berpihak pada rakyat harus merevolusionerkan dirinya dan 
bersatu dengan rakyat dan bukan hanya menulis tulisan-tulisan politik yang 
mengambang di udara tak habis-habisnya tidak punya arti praktis bagi rakyat dan 
juga tanpa isi. Persis seperti yang disimpulkan

  Pak Tri Ramidjo: "Keadaan tidak akan berobah kalau cuma ngomong besar".

  asahan.

  ----- Original Message -----

  From: nursyahbani katjasungkana

  To: ASAHAN ; Trikoyo ; S. Utomo ; Boni Triyana ; Arif Harsana ; ulfha

  Cc:
  Sent: Thursday, February 16, 2012 4:30 PM

  Subject: Re:

  Yang penting barangkali sekarang ini adalah kita berbuat kecil tapi konkrit 
baik dalam memberikan bantuan langsung yg bisa dirasakan masyarakat atau 
individu korban penindasan atau melakukan pendidikan politik rakyat agar 
berkesadaran pilitik tinggi. tapi memang masing2 kan ada peranan masing sesuai 
dg profesi. Para intelektiual tentu tak mungkin diharapkan berbuat kayak saya 
yg aktivis bantuan hukum bagi perempuan atau korban HAM lain. Mereka hendaknya 
tdk bicara atas kepentingan diri sendiri atau kepentingan yg lain shg 
menyesatkan spt yg kita lihat di TV tiap hari smp kita saja gelagepen alias tak 
mencerahkan apalagi rakyat biasa.

  salam,

  nur

  ----------------------------------------------------------

  From: ASAHAN

  To: Trikoyo

  Sent: Thursday, 16 February 2012, 18:38

  Subject: Re:

  Y, pak Trikoyo. Berbuat besar sudah tak mampu melakukannya. Ngomong besar 
masih bisa supaya kedengaran banyak orang.

  Salam besar,

  asahan.

  ---- Original Message -----

  From: Trikoyo

  To: S. Utomo ; Boni Triyana ; Arif Harsana ; ulfha

  Cc: "nursyahbani katjasungkana"
  Sent: Thursday, February 16, 2012 6:34 AM

  Subject: Re:

  Keadaan tidak akan berubah kalau cuma ngomong besar. Apa pejuang zaman dulu 
cuma ngomong doang? Apa dibuang seperti bung aliarcham itu cuma ngomong?

  Salam.

  Tri Ramidjo.

  ---------------

  ----- Original Message -----

  From: S. Utomo

  To: Boni Triyana ; Arif Harsana ; ulfha

  Cc: "nursyahbani katjasungkana"
  Sent: Thursday, February 16, 2012 12:10 PM

  Sdr Bonie Triyana, Arif Harsana, Awind, Ulfa Yb,

  Tulisan-tulisan Anda sangat baik dan berguna untuk mendorong kaum intelektual 
Indonesia dewasa ini untuk mengubah orientasi dasar berpikirnya sesuai dengan 
keadaan Indonesia yang sangat amburadul.

  Keadaan ini tentu tidak boleh terus berlanjut, karena akan membawa Indonesia 
ke jalan buntu ke depan. Keadaan seperti inilah yang dikehendaki oleh penguasa 
“ortodok kanan” di negeri kita. Namun perombakan dan pengubahan ini perlu 
waktu, terutama bagaimana peran kaum intelektualnya. Peran yang telah dan 
sedang dimainkan kaum intelektual Indonesia dewasa ini, sesuai dengan arah dan 
jalan dan cara di perguruan di negeri kita ialah agar kaum intelektual mengabdi 
menjadi sekrup-sekrup mesin kapitalis global agar terus eksis dan terus 
mencengkram di negeri kita. Sementara sebagian besar produk perguruan di negeri 
kita masih berkutat seperti jaman kolonial pada awal abad silam yang mencetak 
tenaga mengabdi investasi capital di Indonesia dengan politik etisnya. Mereka 
bangga, merasa terhormat dan percaya diri tinggi apabila bisa mengabdi kaum 
kolonial dan yang menggunakan juga sistem feodal di tanah jajahan. Mereka 
sangat mengharap menjadi budak

  intelektualnya dan merasa rendah diri, tidak terhormat bila mengabdi rakyat 
dan berjuang melawan kekuasaan kolonial dengan sistemnya. Mereka tidak sadar, 
bahkan menjadi orang terhina di mata rakyat yang sudah sadar akan posisi rakyat 
di negeri jajahan.

  Inilah yang perlu digugat dan diajak perpikir bahwa negeri kita sejak 
kekuasaan beralih ke tangan Jendral Suharto hingga kini ini kembali menjadi 
tanah jajahan baru – neo kolonial, dengan sisten neo liberal yang menggunakan 
cara pandang pragmatisme dan kehidupan hedonisme.

  Di negeri neo kolonial dengan sistem kapitalis global, negeri colonial 
Indonesia dewasa ini masih tetap dipakai oleh negeri kapitalis global – AS 
sebagai:

  1.. tempat investasi kapitalnya untuk mengeruk bahan mentah seperti Freeport, 
New Mount,esson, kelapa sawit dan produk extrasit lainnya.

  2.. tempat menjual barang dagangan seperti cara E.H.M.nya Obama, dengan 
memakasa Indonesia membeli kapal terbang, alat perang seperti tank Leopal 
(rosokan) dan lain-lainnya.

  3.. pasar tenaga murah.

  4.. Serdadu dan polisi murah untuk alat menindas dan menguasai rakyat.

  5.. Last but not the least, alat kekuasaan pemerintah yang setia mengabdi 
mereka, seperti Jendral Suharto sampai kini Sby.

  Bila kita semua tidak meneruskan pikiran, semangat, dan tekat untuk “merdeka” 
dengan mengubah cara pandang dasar kita semua yang masih obscurantisme dengan 
mdh untuk menjadi senjata juang tidak mungkin kita bisa membawa perubahan ke 
tatanan yang baru yang membuka jalan ke hari esok bahagia bagi rakyat Indonesia 
. Realisasi dan prakteknya tidak semudah yang dibicarakan tetapi ini adalah 
keniscahyaan yang tak bisa dihindari bila kita semua menghendaki pembaruan.

  ----------------------------------------------------------





Kirim email ke