Refl: Beginilah keadaan penguasa Negara Kleptokrasi Republik Indonesia.

http://www.berdikarionline.com/editorial/20120228/gaya-hidup-pemimpin-negara-2.html

Gaya Hidup Pejabat Negara
Selasa, 28 Februari 2012 | 13:50 WIB   ·   

 
Anda tahu harga jam tangan Ruhut Sitompul? Katanya, politisi partai Demokrat 
ini menggunakan jam tangan berharga Rp 450 juta. Sedangkan Anis Matta, yang 
juga salah satu pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengenakan jam tangan 
seharga Rp 70 juta.

Itu baru harga jam tangan. Coba tengok harga mobil para pejabat negara itu. 
Konon, ada tiga anggota DPR yang punya mobil seharga Rp 7 milyar. Sementara 
harga mobil rata-rata pejabat menteri berkisar antara Rp 400 juta hingga 1,325 
miliar. Bagaimana dengan harga rumah dan kekayaan lainnya?

Nah, bagaimana dengan gaji Presiden? Berdasarkan peringkat gaji presiden 
tertinggi di dunia, gaji Presiden SBY menempati peringkat ke-16. Ia berada di 
atas peringkat gaji Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang memimpin negeri yang 
jauh lebih maju dan lebih makmur dibanding Indonesia.

Gaji Presiden SBY mencapai US$ 124.171 atau sekitar Rp 1,1 miliar per tahun. 
Gaji itu setara dengan 28 kali lipat dari pendapatan per kapita Indonesia. 
Bahkan, jika dikaitkan dengan PDB per-kapita masing-masing negara, gaji 
Presiden SBY tercatat di peringkat ketiga di dunia. Gaji Pesiden SBY mencapai 
28 kali PDB per-kapita.

Lebih tragis lagi, menurut Anis Matta, dirinya membeli arloji seharga Rp70 juta 
sebagai aksesoris untuk ‘memantaskan’ dirinya sebagai pejabat publik. Artinya, 
di mata Anis Matta, standar seorang pejabat publik harus punya, diantaranya, 
jam tangan paling murah Rp70 juta.

Apakah harus begitu? Bung Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia yang 
pertama, mengatakan, seorang pemimpin haruslah mengambil beban yang lebih 
berat; ia harus tahan sakit dan tahan terhadap cobaan; ia juga tidak boleh 
berubah hanya karena kesusahan hidup. “Keteguhan hati dan keteguhan iman adalah 
conditio sine qua non (syarat yang utama) untuk menjadi pemimpin,” kata Bung 
Hatta.

Dengan demikian, di mata Hatta, seorang pejabat negara atau pemimpin tidak 
boleh punya gaya hidup mewah. Sebab, gaya hidup mewah akan menuntut biaya hidup 
yang tiggi pula. Tentunya, hal itu akan memaksa si pejabat akan menggunakan 
segala macam cara untuk membiayai gaya-hidupnya itu.

Hatta sendiri adalah seorang sosok pemimpin sederhana. Ia melamar istrinya 
dengan sebuah mas kawin berupa buku karyanya sendiri. Ia juga harus menabung 
bertahun-tahun untuk memenuhi keinginannnya membeli sepatu. Konon, Hatta pernah 
negosiasi panjang dengan kusir bendi soal tariff. Akan tetapi, karena tidak 
terjadi titik temu, Hatta pun memilih jalan kaki.

Bung Karno juga begitu. Semasa hidupnya, sebagaian besar pakaian kebanggaan 
Bung Karno dijahit dan dipermak sendiri. Salah satu seragam kebesaran Bung 
Karno adalah pakaian bekas militer wanita Australia.

Orang bisa mengatakan jaman sudah berubah. Apakah bisa begitu? Tidak juga. 
Buktinya, Fidel Castro, Presiden Kuba, hanya menerima gaji sebesar 900 peso 
atau kira-kira 36$ per bulan. Atau, mari kita dengar cerita tentang 
Ahmadinejad. Konon, Presiden paling dibenci oleh AS ini tidak menerima gajinya. 
Ketika ia pertama kali menempati jabatan Presiden, ia memerintahkan menggulung 
karpet antik peninggalan Persia untuk dimuseumkan. Ia juga menolak kursi VIP di 
pesawat kepresidenan. Bahkan ia memilih tinggal di rumahnya yang sederhana.

Kenapa bisa berbeda begitu? Ini menyangkut beberapa hal. Pertama, ini adalah 
soal mendefenisikan kekuasaan. Di jaman Bung Karno dan Bung Hatta, kekuasaan 
dianggap sebagai sarana untuk memperjuangkan masyarakat adil dan makmur. 
Sedangkan sekarang, kekuasaan dijadikan sarana untuk memperkaya diri sendiri. 
Kedua, politisi di jaman Bung Karno dibimbing oleh sebuah ideologi atau 
keyakinan politik. Sedangkan pejabat publik sekarang berjalan tanpa ideologi 
dan tanpa keberpihakan kepada rakyat. Ketiga, sistim politik kita makin 
terkomoditifikasi dan jabatan politik tak ubahnya barang dagangan.


++++

http://nasional.kompas.com/read/2011/11/18/12285435/Hak.Asasi.Gaya.Hidup.Pejabat.Tak.Bisa.Diatur

Hak Asasi, Gaya Hidup Pejabat Tak Bisa Diatur
Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Jumat, 18 November 2011 | 12:28 WIB 

JAKARTA, KOMPAS.com — Gaya hidup pejabat negara dinilai tidak bisa diatur dalam 
suatu peraturan. Pasalnya, gaya hidup, salah satunya mempertontonkan kemewahan, 
merupakan hak asasi setiap warga.

Hal itu dikatakan Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Bahtiar Effendy, dan 
mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ketika Kepemimpinan Presiden Gus Dur, Mahadi 
Sinambela, dalam diskusi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bertema "Betulkah 
Pejabat Negara Hedonistis?", Jumat (18/11/2011).

"Kita enggak bisa melarang orang menikmati kekayaan. Kalau anggota DPR pakai 
mobil Bentley punya sendiri, kita enggak bisa melarang. Kita hanya bisa 
bertanya, apakah pantas sebagai pejabat publik," kata Bahtiar.

Mahadi mengatakan, pengaturan gaya hidup itu hanya terjadi ketika zaman 
kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada zaman reformasi saat ini, kata dia, setiap 
warga bebas mempertontonkan kekayaan hasil kerjanya. "Negara sosialis yang 
melarang-larang," kata dia.

Bahtiar mengatakan, solusi mengerem gaya hidup mewah dengan instruksi lisan 
pimpinan lembaga masing-masing. Cara lain dengan mempraktikkan gaya hidup 
sederhana agar diikuti pejabat lain. "Seperti Pak Dahlan Iskan (Menteri BUMN) 
dan Pak Jusuf Kalla (waktu menjabat Wakil Presiden)," ucap dia. 

++++

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/11/29/lveqbm-pejabat-negara-hedonispantas-saja-korupsi-tumbuh-subur

Pejabat Negara Hedonis...Pantas Saja Korupsi Tumbuh Subur!
Selasa, 29 November 2011 12:38 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG - Pakar komunikasi Universitas Diponegoro Semarang 
Turnomo Rahardjo menilai, gaya hidup hedonis yang ditunjukkan pejabat tinggi 
turut memicu dan melestarikan praktik korupsi di negeri ini. "Saat seseorang 
terbiasa dengan gaya hidup mewah, sulit untuk mengubah gaya hidupnya menjadi 
sederhana," katanya di Semarang, Selasa, menanggapi gaya hidup hedonis kalangan 
pejabat tinggi.

Ia mengakui, banyak pejabat negara yang berlatar belakang pengusaha sehingga 
sudah kaya secara ekonomi sebelum menduduki jabatan publik. Sikap hedonis ini 
masih terbawa setelah mereka menjadi pejabat.

Namun, kata dia, apabila latar belakang pejabat negara bukan dari kalangan 
ekonomi atas, maka yang terjadi ada kelabilan saat mereka memasuki dunia yang 
cenderung menunjukkan kemewahan hidup.

"Bagi mereka yang sebelumnya sudah kaya, susah juga mengubah kebiasaaannya 
meski sudah jadi pejabat, namun bagi mereka yang hidupnya semula biasa saja, 
budaya hedonis sanggup menyeret mereka untuk berlaku korup," katanya.

Karena itu, kata pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip 
itu, yang patut dicurigai sebenarnya adalah mereka yang tadinya biasa saja, 
namun setelah menjadi pejabat gaya hidupnya berubah drastis.

Ia mencontohkan, gaya hidup hedonis yang ditunjukkan bisa dilihat dari 
barang-barang yang dipakainya, seperti mobil, rumah, dan sebagainya yang 
kemungkinan justru melebihi gaji yang didapatnya.

Memang tidak semua pejabat bergaya hidup hedonis, kata dia, namun jika ada 
pejabat yang menunjukkan gaya hidup mewah sebenarnya menjadi potret kesenjangan 
sosial, sebab mereka menjadi panutan rakyat.

Menurut dia, cermin hidup mewah yang ditunjukkan pejabat sebenarnya tak hanya 
bisa dilihat di kalangan pusat, sebab pejabat-pejabat daerah pun melakukan hal 
serupa, menunjukkan gaya hidup bermewah-mewah.

"Yang jelas menampakkan kesenjangan sosial, saat sebagian besar masyarakat 
bekerja keras untuk bisa makan sehari-hari, sebagian lain justru berlomba-lomba 
menampilkan mobil jenis terbaru," katanya.

Turnomo mengharapkan kalangan pejabat bisa menahan diri untuk tidak bergaya 
hidup mewah, sebab mereka menjadi panutan rakyat dan menghindari kesan 
kesenjangan ekonomi yang sangat besar.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke