Tarif Listrik
Pengusaha Minta Kenaikan TDL Ditunda
Hamzirwan | Agus Mulyadi

JAKARTA, KOMPAS.com  Para pengusaha meminta pemerintah menunda rencana 
menaikkan tarif dasar listrik, berbarengan dengan kenaikan harga Premium dan 
Solar bersubsidi.

Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tahun 2012, bisa menekan daya beli 
masyarakat dan daya saing industri nasional yang kian tergerus produk impor.

Sikap ini disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan 
Wanandi, bersama Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, 
Ketua Umum Asosiasi Industri Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, 
Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPA-K) Putri K 
Wardhani.

Selain itu, Sekretaris Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia 
(Gapmmi) Franky Sibarani, Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Elektronika 
(Gabel) Yeane Keet, dan Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel 
Indonesia (Aprindo) Satria Hamid Ahmadi di Gedung Apindo di Jakarta, Rabu 
(14/3/2012).

Pengusaha dari industri padat karya ini meminta kesediaan pemerintah 
mendengarkan suara mereka karena sedikitnya 20 persen biaya produksi bersumber 
dari listrik.

Meski belum diumumkan, rencana kenaikan harga Premium dan Solar bersubsidi 
sudah membuat ongkos logistik naik dan berdampak pada kenaikan harga-harga 
barang. Apabila pemerintah menaikkan TDL juga, harga barang akan naik 
sedikitnya 5 persen karena ongkos produksi juga naik minimal 10 persen.

Para pengusaha mengaku terkejut dan resah, dengan strategi pemerintah 
mengurangi subsidi listrik tersebut. Meski pemerintah berjanji mencicil 
kenaikan tahun ini, hal itu cukup menakutkan bagi pengusaha.

Mereka mengaku sudah mengalah demi keamanan investasi saat pemerintah 
memaksakan kenaikan upah minimum yang naik sampai 30 persen di Tangerang, 
Banten, dan 24,6 persen di Bekasi, Jawa Barat. Namun kali ini pemerintah 
kembali membuat kebijakan yang mengagetkan dunia usaha.

"Sebenarnya kami juga tidak senang dengan kenaikan harga BBM, tetapi ini adalah 
pilihan jelek dan terjelek daripada anggaran pemerintah habis untuk subsidi 
bukan membangun infrastruktur. Namun, kami tidak setuju kalau pemerintah juga 
menaikkan TDL tahun ini, karena bisa membuat industri-industri padat karya 
kolaps," ujar Sofjan.

Ade menambahkan, kenaikan TDL tahun 2012 ibarat lampu merah bagi industri 
garmen berskala kecil, yang juga berdampak ke hulu. Kapasitas produksi bakal 
dikurangi demi menekan kenaikan harga produk yang akhirnya bisa memicu 
pengurangan tenaga kerja.

Kondisi ini akan berdampak besar bagi industri jamu yang mempekerjakan 
sedikitnya 3 juta orang. Putri menegaskan, kenaikan TDL tahun 2012 akan membuat 
industri jamu berskala kecil bangkrut, dan industri menengah termarjinalkan.

"Industri yang bertahan harus menaikkan harga sehingga memicu inflasi. Kalau 
daya beli masyarakat turun, tentu penjualan kami juga terganggu. Kami menolak 
kenaikan TDL tahun ini," ujar Putri, yang juga Presiden Direktur Mustika Ratu.

"Menurut Yeane, kenaikan TDL akan mendongkrak harga komponen elektronik dan 
menekan daya saing. Daya penjualan juga pasti turun sehingga bisa memicu 
pemutusan hubungan kerja (PHK)," ujarnya.

Kenaikan harga BBM bersubsidi tidak berpengaruh langsung pada industri, yang 
telah lama menggunakan Solar nonsubsidi. Untuk bulan Maret, harga Solar 
industri dari Pertamina Rp 9.840 per liter, Shell Rp 9.150 per liter, dan 
Petronas Rp 9.500 per liter.

Franky menjelaskan, nasib industri makanan dan minuman nasional memang masih 
lebih baik dengan penguasaan pangsa pasar domestik yang cukup tinggi 
dibandingkan dengan produk impor. Namun, dia meminta pemerintah jangan membuat 
kebijakan yang kontraproduktif terhadap kondisi sekarang karena pasar ekspor 
tengah menciut dan daya beli domestik pun tertekan.

Visit
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com
http://iklanbarisbisnis.blogspot.com/
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
http://tionghoanet.blogspot.com
http://tionghoanets.blogspot.com

Kirim email ke