http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/03/18/ArticleHtmls/Cari-Angin-Satgas-Porno-18032012003012.shtml?Mode=0

            Cari Angin Satgas Porno  
            Putu Setia  
     

Tiga menteri, Jero Wacik, Muhaimin Iskandar, dan Helmy Faishal Zaini, berpose 
diapit gadis-gadis seksi yang mengenakan rok mini. Saya menduga, foto ini ingin 
menunjukkan contoh betapa rok mini memang tergolong porno di tengah-tengah para 
menteri yang berpakaian perlente. 
Tapi kenapa tiga menteri itu jadi model? Jero Wacik, Menteri ESDM, semestinya 
sedang sibuk menghitung berapa subsidi bahan bakar minyak yang bisa diberikan 
kepada rakyat. Muhaimin pasti tak kalah sibuk mengurusi aksi buruh yang minta 
upah minimum regional. Akan halnya Helmy Faishal, terus terang saya tak tahu 
apa saja kesibukan beliau sebagai Menteri Daerah Tertinggal—kementeriannya pun 
kadang saya lupa masih ada atau tidak.Yang jelas, pasti ketiganya sibuk. Kok 
sempatnya mengurusi rok mini? Setelah saya pelototi teks di bawah gambar 
itu—jika saya dituduh memelototi paha, itu pasti saya bantah—saya baru tahu, 
ketiga menteri ini lagi berposeria dengan cewek-cewek caddy golf. Saya pun 
menghela napas: astaga! “Menteri kurang kerjaan,”kata saya, agak keras. Saya 
buka-buka koran lagi, cari berita yang lebih bermanfaat. Presiden SBY membentuk 
Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi. Saya berpikir sejenak, 
Undang-Undang Pornografi itu diundangkan pada 26 November 2008, tak terdengar 
apakah selama ini pernah dilaksanakan atau tidak, kok tiba-tiba ada gugus tugas 
yang mirip satuan tugas alias satgas? “Presiden kurang kerjaan,”kata saya, tapi 
dalam hati, supaya tak ada yang mendengar—harap dimaklumi, saya harus sopan 
kepada Presiden. 

Negeri ini banyak masalah. Korupsi semakin subur, pembela koruptor semakin 
terang-benderang, demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak merebak di 
mana-mana, buruh unjuk rasa memblokade jalan. Belum lagi angin ribut dan tanah 
longsor di berbagai daerah. Kok yang dibentuk Satgas Pencegahan Pornografi? 
Apakah ada hubungannya dengan tiga menteri bersama caddy pemakai rok mini itu? 
Apakah kebetulan saja beritanya hampir bersamaan? Di negeri ini semua bisa 
dipelintir bolak-balik, sehingga banyak rumor politik yang bisa dimainkan. 
Satgas Pornografi ini hanya pengalihan isu, begitu sebuah teori. Isu yang 
dialihkan, misalnya, penolakan kenaikan harga Premium, atau isu pelemahan 
Komisi Pemberantasan Korupsi oleh wakil rakyat, atau isu kemelut Partai 
Demokrat. Kalau masih kurang, ditambah sendiri isunya. 

Saya siap dijebak dalam pengalihan isu ini dengan bersedia mengomentari Satgas 
Pornografi. Komentar saya, selain satgas ini mengada-ada, dia membangunkan 
macan tidur, padahal UU Pornografi itu juga bukan “macan”. Reaksi yang terjadi 
bukan hanya satgasnya yang ditolak, UU Pornografi yang sudah sah itu pun hendak 
diuji lagi ke Mahkamah Konstitusi. Sampai saat ini tak tuntas dialog yang 
terjadi empat tahun lalu, apa kriteria porno itu. Bisakah kepornoan 
diseragamkan untuk berbagai budaya, atau bisakah otak ngeres 
di-zona-tunggal-kan? Telanjang di depan umum dinyatakan porno, itu oke. Lukisan 
telanjang di depan umum, belum tentu, bergantung pada lukisan itu menyimbolkan 
apa. Simbol penghayatan Tuhan dalam keyakinan Hindu yang disebut Acintya, 
apakah juga porno karena telanjang? Kata “tetek”dan “puting”jorok diucapkan di 
depan umum, apalagi didengar anak-anak. Apakah perlu kata “tetek-bengek”dan 
“puting beliung”dihapus dari kamus supaya negeri ini tidak porno? Saya khawatir 
Satgas Porno hanya mengurusi hal-hal kecil, sementara masalah bangsa begitu 
besar. Presiden dan menterinya harus bekerja keras mengurusi hal-hal yang besar 
itu, rok mini biarlah diurus pedagang Tanah Abang. ● 

     



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke