Ref: SBY  curhat-curhat bagaikan Don Juan memadu mangsanya yang hendak 
disatgas-satgaskan. hehehe

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/03/21/307059/70/13/Curhat-Presiden


Curhat Presiden 
Rabu, 21 Maret 2012 00:01 WIB PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono mencurahkan isi 
hati alias curhat lagi. Yudhoyono, dalam silaturahim Partai Demokrat di 
kediaman pribadi di Cikeas, Bogor, Minggu (18/3) malam, curhat tentang adanya 
rencana kudeta terhadap dirinya. 

Yudhoyono juga berkeluh kesah soal adanya ancaman terhadap keselamatan diri dan 
keluarganya. Ancaman itu, menurut Yudhoyono, disampaikan melalui pesan singkat 
kepada Ibu Negara Kristiani Herawati Yudhoyono. 

Belum cukup juga, Yudhoyono pun menyebutkan dirinya diejek dan dihabisi pers 
dan lawan politiknya pada 2005. Ketika itu, menurut Yudohono, pers dan lawan 
politiknya menyebut dirinya peragu ketika mengambil keputusan menaikkan harga 
bahan bakar minyak. 

Soal ancaman kudeta, Yudhoyono semestinya tidak perlu curhat. Dia bisa langsung 
memerintahkan Badan Intelijen Negara menyelidikinya. Yudhoyono bisa 
memerintahkan aparat keamanan untuk menangkap dan mengambil langkah hukum 
terhadap pelaku. 

Terkait dengan ancaman keselamatan terhadap diri dan keluarga, Yudhoyono 
semestinya tak perlu takut. Toh, sebagai presiden, Yudhoyono dan keluarganya 
mendapat penjagaan dan pengawalan ekstra ketat 24 jam penuh dari Paspampres. 

Jika presiden yang mendapat fasilitas pengamanan masih merisaukan 
keselamatannya, bagaimana pula rakyat yang setiap hari keselamatannya terancam 
di angkutan umum atau di jalan raya? 

Yudhoyono semestinya juga tidak perlu menuding pers dan lawan politik 
menghujatnya sebagai presiden peragu. Sebagai negarawan, Yudhoyono semestinya 
memandangnya sebagai kritik. 

Pers dan lawan politik bukan menjelek-jelekkan. Mereka sekadar menyampaikan dan 
memberitakan hal jelek. Menjelek-jelekkan berbeda dengan memberitakan hal 
jelek. Menjelek-jelekkan artinya mencari-cari kesalahan atau kejelekan 
seseorang. Memberitakan hal yang jelek artinya menyampaikan sikap atau perilaku 
yang tidak pas dari seseorang. 

Oleh karena itu, Yudhoyono seharusnya memandang semua itu sebagai risiko 
jabatan. Semua presiden mengalami hal serupa. Presiden Soekarno, misalnya, 
bahkan tidak Cuma menghadapi ancaman, tetapi juga beberapa kali mengalami upaya 
pembunuhan. Toh, Bung Karno tidak perlu curhat soal itu. 

Sesungguhnya, bukan kali ini saja Presiden Yudhoyono curhat tentang adanya 
ancaman keselamatan terhadap dirinya. Curhat serupa pernah dilakukan Presiden 
dalam konferensi pers di halaman Istana Negara pada 17 Juli 2009. 

Lalu, pada 7 Agustus 2010, Yudhoyono juga curhat di depan peserta Sekolah Calon 
Tamtama Rindam III Siliwangi Jawa Barat. Karena terlampau sering mengungkapkan 
keluh kesahnya, jangan salahkan bila publik menilainya secara kritis. Publik 
antara lain menilai jangan-jangan Yudhoyono tengah memasang jurus politik belas 
kasihan. 

Artinya, Yudhoyono seolah ingin mengatakan dirinya terancam dan teraniaya agar 
publik berbelas kasih. Faktanya, alih-alih berbelas kasih, publik justru 
memandangnya secara negatif. 

Presiden juga manusia. Manusiawi belaka jika Presiden Yudhoyono ingin 
menumpahkan isi hatinya. Namun, curhat itu semestinya dilakukan terbatas, tidak 
diumbar ke publik


+++++


http://www.mediaindonesia.com/read/2012/03/20/306997/284/1/Curhat-SBY-Sebuah-Counter-Propaganda


Curhat SBY, Sebuah Counter Propaganda 
Penulis : Raja Eben
Selasa, 20 Maret 2012 22:20 WIBTERKAIT

  a.. Curhat SBY, Sebuah Counter Propaganda
  b.. Tidak Wajar SBY Berkeluh Kesah
  c.. SBY Curhat Dirinya dan Keluarga Diancam
JAKARTA--MICOM: Curhat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke masyarakat 
merupakan bentuk politik counter propaganda dalam menyikapi situasi yang 
berkembang, terutama begitu besarnya tekanan terhadap pemerintahan dan 
partainya. 

Menurut pengamat intelijen dari Universitas Indonesia Wawan Purwanto, begitu 
besar propaganda yang menyerang pemerintah dan partainya menyebabkan SBY harus 
melakukan perlawanan. Salah satunya melalui curhat di media. 

"Yang dilakukan SBY adalah ingin memberikan peringatan dini ke masyarakat dan 
merupakan bentuk counter propaganda terhadap pihak-pihak yang menyerangnya, 
seperti faktor kenaikan harga minyak yang dijadikan alat politik oleh pihak 
lain untuk menyerang pemerintah, tuduhan kasus-kasus korupsi yang menimpa 
partainya. Begitu besar tekanan yang diperoleh SBY melalui media, menyebabkan 
dia harus melawan itu melalui media juga," katanya Wawan di Jakarta, Selasa 
(20/3). 

Lanjutnya, counter propaganda dilakukan bertujuan untuk menjawab propaganda 
pihak tertentu yang berupaya menghasut masyarakat. Counter itu untuk 
menciptakan kondisi menjadi seimbang. Peringatan SBY ini agar pihak yang 
menyerangnya secara politik untuk berfikir ulang. 

"Tampak sekali semua pihak yang memaksa dan menekan pemerintahan menjadi 
berfikir ulang karena gerak-geriknya terbaca. Tidak peduli isi curhat mengenai 
keluarga dan dirinya sendiri, yang penting pesan itu tersampaikan dan 
masyarakat menjadi tahu dan peduli terhadap kondisi yang menimpanya," tandas 
Wawan. (*/OL-2) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke